back to top
Rabu, Juli 8, 2026

Jejak Intelektual Prof. Chamamah Soeratno, Perempuan Muhammadiyah yang Membawa Suara ‘Aisyiyah hingga PBB

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Wafatnya Prof. Chamamah Soeratno pada Selasa (7/7) tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, tetapi juga menghadirkan ruang refleksi atas jejak panjang seorang intelektual perempuan yang mendedikasikan hidupnya bagi pendidikan, gerakan perempuan, dan dakwah berkemajuan.

Selama puluhan tahun, Prof. Chamamah Soeratno dikenal sebagai sosok yang berhasil memadukan tradisi akademik dengan pengabdian di Persyarikatan hingga membawa gagasan ‘Aisyiyah ke forum-forum internasional.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyebut kepergian mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah periode 2000–2005 dan 2005–2010 itu sebagai kehilangan besar bagi Muhammadiyah.

“Kita kehilangan tokoh ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah yang cendekia serta memiliki spirit tinggi dalam perjuangan Persyarikatan. Beliau selain Guru Besar senior di UGM, juga dikenal sebagai tokoh perempuan yang memiliki keluasan pemikiran dan radius interaksi hingga tingkat global. Beliau bahkan pernah menyampaikan pidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mewakili ‘Aisyiyah,” ujar Haedar.

Pengakuan tersebut menggambarkan bahwa Prof. Chamamah Soeratno bukan sekadar pemimpin organisasi, tetapi juga representasi perempuan Muslim Indonesia yang mampu membawa nilai-nilai Islam Berkemajuan ke ruang dialog global.

Dari Kampus hingga Panggung Dunia

Sebagai Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Prof. Chamamah Soeratno dikenal memiliki kontribusi besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus pembinaan kader perempuan Muhammadiyah. Kiprahnya di dunia akademik berjalan beriringan dengan pengabdiannya di ‘Aisyiyah yang memperjuangkan pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan kemajuan masyarakat.

Baca Juga:  Pelepasan Delegasi Join Action For Palestine 4, Lazismu Kirim Tiga Truk Bantuan Kemanusiaan untuk Palestina

Haedar mengenang almarhumah sebagai pribadi yang terbuka terhadap dialog, menghargai perbedaan, namun tetap kokoh memegang prinsip.

“Kami mengenal beliau sebagai figur yang ramah, tetapi tegas dalam pendirian dan pandangan. Diskusi dengan beliau selalu berlangsung penuh semangat, namun tetap sangat menghargai perbedaan pendapat. Kepada generasi muda pun Prof. Chamamah selalu menunjukkan rasa hormat dan tidak segan menerima pandangan maupun masukan,” tuturnya.

Menurut Haedar, salah satu warisan terbesar Prof. Chamamah Soeratno adalah semangat belajar yang tidak pernah berhenti. Kepemimpinannya dibangun di atas keluasan ilmu, jejaring internasional, serta dedikasi yang tulus dalam memajukan Persyarikatan.

“Pengkhidmatannya penuh untuk memajukan ‘Aisyiyah. Bagi para pimpinan ‘Aisyiyah generasi setelah beliau, penting untuk belajar tentang kegigihan, spirit berkhidmat, keluasan pergaulan, serta yang terpenting terus memperluas ilmu dan pemikiran. Itulah kekuatan yang sangat berharga bagi seorang pemimpin penggerak Persyarikatan,” ungkap Haedar.

Jejak Prof. Chamamah Soeratno menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan dalam Muhammadiyah dibangun melalui kombinasi antara keilmuan, integritas, dan keberanian membawa gagasan ke tingkat internasional. Sosoknya menjadi bukti bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui mimbar, tetapi juga lewat karya ilmiah, diplomasi, pendidikan, dan dialog lintas bangsa.

Haedar mendoakan agar seluruh amal pengabdian almarhumah diterima Allah SWT. Ia juga berharap dedikasi almarhumah menjadi inspirasi bagi generasi penerus Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

“Semoga almarhumah Prof. Chamamah Soeratno husnul khatimah, dilapangkan kuburnya, diterima seluruh amal ibadahnya, diampuni segala kesalahannya, dan dianugerahi tempat di surga dalam rida Allah SWT. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan keikhlasan dan kesabaran, serta jejak kebaikan dan perjuangan almarhumah dapat dilanjutkan oleh keluarga dan generasi muda yang mencintai ilmu serta pengkhidmatan dakwah di jalan Allah,” tutupnya.

Baca Juga:  Tempat Ibadah Disegel, Diskusi Akademik Dibatalkan: Diskriminasi dan Represi terhadap Kelompok Minoritas Masih Terus Terjadi

Kepergian Prof. Chamamah Soeratno menandai berakhirnya satu bab penting perjalanan tokoh perempuan Muhammadiyah. Namun, gagasan, keteladanan, dan semangat pengabdiannya akan tetap hidup sebagai inspirasi bagi lahirnya generasi baru yang menggabungkan ilmu, kepemimpinan, dan pengabdian untuk kemajuan umat dan bangsa.

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru