back to top
Selasa, Juni 9, 2026

Hegemoni Quraisy (1): Peran Penting Qushayi bin Kilab

Lihat Lainnya

Salman Akif Faylasuf
Salman Akif Faylasuf
Santri/Mahasiswa Fakultas Hukum Islam, Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Selama 150 tahun, ada perbedaan antara harapan dan kenyataan. Antara memasang benih di muka bumi dan menua tanaman dan buah-buahan. Antara memasang batu pertama dan kesempurnaan bangunan, dan antara memanfaatkan dan merawatnya. Ini adalah periode (masa) antara kematian Qushayi bin Kilab di Makkah. Pada tahun 480 M dan berdirinya pemerintah Quraisy di Yatsrib pada awal tahun 622 M di bawah pimpinan Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib.

Pendiri pertama adalah Qushayi bin Kilab

Dimulai dengan Qushayi, pendiri pertama dan peletak dasar pemerintahan Quraisy, anak dan cucunya, terutama Hasyim dan Abdullah Muthalib, membangun pemerintahan sampai berdiri seperti yang disaksikan oleh cucunya Muhammad SAW. Pemerintahan Quraisy berkembang dari kabilah (suku) yang lemah yang tinggal di lereng gunung, lereng bukit, dan sudut-sudut wilayah Makah.

Itu adalah lokasi saluran air yang paling besar. Di sekitar bangunan tersebut dibangun rumah-rumah. Dikunjungi oleh banyak kabilah terkenal dari Jazirah Arab. Penduduknya diberi predikat Ahl al-Haram, yang berarti penghuni yang mulia. Mereka dapat naik derajat karena hubungan tali perkawinan dengan mereka, bahkan menandingi sesepuh kabilah lainnya.

Seperti masyarakat di seluruh dunia yang merayakan kelahiran pemimpinnya dengan cerita yang menakjubkan, seperti masyarakat India yang merayakan kelahiran Buddha, Bani Israel yang merayakan Musa, dan Nasrani yang merayakan Isa, masyarakat Quraisy juga merayakan kelahiran Qushayi dengan cerita yang menggembirakan.

Cerita ini menarik dan sesuai dengan budaya Arab. Cucu Abdul Muthalib, yang bertanggung jawab untuk mempertahankan kekuasaan Quraisy, berulang kali mengatakan cerita-cerita tersebut.

Seorang sejarawan dari abad ke-10, Imam Muhammad bin Yusuf ash-Shalihi asy-Syami, menulis dalam “Subul al-Huda wa ar-Rasyad fi Sirah Khair al-Ibad” bahwa Ar-Rasyathi berpendapat bahwa ia dinamakan Qushayi karena ayahnya. Kilab bin Murrah mengawini Fatimah binti Sa’ad bin Sail; Sa’ad adalah orang pertama yang menghiasi pedangnya dengan emas dan perak, dan dia diberi julukan sama dengan nama gunung.

Qushayi dan Zahrah adalah dua anak yang dilahirkan oleh Fatimah. Kilab meninggal ketika Qushayi masih sangat muda. Ia masih dalam susuan, kata As-Suhaili. Ar-Rasyathi juga mengatakan bahwa ibu Qushayi, Fatimah, kemudian menikah dengan Rabi’ah bin Haram bin Dhobah. Dia membawa Qushayi. Dari perkawinannya dengan Rabi’ah, ia memiliki anak bernama Razah. Dibesarkan di rumah Rabi’ah, Qushayi kemudian diberi nama Qushayi, yang berarti “tempat yang jauh”, karena dia dibesarkan jauh dari kampung kaumnya.

Al-Khittabi mengatakan bahwa dia dinamakan Qushayi karena ia meninggalkan kaumnya di Syam dan pindah ke Makah, dan Ar-Rasyathi mengatakan bahwa Zaid dan keluarga Rabi’ah memiliki kebencian. Qushayi merasa asing dan tidak tahu siapa dirinya dan bapaknya selain Rabi’ah.

Baca Juga:  Pasca-Yogyakarta, MAARIF Institute Gelar Bulan Buya Syafii Maarif Lewat Pentas Kaba Kebangsaan di Padang Panjang

Setelah itu, Qushayi kembali ke rumahnya dan mengadu kepada ibunya. “Hai, anakku, kau dan bapakmu adalah orang yang paling mulia,” kata ibunya kepadanya. “Kau putera Kilab bin Murrah, kaummu di Makah dekat Bait al-Haram (Ka’bah).” Kemudian dia memutuskan untuk pergi, tetapi ibunya mengatakan kepadanya, “Lakukanlah sampai masuk bulan mulia (asy-Syahr al-Haram).” Kemudian dia berhaji.

Berangkat ke Makkah

Ia harus pergi ke Makkah ketika bulan-bulan mulia itu tiba. Dia melakukan haji dan tinggal di Makkah setelah tiba. Orang Quraisy mengakui kewibawaannya, martabatnya, dan kemuliaannya. Setelah itu, mereka menunjuknya sebagai pemimpin. Qushayi memiliki pikiran yang paling luas, bahasa yang paling fasih, pengalaman yang paling banyak, dan budi pekertinya yang paling baik.

Ia juga orang pertama yang kaya raya. Kekayaannya berasal dari seorang pedagang kulit kaya yang datang ke Makkah. Ketika orang itu meninggal, tanpa ahli waris, harta itu diberikan kepada Qushayi.

Setelah orang-orang Khaza’ah mengambil alih aliran air (kantong air) dan masyarakat Quraisy keluar dari sudut-sudut wilayah Makah, turun dari lereng gunung dan celah bukit, Qushayi meminang Hubba, puteri Halil bin Habasyah al-Khaza’i.

Qushayi menceritakan asal-usulnya. Halil menerima dan menikahkan anaknya dengan Qushayi setelah itu. Halil, seorang pemimpin masyarakat Makkah, tinggal di dekat Ka’bah, dan Qushayi juga tinggal di sana. Dia menikah dengan Hubba dan memiliki beberapa anak. Anak-anak Hubba menyebar ke seluruh dunia, dan Halil meninggal.

Meskipun Hubba pernah dimintai wilayah Makkah oleh Halil, ia menolak, berkata, “Aku tidak mampu membuka dan menutup pintunya.” Setelah itu, ia menyerahkannya kepada Abi Ghabsyam, yang juga dikenal sebagai al-Muhtarasy bin Halil, yang merupakan kepala suku Ghabsyam. Qushayi membeli wilayah Makkah dengan beberapa kantong minuman khamr dan bijian karena ia juga merasa kesulitan. Jadi, orang Arab menyebutnya, “Sekali bertepuk tangan, Abu Ghabsyam merugi.”

Orang-orang Khaza’ah menentang pengambilan kunci Ka’bah oleh Qushayi. Mereka akhirnya setuju untuk memerangi Qushayi dan keluarga Quraisy-nya, dan mengusir mereka dari wilayah Makkah.

Qushayi meminta saudaranya, Razah bin Rabi’ah, dan semua saudaranya untuk pergi ke Makkah. Jika berangkat melalui Mina, Bani Shuffah mengajak orang-orang untuk melakukan haji yang dimulai dari Arafah. Namun, tidak seorang pun berani mengikuti ajakan tersebut sebelum mereka melakukannya sendiri.

Memerangi kabilah Quraisy

Qushayi dan beberapa orang dari Quraisy, Kinanah, dan Qudha’ah mendatangi rombongan itu saat melempar aqabah saat Bani Shuffah melakukan haji pada tahun itu, sebagaimana biasanya. “Kita lebih mulia dibanding mereka semua, bunuhlah mereka,” kata Qushayi kepada mereka. Kelompok-kelompok ini melakukan pembunuhan satu sama lain. Banyak yang mati. Quraisy menang.

Baca Juga:  Al-Qur'an Berbudaya, Ikut Al-Qur'an atau Budaya?

Karena mereka tahu bahwa Quraisy mengetahuinya, orang-orang Khaza’ah dan Bani Bakar menjauhkan diri dari mereka. Quraisy memperlakukan mereka seperti Bani Shuffah, dan keduanya setuju untuk memerangi kabilah Quraisy.

Kemudian terjadi peperangan yang mengerikan. Terakhir, mereka meminta perdamaian. Ya’mar bin Auf bin Ka’ab, yang juga dikenal sebagai asy-Syaddakh (pemecah persoalan), diangkat sebagai hakim atau penengah di antara mereka.

Kemudian ia memutuskan bahwa Qushayi lebih pantas menempati wilayah di sekitar Ka’bah, dan orang-orang Khaza’ah bertanggung jawab atas urusan Makah. Jika orang Quraisy menumpahkan darah orang Khaza’ah, Yamar akan menangani masalahnya.

Jika orang Khaza’ah dan Bani Bakar menumpahkan darah orang-orang Quraisy dan Bani Kinanah, maka mereka diwajibkan membayar denda (diyat) dengan ketentuan 510 diyat, 30 tawanan, dan meninggalkan Qushayi dan Ka’bah. Ya’mar bin Auf disebut dengan asy-Syaddakh karena ia telah melerai sebuah pertikaian.

Menguasai Ka’bah

Setelah menguasai urusan Ka’bah dan wilayah Makah, Qushayi mengumpulkan kaumnya di wilayah Makah dan mengangkatnya sebagai raja. Sebelum ini, Makah tidak memiliki rumah. Orang Quraisy yang tinggal di sana hanya keluar ketika sangat membutuhkan. Sampai-sampai melarang hadirnya orang yang tidak bermoral. Selain itu, tidak ada rumah tua yang dimiliki penduduk lokal.

