Oleh: Azhar Syahida

Sisa-sisa letih masih terasa. Anak-anak itu tidur di atas tumpukan buku. Di sampingnya, laptop kecil masih menyala. Di sebelah laptop, seorang anak lain, terlihat tengah membolak-balikkan halaman buku yang cukup tebal. Matanya sayu, seperti kurang tidur. Tapi, anak itu tampak fokus dan serius.

Anak-anak lainnya, terlihat me-reviewbuku-buku yang beragam. Mereka membuat refleksi dan ulasan untuk menambah kuat ide esai masing-masing.

Itulah penggambaran kegiatan Forum Cendekiawan Merah (FCM) yang dilaksanakan pada Jumat-Selasa, 26-30 Juli 2019 di Malang, Jawa Timur. Sebuah pemandangan haru. Sungguh.

Di FCM, kami anak-anak muda Muhammadiyah berkumpul, berdiskusi, berbagi ide, dan mengkonstruksi pemikiran kolektif untuk Muhammadiyah di masa depan. FCM, hemat kami, adalah forum yang serius didesain bagi kaum muda Muhammadiyah untuk berdialog tentang pentingnya pembaharuan di Muhammadiyah, terkhusus bagi anak muda Muhammadiyah yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)—sayap organisasi Muhammadiyah untuk kalangan mahasiswa.

Tentang nama, ada hal menggelitik yang sepertinya perlu kami ceritakan, bahwa kata ‘merah’ dalam lema FCM rupanya menuai beragam komentar. Di Jogja misalnya, diksi ‘merah’ masih saja ditafsirkan negatif. Sungguh pun begitu, ada juga yang sekadar berkomentar dengan nada candaan. Terlepas dari konteks perdebatan nama, FCM adalah buah keresahan kaum muda Muhammadiyah, bisa disebut sebagai ‘gugatan’ atas dugaan stagnasi pemikiran yang tengah mendera Muhammadiyah.

Jika mulanya Muhammadiyah adalah organisasi progresif dengan berbagai pernak-pernik pemikirannya yang luar biasa hebat, maka sekarang, segelintir anak muda Muhammadiyah melawan anggapan tersebut. Muhammadiyah hanya dianggap melakukan rutinitas lama yang sampai sekarang disangka ‘berkemajuan’. Maka, inilah, barangkali yang disebut gerakan kebudayaan tanpa kebudayaan. Lebih dari dua dasawarsa yang lalu Kuntowijoyo menyebutkan tesis itu. Dan nyata, sekarang menghempas bangunan progresif di Muhammadiyah.

Tidak hanya untuk menggugat, FCM pun mengambil inisiasi untuk berdialog dengan lintasan sejarah pembaharuan di Muhammadiyah. Di sini kami menyadari, bahwa kami perlu mengerti dan memahami, bagaimana sejatinya warisan pemikiran dan gerakan Kiai Ahmad Dahlan yang senyatanya. Inilah yang melandasi kami untuk memilih “Pembaruan di Muhammadiyah” sebagai topik utama pembahasan selama kegiatan berlangsung.

Bedah Buku “Fresh Ijtihad”

Kami disuguhi pembuka kegiatan berupa dialog ilmiah, membedah buku terbaru Prof. Dr. M. Amin Abdullah, Fresh Ijtihad: Manhaj Pemikiran Keislaman Muhammadiyah di Era Disrupsi. Sebagai pembedah, hadir Prof. Dr. Imam Suprayogo, guru besar UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang dan Dr. Pradana Boy, Asisten Staf Khusus Presiden RI.

Pada intinya, dalam buku itu, jika kita renungkan bersama, Prof. M. Amin Abdullah tengah mempertanyakan, bagaimana nasib pembaruan di Muhammadiyah untuk seratus tahun ke depan? Tentu saja, ini adalah pertanyaan reflektif yang sungguh sulit dijawab. Lalu, dalam buku itu, beliau menampilkan beberapa metode dan pendekatan untuk, setidaknya, menjadi sarana pendorong laju pembaharuan abad kedua Muhammadiyah.

Saya, setelah membaca buku tersebut, justru ingin mengatakan, bahwa sebenarnya, dengan pertanyaan dan metode yang diutarakan tersebut, Prof. M. Amin Abdullah layak untuk disebut sebagai salah satu pelopor pemikiran ‘fresh’ bagi Muhammadiyah di abad kedua.

