PUBLISHER

PT Litera Cahaya Bangsa Jalan Nanas 47B, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta

Kanal Moderasi Islam. Hubungi Kami.

IBTimes.ID – Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM mengadakan Website Seminar pada hari Senin (07/09) pukul 09.00 WIB bersama dengan Forum Ekonomi dan Bisnis melalui platform Zoom Meeting serta Live Streaming Youtube FEB UMM. Wakil Rektor II UMM, Dr. Nazaruddin Malik, S.E.,M.Si selaku pembicara menyampaikan materi terkait dengan penguatan SDM untuk memitigasi resiko kerugian Human Capital akibat pandemi Covid-19.

Menurut Pak Nazar sapaan akrab Dr. Nazaruddin Malik, pada awal terjadinya pandemi sektor yang paling terpukul adalah sektor pendidikan, termasuk pendidikan tinggi. Pada bulan Agustus 2019, topik RAPBN Indonesia untuk tahun 2020 tema fiskalnya terkait dengan akselerasi daya saing melalui inovasi dan penguatan kualitas SDM. Artinya dari sisi Agregat Demand dan Government diharapkan melalui Budget Spendingnya dengan melakukan stimulus fiskal yang memungkinkan sisi Agregat Supply khususnya dalam peningkatan kualitas dan produktivitas SDM.

Dari tahun 2017-2019, terjadi tren penurunan yang signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Tetapi pada masa pandemi ini ditahun 2020, tingkat kemiskinan kembali mengalami kenaikan.

Pada awal 2020 ketika Covid-19 mulai menyerang, Indonesia mengalami situasi yang tidak normal. Sehingga diharapkan pada awal tahun 2021, Indonesia mulai mengalami recovery yang sangat cepat. Kemudian pada tahun selanjutnya mulai pada situasi normal.

Penanganan Covid-19 yang menurun akan memberikan dampak 5 hingga 10 tahun mendatang. Yaitu kualitas SDM akan menurun. Oleh karena itu, aspek kesehatan, aspek perbaikan manajemen dan pengelolaan pendidikan, aspek kesehatan, serta aspek pengembangan ekonomi mikro dan makro secara keseluruhan menjadi satu paket untuk menghindari potensi Human Capital Loss.

“Human Capital Loss” dapat dikurangi apabila ada upaya mengatasi pandemi, terutama sisi kesehatan dan membangun kembali usaha-usaha agar meningkat kembali produktivitas.

Baca Juga  Perhelatan Pernikahan, Bagaimana Tata Caranya di Era New Normal?

Pemerintah telah menerapkan berbagai stimulus fiskal maupun moneter untuk mendorong  pemulihan ekonomi. Stimulus tersebut lebih ditekankan pada sisi Demand dan Supply, sehingga upaya peningkatan investasi melalui pengesahan RUU cipta kerja akan mendorong sisi Supply untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja dan SDM.

Oleh karena itu, pendidikan, kesehatan, dan upaya penyediaan lapangan kerja sangat ditentukan oleh keberhasilan efektivitas stimulus fiskal dan moneter yang dilakukan oleh pemerintah.

Upaya organisasi usaha ataupun publik seperti pendidikan di tingkat mikro harus melakukan upaya inovatif agar terjadi proses penguatan dan pengembangan SDM sehingga mampu beradaptasi dengan pandemi dan kembali bangkit untuk mencapai sebuah situasi yang lebih kompetitif.

Perubahan penting pasca Covid-19 adalah bagaimana tata kerja perusahaan dan pola perilaku masyarakat itu sangat memungkinkan Indonesia untuk mempercepat upaya, memperbaiki usaha maupun institusi publik di tingkat mikro sehingga mampu tumbuh bergerak kearah positif.

Ada beberapa langkah yang harus diterapkan. Pertama, Redefine. Yaitu bagaimana agar SDM perusahaan/organisasi mampu memahami dengan baik konteks krisis. Termasuk disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan. Perusahaan perlu melakukan intervensi di bidang penguatan SDM dengan tujuan mengubah mindset para pekerja dari normal menjadi new normal/mindset krisis.

Intinya adalah memahami resiko dan tantangan usaha yang sistematis untuk melakukan perbaikan kegiatan usaha. Kedua, Relook. Yaitu upaya untuk memperbaiki komunikasi. Karena kekuatan utama dari sebuah institusi adalah komunikasi yang baik. Sehingga tercipta sebuah situasi dimana krisis dirasakan bersama dan mencari potensi serta bekerja sama. Agar usaha yang dilakukan kembali menuju situasi pertumbuhan yang positif. Ketiga, Redesign. Terciptanya sebuah kolaborasi antar SDM di sebuah perusahaan.

Berdasarkan hal tersebut, sebuah institusi mampu menemukan format adaptasi produktivitas layanan terkait dengan new normal. Kebijakan stimulus yang disampaikan oleh Pak Nazar, merupakan respon ditingkat mikro. Sedangkan untuk sektor pendidikan, perusahaan dan bisnis belum bisa dilihat. Pak Nazar juga menyampaikan hal yang terkait dengan kekhawatiran penurunan kualitas SDM untuk 10 tahun mendatang. Hal ini merupakan persoalan besar seperti pelayanan kesehatan.

Baca Juga  Mengapa Fatwa Muhammadiyah Tidak Mengenal Zonasi?

Editor: Yusuf

Share Artikel

editor

Tinggalkan Balasan