Ketika Qushayi, seorang yang terpandang di kalangan Arab, mengumpulkan masyarakat Quraisy, ia berkata: “Apakah dengan berkumpul di Tanah Haram ini, kalian hendak bermukim di sekitar Ka’bah (al-Bait)? Demi Tuhan, orang-orang Arab haram membunuh dan tidak berhak mengusir kalian semua dari sini. Sehingga kalian dapat bermukim dan menguasai Arab selamanya.” Mereka menjawab: “Kau adalah tuan kami; kami tunduk pada pendapatmu.”

Kemudian mereka menempati tanah di sekitar Ka’bah. Qushayi adalah orang pertama Bani Kilab bin Lu’ai yang menjadi penguasa yang ditaati oleh seluruh kaumnya. Segala hal tentang penjagaan, perairan, pertolongan, putusan dan pucuk pimpinan diserahkan kepadanya.

Qushayi memiliki seluruh kemulian orang Arab. Ia dijuluki Mujmi’u (orang yang mengumpulkan) karena jasanya dalam mengumpulkan kaumnya. Sebagaimana dalam syair: “Nenek moyangmu, Qushayi, dipanggil Mujmi’u karena atas izin Tuhan, ia telah berjasa dalam menyelamatkan kabilahnya dari cerai-berai.”

Qushayi membangun rumah untuk diskusi (Dar an-Nadwah). Nadwah menurut bahasa adalah tempat untuk berkumpul, karena mereka berkumpul di sana untuk bermusyawarah dan untuk kegiatan yang lain. Mereka tidak menikahkan anak-anak mereka dari keturunan Quraisy dan tidak membahas sebuah persoalan kecuali di rumah tersebut.

Baca Juga:  Hukum Cashback pada E-Commerce Menurut Islam

Demikian juga, mereka tidak melakukan kesepakatan untuk berperang, kecuali di rumah tersebut, jika mendapat persetujuan dari Qushayi atau sebagian anak turunnya. Menurut Abu Ubaidah, ketika Qushayi telah menguasai Makah, ia berkata: “Hai orang-orang Quraisy, kalian tetangga yang terdekat dengan Tuhan dan rumah-Nya. Sesungguhnya para haji akan datang ke Baitullah. Mereka adalah tamu-tamu Allah yang harus dihormati. Hormatilah mereka, berikan makan dan minum pada waktu haji sampai selesai. Andaikan hartaku lebih, maka akan aku berikan.”

Kemudian Qushayi mengharuskan kepada mereka untuk mengeluarkan pajak dua kali kepada Qushayi. Lalu mereka membuat berbagai jenis makanan dan minuman untuk diberikan kepada para haji di Mekah dan Arafah. Tradisi ini berlangsung sampai Islam datang.

Menurut as-Suhaili, Qushayi memberi minum kepada para haji dari sebuah telaga peninggalan Adam yang diambil dari sumur Maimun di luar Makah. Baladziri dari Maruf bin Kharbudz dan lainnya menceritakan bahwa kabilah Quraisy, sebelum mengambil air minum dari sebuah sumur hasil galian Lu’ai bin Ghalib yang berada di luar Makkah, beberapa telaga air dari kampung yang berada di lereng gunung, dan sebuah sumur yang digali oleh Murrah bin Ka’ab di Arafah.

Kemudian Qushayi sendiri menggali sumur yang diberi nama “al-Ajul”, sebuah sumur yang digali pertama kali oleh kabilah Quraisy di Makkah. Rajaz al-Haj berkata dalam puisinya: “Kita mengambil air minum dari sumur al-Ajul, kemudian pergi. Sesungguhnya Qushayi dapat dipercaya dan telah memenuhi memberikan kepuasan kepada manusia dan jayalah orang yang telah memberi minuman.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Qushayi membuat tungku api di Mudzdalifah untuk membela diri dari (serangan yang datang) dari Arafah. Qushayi membagi kekuasaan kepada anak-anaknya: Abdi Manaf diserahi bidang perairan dan diskusi (Dar an-Nadwah), yang memiliki kekayaan dan kenabian.

Abdi Dar diserahi bidang penjagaan dan panji peperangan; Abdul Izi diserahi bidang pertolongan dan penerimaan tamu di Mina. Namun, mereka tetap dalam satu komando yang dipegang oleh Qushayi.

Qushayi meninggal di Makkah. Kekuasaan setelahnya dipegang oleh anak turunnya. Ia dikubur dengan ditaburi bunga-bunga yang wangi, dan demikian pula orang-orang yang mati setelahnya. Berdasarkan teks tersebut, pembagian warisan kemuliaan yang dimiliki oleh pendiri dan penguasa pertama Quraisy di Makah dan proses-proses pendiriannya serta cara-cara yang ditempuh harus dijelaskan. Bersambung…

(Nashuha)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru