IBTimes.ID – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengajak warga Muhammadiyah untuk terus memperkuat amanah, menjaga kepercayaan publik, dan tampil sebagai teladan serta menjadi pemersatu bangsa.
Pesan tersebut disampaikan dalam Pengajian Hari Bermuhammadiyah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surakarta yang digelar di Balai Muhammadiyah, Surakarta, Ahad, 31 Mei 2026.
Dalam pengajian tersebut, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kemajuan bangsa, organisasi, dan pribadi sangat ditentukan oleh perubahan cara berpikir, mentalitas, serta kemauan untuk memperbaiki diri.
“Saya optimis ke depan, pendidikan kita akan lebih baik lagi. Tapi kuncinya adalah mindset kita harus berubah,” ujar Abdul Mu’ti.
Perubahan Dimulai dari Diri Sendiri
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa spirit perubahan sejalan dengan firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
Menurutnya, ayat tersebut merupakan formula Al-Qur’an yang sangat inspiratif. Manusia, masyarakat, dan bangsa tidak bisa dilepaskan dari konsekuensi atas apa yang mereka lakukan.
“Bangsa ini tidak akan maju jika mindset, pandangan hidup, dan mental kita tidak berubah,” tegasnya.
Ia kemudian membedakan dua cara berpikir yang banyak menentukan arah hidup seseorang, yaitu growth mindset dan fixed mindset. Growth mindset adalah pola pikir yang selalu ingin maju, belajar, dan memperbaiki keadaan. Sementara fixed mindset membuat seseorang mudah meratapi keadaan, merasa gagal adalah akhir segalanya, dan nyaman berada di zona lama.
Karena itu, ia mengajak warga Muhammadiyah untuk tidak menjadi pribadi yang pesimistis.
“Kalau kita ingin maju, jangan menjadi orang yang pesimistis, rendah diri, dan tidak percaya diri,” katanya.
Manajemen Nafs dan Pembentukan Kepribadian
Dalam ceramahnya, Abdul Mu’ti juga menjelaskan pentingnya memahami konsep nafs dalam Al-Qur’an. Menurutnya, kata nafs dan berbagai bentuk turunannya muncul sangat banyak dalam Al-Qur’an, dengan makna yang beragam.
Pertama, nafs dapat berarti jiwa atau kehidupan. Makna ini tercermin dalam ayat yang sering dibacakan dalam suasana takziah:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 185)
Kedua, nafs juga dapat berarti dorongan atau kecenderungan dalam diri manusia. Dorongan itu tidak selalu buruk, tetapi harus dikelola agar tidak menjerumuskan manusia kepada keburukan.
Al-Qur’an menyebut adanya nafs yang mendorong kepada keburukan:
إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي
“Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf [12]: 53)
Namun, Al-Qur’an juga menyebut jiwa yang tenang:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr [89]: 27-30)
Abdul Mu’ti menegaskan bahwa selain manajemen qalbu, manusia juga perlu memiliki manajemen nafsu. Sebab dari nafs itulah lahir keinginan, dorongan, kreativitas, dan perilaku manusia.
Ia juga mengutip ayat tentang ketenteraman hati melalui zikir kepada Allah:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28)
Menurutnya, pembentukan kepribadian yang baik lahir dari kemampuan manusia mengelola jiwa, dorongan, dan keinginannya secara benar.
Pendidikan sebagai Kunci Kemajuan Bangsa
Abdul Mu’ti juga menekankan bahwa pendidikan menjadi salah satu jalan utama bagi bangsa untuk bangkit. Ia mencontohkan bagaimana bangsa-bangsa yang berkemauan kuat dapat maju karena menempatkan pendidikan sebagai prioritas.
Dalam konteks itu, ia mengaitkan pentingnya semangat fastabiqul khairat, yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana firman Allah:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 148)
Ia juga mengingatkan pentingnya mengambil pelajaran dari sejarah bangsa-bangsa lain. Hal ini sejalan dengan perintah Al-Qur’an:
قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
“Katakanlah, berjalanlah di bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. Al-An’am [6]: 11)
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti juga menyampaikan ikhtiar Kemendikdasmen dalam memperbaiki layanan pendidikan, termasuk melalui program revitalisasi sekolah.
“Sekarang ikhtiar Kemendikdasmen adalah membangun sekolah-sekolah rusak melalui program revitalisasi. Banyak yang sudah kita perbaiki,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa masih ada kritik dari masyarakat. Kritik tersebut, menurutnya, tetap harus diterima sebagai bagian dari perbaikan.
“Kritik-kritik seperti itu juga masih saya terima demi kebaikan ke depannya,” katanya.
Muhammadiyah Hidup dan Bergerak di Banyak Daerah
Abdul Mu’ti juga menegaskan bahwa Muhammadiyah terus tumbuh dan bergerak di berbagai daerah. Termasuk Papua, Madura, NTB, dan wilayah lain di Indonesia.
Ia menceritakan pengalamannya saat melaksanakan salat Id di UNAMIN, salah satu universitas milik Muhammadiyah di Papua. Menurutnya, jamaah yang hadir sangat banyak. Hal itu menjadi bukti bahwa Muhammadiyah hidup serta aktif di Papua.
“Saya salat Id di UNAMIN, jamaahnya ribuan di sana. Jamaahnya membeludak, mahasiswanya lima ribu sekian,” ungkapnya.
Selain UNAMIN, ia juga menyebut Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong atau UNIMUDA yang memiliki ribuan mahasiswa. Menurutnya, berbagai aktivitas tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi yang keberadaannya tanpa makna.
“Muhammadiyah itu tidak wujuduhu ka ‘adamihi. Kehadirannya ada, terasa, dan memberi manfaat,” ujarnya.
Abdul Mu’ti menegaskan bahwa di mana pun Muhammadiyah berada, kehadirannya harus membawa manfaat bagi masyarakat. Prinsip ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad saw.:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Kepercayaan Publik sebagai Modal Sosial Muhammadiyah
Dalam ceramahnya, Abdul Mu’ti juga menyoroti besarnya kepercayaan publik kepada Muhammadiyah. Ia mencontohkan adanya wakaf bernilai besar yang diterima Muhammadiyah di Batam, berupa tanah, sekolah, dan aset lainnya.
“Di Batam, saya menerima wakaf 60 miliar berupa tanah, SMP, SMA. Dan semuanya diberikan kepada Muhammadiyah,” katanya.
Menurutnya, kepercayaan tersebut merupakan modal sosial dan modal moral yang sangat penting. Di tengah berbagai kasus yang mencoreng institusi keagamaan, Muhammadiyah harus terus menjaga amanah dan integritasnya.
“Di zaman orang tidak gampang percaya, orang-orang tetap percaya kepada Muhammadiyah, bahkan jumlahnya bermiliar-miliar. Itu adalah modal sosial dan moral untuk kita berbuat baik lagi,” ujarnya.
Ia juga mengutip ungkapan yang dinisbatkan kepada Muhammad Abduh:
الإِسْلَامُ مَحْجُوبٌ بِالْمُسْلِمِينَ
“Islam tertutup oleh perilaku kaum Muslimin.”
Menurut Abdul Mu’ti, ungkapan tersebut menjadi pengingat bahwa agama yang luhur dapat tertutupi oleh perilaku umatnya yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam. Karena itu, Muhammadiyah harus terus menjaga kepercayaan publik melalui amal nyata, amanah, dan keteladanan.
Anak Muda dan Rasionalitas Muhammadiyah
Abdul Mu’ti juga melihat adanya gejala positif di kalangan anak muda yang mulai tertarik kepada Muhammadiyah. Salah satu alasannya adalah karena Muhammadiyah dinilai rasional dalam memahami dan menjalankan agama.
Ia mencontohkan penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal atau KHGT yang dinilai mencerminkan pendekatan rasional Muhammadiyah dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Menurutnya, pendekatan keagamaan Muhammadiyah diterima oleh kalangan rasional karena menggunakan perangkat pemikiran yang kaya, yaitu bayani, burhani, dan irfani.
“Yang menjadi keyakinan Muhammadiyah diterima oleh kalangan rasional karena menggunakan pendekatan yang kompleks, yaitu bayani, burhani, dan irfani,” jelasnya.
Namun, ia mengingatkan agar warga Muhammadiyah tidak terjebak pada rasa percaya diri yang berlebihan. Muhammadiyah harus tetap rendah hati, berani mengevaluasi diri, dan terus memperbaiki bagian-bagian yang masih kurang.
“Kita di Muhammadiyah percaya diri boleh, tapi overconfidence jangan. Kita harus melihat mana sisi yang masih kurang dan terus meningkatkan sisi yang sudah bagus,” pesannya.
Abdul Mu’ti: Warga Muhammadiyah Harus Menjadi Pemersatu Bangsa
Pada bagian akhir ceramahnya, Abdul Mu’ti mengajak warga Muhammadiyah untuk tampil sebagai pemersatu bangsa. Menurutnya, akhir-akhir ini banyak pihak menebarkan narasi pesimistis terhadap masa depan Indonesia.
Ia juga menyoroti fenomena doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus menggulir layar dan mengonsumsi berita negatif. Menurutnya, fenomena ini dapat membuat masyarakat semakin mudah terjebak dalam kecemasan, pesimisme, dan prasangka buruk.
Selain itu, ia mengingatkan warga Muhammadiyah agar berhati-hati dalam bermedia sosial. Ada banyak akun atau grup yang tampak memuji Muhammadiyah, tetapi sebenarnya mengadu domba Muhammadiyah dengan kelompok lain.
Karena itu, warga Muhammadiyah harus menjaga akhlak digital, tidak mudah terpancing, dan tidak menjadikan kebaikan Muhammadiyah sebagai alat untuk merendahkan pihak lain.
“Maka saya mengajak warga Muhammadiyah untuk menjaga amanah dan menjadi teladan di mana pun kita berada,” tegasnya.
Abdul Mu’ti berharap Muhammadiyah terus menjadi organisasi yang mandiri, terpercaya, dan terdepan dalam menghadirkan solusi bagi umat serta bangsa.
“Semoga kita bisa menjadi organisasi mandiri dan terdepan dalam menuntaskan masalah sosial dan memberi solusi untuk umat,” tutupnya.
(FI)


