IBTimes.ID – Di tengah arus disrupsi digital yang membuat banyak media cetak terhenti, Suara Muhammadiyah justru terus bertahan dan menegaskan eksistensinya dalam dunia pers.
Media yang pertama kali terbit pada 13 Agustus 1915 ini tak hanya menjadi saksi perjalanan panjang bangsa, tetapi juga tercatat sebagai media pers tertua di Indonesia yang masih terbit secara berkelanjutan hingga sekarang. Ketahanan Suara Muhammadiyah melintasi lebih dari satu abad tidak terjadi secara kebetulan.
Ia lahir dari idealisme gerakan, dirawat melalui komitmen kolektif, dan dijaga oleh semangat pantang menyerah. Hal ini mengemuka dalam diskusi yang disampaikan Isngadi Marwah, Direktur Media dan Publikasi Suara Muhammadiyah, bersama tim redaksi muhammadiyah.or.id, Sabtu (8/2).
Spirit Bertahan di Tengah Zaman
Isngadi menjelaskan bahwa kelahiran Suara Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari konteks pergerakan nasional. Pada masa itu, banyak organisasi memiliki media sendiri, namun hanya sedikit yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
“Hampir semua organisasi saat itu memiliki media, tetapi tidak berlanjut. Suara Muhammadiyah mampu bertahan dan bahkan menjadi saksi bisu perjalanan bangsa Indonesia,” ujar Isngadi.
Ia menambahkan, daya tahan Suara Muhammadiyah telah diuji oleh berbagai fase sejarah ekstrem, mulai dari masa kolonial, pendudukan Jepang, dinamika politik nasional, hingga krisis moneter 1998.
Ketika tekanan politik dan ekonomi membuat banyak media berhenti terbit, Suara Muhammadiyah tetap hadir menemani umat dan bangsa.
Fondasi ketangguhan tersebut, menurut Isngadi, berakar dari para perintis Muhammadiyah, seperti K.H. Fachroedin selaku pemimpin redaksi pertama, K.H. Sudja’, serta pendiri Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan, yang tercatat sebagai penulis pada edisi awal Soewara Moehammadijah.
Warisan Pers Progresif Muhammadiyah
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam berbagai kesempatan menegaskan peran Haji Fachroedin sebagai pelopor pers Muhammadiyah.
Ia menyebut Fachroedin sebagai kader awal yang tumbuh secara otodidak bersama Kyai Dahlan.
“Pikiran-pikiran tajam dari seorang Fachroedin memberi warna orientasi pemikiran yang progresif untuk rakyat sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme Belanda,” tutur Haedar.
Menurutnya, meski tidak mengenyam pendidikan formal modern, pengalaman dan jejaring pergaulan lintas tokoh pergerakan menjadikan Fachroedin sosok pers yang melampaui sekat ideologis.
Arsip Hidup dan Tantangan Media Modern
Lebih jauh, Isngadi menyebut Suara Muhammadiyah sebagai “arsip hidup” pemikiran Muhammadiyah sekaligus perjalanan bangsa.
Di dalamnya tersimpan dinamika intelektual, sikap keagamaan, serta respons organisasi terhadap perubahan sosial. Namun, ia mengakui bahwa di tengah realitas industri media saat ini, Suara Muhammadiyah juga menghadapi tantangan keberlanjutan.
“Mengandalkan penjualan majalah saja sudah tidak cukup. Media harus memiliki penopang lain agar tetap mandiri,” jelasnya.
Karena itu, Suara Muhammadiyah mengembangkan unit-unit usaha pendukung sebagai strategi kemandirian ekonomi, tanpa melepaskan idealisme jurnalistik.
“SM tidak bisa dilepaskan dari dukungan masyarakat dan warga Muhammadiyah. Tanpa itu, SM tidak ada apa-apanya,” tegas Isngadi.
Bertepatan dengan Hari Pers Nasional 9 Februari 2026, Suara Muhammadiyah menegaskan bahwa usia panjang media ditentukan oleh keteguhan nilai, kemampuan beradaptasi, dan tanggung jawab kolektif menjaga nurani bangsa.
(NS)


