Muhammadiyah sejak kelahirannya memosisikan diri sebagai gerakan Islam berkemajuan: Islam yang berakar pada al-Qur’an dan Sunnah, namun dibaca secara rasional, kontekstual, dan berorientasi pada kemaslahatan sosial. Tajdid (pembaruan) menjadi napas ideologisnya, bukan sekadar pemurnian ritual, tetapi juga pembaruan cara berpikir dan bertindak. Namun dalam beberapa tahun terakhir, muncul gejala yang patut diwaspadai: masuknya paham Salafisme ke ruang-ruang dakwah dan praksis keagamaan warga Muhammadiyah.
Masalahnya bukan semata perbedaan mazhab atau selera keagamaan, melainkan pergeseran paradigma yang bersifat ideologis. Salafisme membawa corak keberagamaan yang cenderung tekstual, formalistik, dan kaku.
Dalam konteks Muhammadiyah, paham ini berpotensi menggeser “Islam berkemajuan” menjadi Islam yang tertutup terhadap konteks sosial, sejarah, dan kebudayaan. Agama direduksi menjadi kumpulan dalil literal, sementara ijtihad sosial dan rasionalitas yang selama ini menjadi kekuatan Muhammadiyah perlahan terpinggirkan.
Bahaya Salafi di Muhammadiyah
Bahaya pertama adalah perubahan cara berpikir keagamaan. Warga Muhammadiyah yang sebelumnya terbiasa dengan pendekatan tarjih yang argumentatif dan dialogis mulai diarahkan pada cara beragama yang hitam-putih: bid‘ah versus sunnah, benar versus sesat. Nuansa maqāṣid al-syarī‘ah, pertimbangan kemaslahatan, dan konteks keindonesiaan sering kali dianggap sebagai “kompromi terhadap barat” atau “pengaruh liberal”.
Padahal, justru melalui pendekatan kontekstual itulah Muhammadiyah mampu bertahan dan relevan lebih dari satu abad.
Bahaya kedua tampak pada perubahan perilaku keagamaan dan sosial. Infiltrasi Salafisme tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi masuk ke praksis sehari-hari. Gejala “kearab-araban” menjadi simbol kesalehan baru: cara berpakaian, gaya bicara, hingga ekspresi sosial yang seragam.
Warga Muhammadiyah mulai lebih patuh pada ustadz Salafi di media sosial daripada ulama dan intelektual Muhammadiyah sendiri.
Tidak jarang, amalan khas Muhammadiyah dibanding-bandingkan secara negatif dengan praktik Salafi, seolah-olah Muhammadiyah belum cukup “murni”.
Dampak lanjutannya adalah kecenderungan eksklusivisme. Relasi sosial dan budaya yang sebelumnya cair berubah menjadi kaku. Tradisi lokal dipandang dengan curiga, dialog lintas kelompok melemah, dan semangat dakwah kultural digantikan oleh dakwah konfrontatif.
Ini jelas bertentangan dengan etos Muhammadiyah yang sejak awal berdakwah melalui pendidikan, kesehatan, dan kerja-kerja sosial yang inklusif.
Hegemoni Ideologi: Perbuatan Kuasa Kebenaran Paling Islam
Secara teoretis, fenomena ini dapat dibaca melalui teori infiltrasi ideologi Antonio Gramsci tentang hegemoni. Ideologi tidak selalu masuk melalui konflik terbuka, tetapi lewat normalisasi wacana, simbol, dan otoritas keagamaan. Salafisme menyusup melalui ceramah, media digital, dan klaim “paling sesuai sunnah”, hingga perlahan membentuk kesadaran baru.
Dalam konteks ini, warga Muhammadiyah bisa mengalami apa yang disebut Louis Althusser sebagai interpellation: individu “dipanggil” menjadi subjek ideologi tertentu tanpa sadar bahwa kesadarannya sedang dibentuk.
Jika dibiarkan, infiltrasi ini berpotensi melemahkan identitas Muhammadiyah dari dalam. Bukan dengan membubarkannya, tetapi dengan mengosongkan ruhnya. Muhammadiyah tetap ada secara struktural, namun kehilangan karakter progresif dan keindonesiaannya.
Karena itu, kewaspadaan ideologis menjadi keharusan.
Waspada dan Menjaga Ideologi Muhammadiyah
Penguatan ideologi Islam berkemajuan, kaderisasi pemikiran, serta literasi keagamaan kritis di kalangan warga harus diperkuat. Muhammadiyah tidak alergi terhadap purifikasi, tetapi menolak puritanisme yang mematikan akal, budaya, dan kemanusiaan.
Menjaga Muhammadiyah dari Salafisme bukan soal konflik internal, melainkan ikhtiar menjaga warisan tajdid agar tetap hidup dan relevan bagi umat dan bangsa.
Editor: NS


saya dulu pengurus cabang Muhammadyah sejak rh. 2014 keluar dari Muhammadyah karena ilmu yang saya dpt dari Muhammadyah sangat minim sekali, yang ada hanya bangun dan makan2 , tapi si salafi diajarkan kehidupan didunia dan untuk bekal akherat, lewat kajian2 dilingkungan pondok-pondok pesantren terdekat banyak saudara saya salafiyin berasal dari Muhammadyah baik di kota Semarang dan sekitarnya lewat dauroh yang diadakan oleh panitia dauroh baik di Jawa tengah, maupun dipropinsi lain coba telaah lagi pengurus besar Muhammadyah