Ciri dari Ummatan Wasathan Itu Tidak KEPO! - IBTimes.ID
Akhlak

Ciri dari Ummatan Wasathan Itu Tidak KEPO!

4 Mins read

Makna KEPO

KEPO adalah bahasa gaul anak muda, singkatan dari Knowing Every Particular Object. Biasanya, kata ini ditujukan pada seseorang yang serba ingin tahu. Terkepoh adalah kata baku yang berarti terdesak (tergelincir), mundur atau menyisi. Rasa KEPO ini memunculkan sifat Baper (bawa-bawa perasaan).

Kata perasaan ini dalam bahasa Indonesia sudah berkonotasi negatif. Puncaknya kita akan berbuat yang berlebihan (asraf) dan jahiliyan (berbuat bodoh, hilang akal sehat), dan mengikuti hawa nafsu; akhirnya puncaknya kita jadi TERKEPOH (tergelincir, mundur atau tersisihkan).

Perlu diketahui bahwa tidak semua hal yang dikatakan orang itu benar. Bisa jadi ia memiliki maksud lain, ingin menjeruskan Anda. Seseorang bisa terkesan memiliki wawasan, pintar, dan berpenampilan menarik. Ia memiliki kelebihan, yaitu mudah meyakinkan orang lain dengan mimik wajah tertentu. Berhati-hatilah, jangan ingin sok tahu.

Umat Wasathan (umat pertengahan) Tidak KEPO

Ummatan Wasathan (QS. Albaqarah: 143) adalah umat yang bersikap, berpikiran, dan berperilaku moderasi, adil, dan proporsional antara kepentingan material dan spiritual, ketuhanan dan kemanusiaan, masa lalu dan masa depan, akal dan wahyu, individu dan kelompok, realisme dan idealisme, dan orientasi duniawi dan ukhrawi.

Ummatan Wasathan adalah umat yang berpikir tengah-tengah, tidak berlebihan (usraf) dan tidak kikir, tidak egois tetapi tidak terlalu sosialis, bukan radikalis tetapi juga tidak selalu kopromistis.

Umat Wasathan itu toleransi tetapi tidak sinkritis/mengakulturasi. Tidak menentang arus, namun juga tidak hanyut. Ia tetap istiqamah dalam berbuat, berani beda, tetap dalam jalur yang selamat bagi akhirat dan hidup dunianya.

Istilah anak muda sekarang, Umat Wasathan itu tidak kepo, tidak baper. Ia bijak dalam menyikapi setiap perubahan zaman. Mereka tetap waspada terhadap tipu daya Iblis dan Syetan. Mereka tahu, bahwa Iblis dan Syetan itu akhirnya akan menjerumuskan kita, puncaknya akan berlepas diri dari perbuatan manusia yang dibujuknya.

Baca Juga  Penyakit Wahn dan Kesalehan-Kesalehan Semu

Kisah Barshisha: KEPO-nya Ahli Ibadah

Seorang ulama besar, punya 60.000 santri, semua santrinya bisa terbang, sudah 220 tahun tidak pernah berbuat maksiat, ia bernama Barshisha. Keshalihannya ini menimbulkan decak kagum para Malaikat dan Iblis laknatullah di langit.

Melihat para malaikat sangat kagum dengan sosok tersebut, Allah SWT berfirman: “Apa yang kalian kagumkan darinya, sesungguhnya aku lebih mengerti dari apa yang kalian mengerti. Sesungguhnya Barshisha akan berbuat kufur dan masuk neraka untuk selama-lamanya sebab minum khamar”.

Iblis kemudian mendatangi Barshisha dengan menyamar sebagai pemuda ahli ibadah, berjubah putih terbaik dan juga memakai wewangian. Barshisha kemudian memanggil si pemuda tersebut seraya bertanya, “Siapa kamu dan ada keperluan apa ke sini?”.

Iblis kemudian menjawab, “Saya adalah seorang hamba Allah yang telah banyak melakukan dosa, Saya ingin beribadah karena dan untuk Allah”

 “Barangsiapa ingin beribadah kepada Allah, maka cukuplah Allah sebagai pemiliknya,” jawab Barshisha.

Iblis i’tikaf dan kemudian beribadah di masjid selama tiga hari tiga malam tanpa makan dan tidur. Melihat ibadahnya yang seperti itu, Barshisha takjub seraya berkata: ”Saya beribadah kepada Allah selama kurang lebih 220 tahun, namun tidak pernah mengerjakan seperti apa yang kamu kerjakan?”. Kemudian iblis berkata, “Aku telah berbuat dosa, oleh sebab itu aku terus mengingatnya agar rasa kantuk, lelah dan laparku hilang”.

***

Barshisha kepo, kemudian Barshisha bertanya, “Bagaimana caranya agar aku bisa seperti engkau?” Kemudian Iblis menjawab, “Pergi dan berbuat maksiatlah kepada Allah SWT,  kemudian cepat-cepat bertaubatlah, karena Allah Maha Pemberi Ampun.”

Barshisha lanjut bertanya, “Apa yang harus aku lakukan?” Iblis lalu menjawab dengan lantang, “Zina!” Barshisha berkata, “Itu perbuatan terlarang, aku tidak akan melakukan perbuatan keji itu.” Iblis lalu berkata lagi, “Bunuh orang mukmin!” Barshisha menjawab tegas, “Aku tidak akan melakukan itu!”

Baca Juga  Rasulullah Mencari Rezeki Sejak Kecil, Apa Hikmahnya?

Tak mau kalah, lalu Iblis berkata: “Minum khamar yang memabukkan, karena ini adalah yang paling ringan dan Allah akan mudah mengampunimu.” Barshisha kemudian berkata, “Minum-minuman memabukkan juga sebuah larangan.” Iblis kemudian berkata, “Minum sedikit saja dan jangan sampai engkau mabuk!”

Mulai luluh dengan bujuk rayu iblis, Barshisha lanjut bertanya, “Dimana aku akan melakukannya?” Iblis menjawab, “Pergilah ke desa ini!”

Barshisha kemudian pergi menuju tempat yang disebutkan oleh pemuda ahli ibadah. Di tempat tersebut, ia melihat sebuah warung yang menjual minuman keras. Barshisha kemudian memesan dan meneguk satu gelas. Sebelumnya belum pernah minum, ia langsung setengah mabuk, ketagihan dan minta tambah hingga mabuk parah.

Kemudian Bersisha melihat penjual warung bertubuh langsing dan cantik, ia tertarik lalu kemudian berbuat zina. Setelah berbuat zina, Barshisha membunuh perempuan tersebut karena takut apa yang diperbuatnya akan diketahui orang.

***

Dalam keadaan seperti itu, Iblis menyamar sebagai suami perempuan penjual minum-minuman keras itu dan melaporkan kejadian tersebut kepada hakim dan masyarakat. Barshisha pun akhirnya ditangkap beramai-ramai dan dihukum cambuk 80 kali karena minum khamar, 100 kali karena berzina, dan disalib sebab telah membunuh.

Dalam keadaan tersalib, Iblis muncul sebagai orang ahli ibadah yang pernah ditemuinya. Kemudian Iblis bertanya: “Bagaimana keadaanmu?”. Barshisha kemudian menjawab, “Barang siapa menuruti ajakan jelek, maka inilah balasannya”.

Iblis berkata, “Selama 220 tahun aku tersiksa karena ibadahmu, hingga aku menjerumuskanmu seperti ini. Namun apabila kamu ingin bebas, aku bisa membebaskanmu”. Barshisha berkata, “Bagaimana caranya? Iblis berkata, “Sujudlah kepadaku satu kali!” Barshisha berujar, “Aku tidak dapat melakukan itu dalam keadaan tersalib seperti ini”. Iblis berkata lagi, “Sujudlah dengan isyarah!”.

Baca Juga  Mana yang Lebih Penting, Ibadah atau Akhlak?

Barshisha pun sujud dengan isyarah dan kufur kepada Allah SWT serta meninggal dunia tanpa membawa keimanan. Na’udzubillahi min dzalik.

Hikmah yang Bisa Diambil

Kisah ini menjadi pembelajaran bagi kita, agar jangan sekali-kali berpikir untuk sengaja berbuat maksiat, dengan dalil nanti Allah SWT akan mengampuni dosa hamba-Nya. Sebab kita tidak tahu, apakah setelah melakukannya kita masih diberikan kesempatan bertaubat atau tidak. Allah bisa saja menghinakan pelaku maksiat selama masih hidup di dunia dan akhirat nanti.

Dari kisah Barshisha bisa kita pahami, bahwa Barshisha mempunyai status sukses yang sangat tinggi. Ia adalah Ustadz, Ulama, Para Normal, atau apa pun istilah yang tepat. Murid/santrinya sudah mencapai 60.000 orang, semuanya punya karamah bisa berjalan di udara (terbang).

Sangat menakjubkan, bahkan para malaikat di langit sudah memberi hormat yang setinggi-tingginya. Tapi karena dia Kepo terhadap santri baru yang belum tentu ikhlas ibadahnya. Keponya itu menjadikan dia baper dan dapat diperdaya santri baru yang ternyata dia adalah iblis.

Hidup ini biasa-biasa sajalah. Mungkin itu kata terakhir kita pagi ini sebagai simpulan.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita pada jalan yang lurus, selalu mendekatkan kita pada lingkungan yang baik dan orang-orang yang shalih. Aamiin ya rabbal alamiin.

Editor: Saleh

Avatar
61 posts

About author
Majelis Pustaka PCM Semin
Articles
Related posts
Akhlak

Kewajiban Menjaga Lisan dalam Islam

4 Mins read
Kewajiban Menjaga Lisan Menjaga lisan menjadi sebuah kewajiban bagi setiap umat Islam, sebab lisan bisa menjadi api yang membakar dan juga bisa…
Akhlak

Apa yang Harus dan Tidak Harus Diteladani dari Rasulullah Saw?

4 Mins read
Para pakar dan ahli sementara ini melihat kebutuhan manusia pada akhlak luhur merupakan keniscayaan dari kedudukan manusia sebagai makhluk sosial. Eksistensi nilai…
Akhlak

Meneladani Nabi Syu’aib: Sukses Tidaknya Dakwah, Tergantung Cara Penyampaiannya!

4 Mins read
Kita memiliki kecenderungan untuk mendengarkan orang yang kita suka dan akui. Walaupun akal dan logika yang sehat semestinya menjadi pijakan dalam memproses…

Tinggalkan Balasan