Selain itu, hadir juga sebagai pemateri lainnya, mas Mu’arif, peneliti sejarah di Muhammadiyah sekaligus Redaktur Suara Muhammadiyah; mas Hasnan Bachtiar, aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammdiyah; mas Fajar Riza Ul Haq, Staf Khusus Mendikbud RI, dan mas Piet Hizbullah Khaidir, Sekretaris STIQSI Sendangagung, Parican, Lamongan.

Semua pemateri menyampaikan, bahwa kegiatan kultural demikian, perlu digalakkan lagi di Muhammadiyah. Demikian penting, sebab, Muhammadiyah memang membutuhkan ceruk-ceruk baru sebagai wadah yang lebih fresh untuk menjaga suluh pembaruan di Muhammadiyah.

Kami pun begitu, sebagai kaum muda Muhammadiyah yang masih fresh—baru saja selesai S1 dan sebagian masih menempuh strata S1—merasa bertanggung jawab terhadap estafet pembaruan di Muhammadiyah. Peluang-peluang baru yang belum sempat diambil oleh Muhammadiyah, agaknya memang layak mendapat posisi untuk dielaborasi secara serius. Misalnya, wacana ekologi dan kedaulatan ekonomi.

Dalam pada ini, memang, anak-anak muda harus berkumpul di dalam grup yang sama. Tentu anggapan ini tidaklah berlebihan. Sebab, manusia-manusia kreatif acapkali benar-benar butuh lokus kultural yang tidak birokratis dan mengingat, sehingga mereka akan lebih mudah, nyaman, dan leluasa untuk berbagi ide, berdebat dan berkolaborasi.

FCM sebagai Wadah Ide Progresif

Nah, FCM ini, sebetulnya hadir juga dengan maksud begitu, yakni menyediakan wadah belajar dan berbagi ide progresif bagi kaum muda Muhammadiyah. Sekat-sekat literasi yang beragam, jadi melebur dan bercampur, sehingga ketimpangan pengetahuan dan wawasan, dengan mudah dan ringan diatasi.

Selain itu, kegiatan kultural yang begini, dengan leluasa dan jujur, meringankan anak-anak muda untuk berfikir dan berkreasi demi kemajuan persyarikatan. Tentu, yang lebih penting, forum semacam ini esensial sebagai upaya diseminasi ide.

Sehingga, tengara saya, semakin berjibun kelompok informal yang bersepakat untuk berkumpul, membangun jejaring dan saling melengkapi, bukan tidak mungkin, ‘leap quantum’ yang dibutuhkan Muhammadiyah dalam proses rembuk pembangunan bangsa akan lebih mudah diwujudkan.

Mari kita ambil contoh, misalnya, ada beberapa kawan di forum ini yang menulis tentang filantropisme Muhammadiyah yang fokus pada kaum difabel. Bagi saya, ini adalah ide brilian yang perlu diwadahi. Dan jangan dihalangi. Lain lagi, ada juga yang sangat serius membahas etika lingkungan, yakni bagaimana Muhammadiyah perlu mempelopori gerakan peduli lingkungan, sehingga di sini muncul pertanyaan, apakah amal usaha Muhammadiyah yang jumlahnya puluhan ribu itu sudah bersepakat untuk tidak merusak alam? Inilah ide, yang saya kira, tidak akan muncul di tataran birokratis Muhammadiyah. Dan, saya begitu yakin, hanya mencuat dalam agenda-agenda kultural Muhammadiyah.

Maka dari itu, saya melihat, antusiasme anak-anak muda Muhammadiyah ini, adalah bagian dari gelombang besar progresifitas di tubuh Muhammadiyah yang masih hidup dan tumbuh subur.

Cuman, perkaranya, bagaimana Muhammadiyah tetap memberikan ruang ekspresi kepada kaum muda ini, supaya ke depan, setelah mereka pergi berkelana, mencari jejak intelektualnya masing-masing di universitas-universitas hebat di dunia, Muhammadiyah akan memanen, dan tentu saja, akan dipimpin oleh mereka-mereka yang sekarang baru saja lulus S1 dan sebagian masih menempuh jejang strata S1 di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Tegas, harapannya, keberadaan kaum muda ini dijaga dan terus diberikan spirit untuk selalu menyemai pembaharuan di Muhammadiyah. Sebuah harapan yang optimis, tapi menjadi hampa jika tak mendapat jawaban dari ayahanda kami di Muhammadiyah. Tentu saja, kami berharap ini semua tidak menjadi hampa. Betapapun, kami tidak bisa membayangkan apa jadinya bila tak disambut baik?

*Penulis adalah Sekretaris Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan, IMM Malang Raya

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda