Perspektif

Dentuman Misterius dan Hal-hal yang Tidak Kita Tahu

3 Mins read

Semalam (11/4) sejumlah orang di sekitar Jabodetabek melaporkan suara dentuman misterius yang terdengar sejak pukul 01.30 dini hari, bahkan hingga pagi. Mereka yang tinggal di sekitar Jakarta Barat, Jakarta Selatan, sebagian Tangerang Selatan, Depok dan Bogor mendengar suara seperti dentuman itu berkali-kali, dengan frekuensi dan intensitas tertentu, seperti orang bermain drum. Atau memukul-mukul lantai.

Suara Dentuman

Sebagian orang yang melaporkan diri mendengar dentuman itu menyebutnya terdengar seperti meriam, cukup keras hingga membuat kaca rumah bergetar. Fajar Budiono, seperti diberitakan Kumparan, mendengar dentuman itu sekitar pukul 01.30 dini hari di sekitar Pondok Indah, Jakarta Selatan. Di berita yang lain, Aliyya, warga Sentul City, Bogor, masih mendengar dentuman pukul 07.30 pagi.

Menurut mereka yang mendengarnya, konon dentuman itu seperti terdengar dari bawah tanah. Saksi yang lain menyebutnya terdengar dari atas, seperti dari langit. Sejak pagi hari ini, media sosial digemparkan oleh laporan-laporan itu. Kata dentuman melesat ke nomor satu ‘trending topic’ tanah air di Twitter. Berbagai spekulasi tentang dari mana asal suara itu bermunculan. Tetapi tak ada satu pihak pun yang bisa memastikannya.

Apakah suara dentuman itu berhubungan dengan meletusnya anak gunung krakatau di Lampung yang terjadi di malam yang sama sekitar pukul 23.35? Mungkin saja. Tetapi otoritas resmi yang menangani kebencanaan gunung merapi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyangkalnya.

Kepala Bidang Gunung Api PVMG, Hendra Gunawan, menyebut kemungkinan suara itu berasal dari Gunung Anak Krakatau kecil sekali. Mengingat karakteristik Gunung Anak Krakatau tidak mengandung banyak gas. Katanya, “Saat ini masih terjadi erupsi, ini tipikal erupsi dengan kondisi gas yang relatif sedikit. Sehingga kalau dikaitkan dengan kejadian dentuman di Jakarta [dan sekitarnya], ini sangat sulit dibayangkan.”

Masalah lainnya, suara-suara dentuman itu tidak terdengar di sekitar Gunung Anak Krakatau, tidak ada warga yang melaporkan mendengar suara-suara itu, termasuk di pos pemantauan terdekat di Pantai Carica. Lantas, dari mana suara dentuman itu berasal

Baca Juga  Di Era Milenial, Mahasiswa S1 Bisa Kalahkan Dosen S3

Riwayat Suara Misterius

Dalam 24 jam terakhir, empat gunung api di sekitar Sumatera dan Jawa dilaporkan mengalami peningkatan aktivitas. Gunung Kerinci, Gunung Anak Krakatau, Gunung Merapi, dan Gunung Semeru.

Bahkan jika kita melihat gambaran lebih besar dari situasi aneka Gunung Merapi di seluruh nusantara, sebagaimana dilaporkan MAGMA Indonesia milik Kementerian ESDM, aktivitas-aktivitas gunung berapi di daerah lainnya pun harus terus dipantau. Mengingat Nusantara berada di sabuk gunung api, ring of fire.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Dari mana asal suara dentuman-dentuman itu? Mengapa semua rangkaian kejadian ini membuat kengerian dan kecemasan tersendiri? Di tengah kekhawatiran kita tentang pandemi virus Corona, ditambah semua hal ini, rasanya memang kita harus makin banyak mengaca diri dan berefleksi.

Harus dengan cara apalagi kita diberitahu bahwa terlalu banyak hal-hal yang sebenarnya tidak kita tahu. Tidak kita mengerti. Tetapi kita masih saja merasa sombong dan jumawa.

Jika kita membaca aneka data, ternyata suara-suara misterius seperti kita dengar semalam di sekitar Jabodetabek bukan hal pertama di dunia. Dilaporkan dalam beberapa tahun terakhir setidaknya lebih dari lima kejadian serupa muncul di berbagai belahan dunia dan belum terpecahkan oleh para ilmuwan.

Sekitar tahun 2016, di suburb Portland, Amerika Serikat, sejumlah warga melaporkan mendengar suara mirip terompet atau decitan yang sangat keras. Suara itu bahkan terdengar juga di berbagai negara dan kota dunia lainnya, termasuk di Kanada dan Finlandia. Sebagian ilmuwan menyebut bahwa mungkin suara itu berasal dari gelombang elektromagnetik bumi, atau efek lain dari gas, meski mereka juga sulit membuktikannya.

Banyak yang Tidak Kita Tahu

Apa yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya semalam, lebih mirip dengan kejadian di Danau Senca di New York dan sepanjang North Carolina, Amerika Serikat sekitar tahun 2012. Kejadian yang sering disebut ‘The Seneca Gun’ itu dilaporkan memperdengarkan suara dentuman-dentuman seperti meriam.

Baca Juga  Indonesia itu Humanisme Religius atau Humanisme Sekuler?

Suara yang disebut warga sekitar sebagai ‘ghostly detonations’ atau ledakan hantu. Sebagian ilmuwan menyebut sumber suara itu mungkin disebabkan gempa bumi, atau meteor jatuh, atau latihan militer. Tetapi hingga saat ini tak satupun pembuktian ilmiah yang mampu memecahkannya.

Sesombong apapun kita merasa mengetahui segala sesuatu, seangkuh apapun manusia berfikir bisa menjawab semua persoalan melalui sains dan teknologi, ternyata di dunia ini masih banyak hal-hal yang tak bisa kita cerna dengan akal, tak bisa kita buktikan dengan sains. Kejadian-kejadian aneh seperti ‘the Loneliest Whale’, ‘The Buzzer’, ‘The Hum’, dan ‘The Singing Sand’, hingga saat ini masih menjadi teka-teki dunia yang entah apa penjelasannya.

Kita bisa berspekulasi apapun tentang apa di balik hal-hal misterius itu. Termasuk mencari penjelasan-penjelasan ilmiah yang mungkin bisa membuat kita sedikit lega. Tetapi, ada satu hal yang tak bisa kita tolak: Terlalu banyak yang tidak kita tahu, terlalu kecil kita sebagai manusia untuk memasukan keagungan dan kebesaran-kebesaran alam semesta ke dalam kepala kita.

***

Bahkan COVID-19 yang merasa bisa kita hadapi pun kian hari kian jadi misteri, hampir membuat umat manusia putus asa menghadapi segala kemalangan yang ditimbulkannya?

Mengapa kita semua masih ragu, mengapa kita masih bertahan menjadi orang-orang yang menyangkal bahwa memang ada hal-hal yang ‘gaib’, yang tak kasat mata dan tak bisa kita cerna dengan akal kita yang terlalu dangkal, sementara kita hanya dituntut untuk percaya dan kembali pada satu petunjuk: Yang tak ada sedikitpun keraguan di dalamnya.

Barangkali bumi memang sudah tua. Semesta yang terus mengembang suatu hari akan menemui batas terjauhnya untuk bertahan agar tidak meledak. Kemana kita harus kembali dan menenangkan diri?

Baca Juga  Saat Pintar Agama Identik dengan Lihai Berdalil

Tabik!

Editor: Nabhan

Related posts
Perspektif

Fenomena Over Branding Institusi Pendidikan, Muhammadiyah Perlu Hati-hati!

4 Mins read
Seiring dengan perkembangan zaman, institusi pendidikan di Indonesia terus bertransformasi. Arus globalisasi tentu memainkan peran penting dalam menentukan kebutuhan pendidikan di era…
Perspektif

Hakim, Undang-Undang, dan Hukum Progresif

3 Mins read
Putusan hakim idealnya mengandung aspek kepastian, keadilan, dan kemanfaatan. Dalam implementasinya tidak mudah untuk mensinergikan ketiga aspek tersebut, terutama antara aspek kepastian…
Perspektif

11 Kategori Pengkritik Jurnal Terindeks Scopus, Kamu yang Mana?

2 Mins read
Dalam amatan penulis, ada beberapa kategori pengkritik jurnal terindeks scopus. Dalam tulisan ini, setidaknya ada 11 kategori yang saya temui. Berikut ulasan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *