back to top
Rabu, Februari 18, 2026

IMM Shabran UMS Luncurkan Buku Nalar Futurology Maroon

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Pelantikan Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan IMM Muhammad Abduh Fakultas Agama Islam (FAI) UMS berlangsung khidmat di Auditorium Moh. Djazman UMS, Senin (16/2).

Momentum tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial pergantian kepengurusan. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan peluncuran buku Nalar Futurology Maroon, karya kolektif kader IMM Shabran yang memuat refleksi kritis tentang keislaman, kemanusiaan, dan tantangan zaman kontemporer.

Kegiatan dihadiri pembina pondok, jajaran pengurus IMM, serta kader dari Shabran dan Abduh. Prosesi pelantikan kepengurusan baru menjadi pembuka acara, kemudian dilanjutkan dengan launching buku sebagai simbol kesinambungan antara kaderisasi organisasi dan penguatan tradisi intelektual.

Peluncuran dilakukan secara simbolis melalui penandatanganan oleh Kepala Pondok Shabran UMS, Yayuli, S.Ag., M.P.I., bersama Dwi Kurniadi selaku Kepala Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan (RPK) IMM Shabran 2025 sekaligus editor dan penggagas buku tersebut.

Dalam sambutannya, Yayuli menekankan pentingnya menjaga tradisi literasi di kalangan kader mahasiswa.

“Gerakan literasi seperti ini harus terus dirawat, karena kader yang kuat secara intelektual akan mampu menjaga arah perjuangan organisasi dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya, Senin (16/2).

Ia menilai, lahirnya buku ini menunjukkan bahwa proses kaderisasi tidak berhenti pada aktivitas struktural, melainkan berkembang dalam penguatan gagasan.

Titik Temu Gagasan dan Gerakan

Dwi Kurniadi menjelaskan bahwa Nalar Futurology Maroon lahir dari proses diskusi panjang dan pergulatan ide di ruang-ruang kaderisasi.

Baca Juga:  Najib Burhani: Muhammadiyah Bukan "Islam Pamflet"

“Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, tetapi jejak pemikiran kader yang ingin membaca zaman dengan nalar yang jernih, kritis, dan bertanggung jawab,” ungkapnya.

Ia menyebut karya tersebut disusun oleh kader dengan latar belakang keilmuan beragam, sehingga menghadirkan perspektif multidisipliner.

“Ini adalah karya nelayan intelektual IMM Shabran dalam mengentaskan para kader dari degradasi intelektual sekaligus kemerosotan moral ideologi IMM yang mulai terkikis,” tegas Adi.

Ia menambahkan, istilah futurology dalam judul buku bukan dimaksudkan sebagai ramalan, melainkan kesadaran kritis untuk membaca kemungkinan sejarah dan merancang arah perubahan.

“Organisasi tanpa gagasan akan kehilangan arah, sedangkan gagasan tanpa gerakan hanya akan menjadi wacana. Buku ini adalah titik temu antara keduanya,” katanya.

Antusiasme kader terlihat sepanjang acara. Sejumlah peserta menyatakan minat mengkaji isi buku dalam forum diskusi lanjutan di lingkungan komisariat maupun komunitas akademik.

Peluncuran Nalar Futurology Maroon menegaskan komitmen IMM UMS dalam merawat tradisi berpikir kritis di tengah arus pragmatisme. Momentum ini menjadi penanda bahwa kader IMM tidak hanya bergerak secara struktural, tetapi juga produktif melahirkan gagasan yang reflektif dan transformatif.

(NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru