back to top
Sabtu, April 25, 2026

Konflik Timur Tengah Tak Bisa Diselesaikan Sepihak, Muhammadiyah Serukan Kolaborasi Global

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah kembali menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk Muhammadiyah. Organisasi keagamaan ini menilai bahwa upaya mewujudkan perdamaian tidak dapat dilakukan secara sepihak, melainkan membutuhkan kerja sama lintas aktor global, mulai dari negara, organisasi internasional, hingga masyarakat sipil.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, menegaskan bahwa sebagai organisasi sosial-keagamaan, Muhammadiyah memiliki keterbatasan dalam menyelesaikan konflik berskala global.

Namun demikian, kontribusi dalam bentuk moral, kemanusiaan, dan advokasi tetap menjadi bagian penting dari peran yang bisa dijalankan.

Pandangan tersebut disampaikan dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang digelar di Aula Gedung Dakwah PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Jumat (24/4). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan pemahaman terhadap dinamika global yang berdampak luas, termasuk bagi Indonesia.

“Sebagai ormas sosial keagamaan tidak punya pretensi untuk bisa menyelesaikan semua yang kita hadapi, apalagi masalah itu bukan dari kita, tapi dari orang lain dan imbasnya sampai kepada kita semua,” tuturnya.

Perang Bukan Kenormalan, Tapi Tantangan Kemanusiaan

Syafiq menekankan bahwa konflik Timur Tengah dan peperangan yang terjadi di berbagai belahan dunia tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Sebaliknya, kondisi tersebut harus dipandang sebagai tantangan besar bagi umat manusia untuk terus mengupayakan perdamaian dan keadilan global.

Menurutnya, sejarah panjang peradaban manusia menunjukkan bahwa konflik kerap berulang dengan dampak kemanusiaan yang luas. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk memitigasi dampak buruk yang ditimbulkan, sekaligus mencari solusi yang berkelanjutan.

Baca Juga:  Dakwah Muhammadiyah itu Kultural, Bukan Gegap-Gempita

Ia juga mengaitkan kondisi konflik global dengan pesan Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Anfal ayat 25, yang mengingatkan bahwa dampak dari suatu krisis tidak hanya dirasakan oleh pihak yang terlibat langsung, tetapi juga oleh masyarakat luas.

Dalam konteks tersebut, Syafiq mengajak seluruh elemen, termasuk warga Muhammadiyah, untuk mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

Peran tersebut dapat diwujudkan melalui aksi kemanusiaan, solidaritas sosial, serta penguatan nilai-nilai perdamaian yang berlandaskan tauhid.

Pengajian ini juga menghadirkan sejumlah narasumber dengan pengalaman diplomasi internasional, seperti Hajriyanto Y. Thohari, Yuli Mumpuni Widarso, serta perwakilan diplomatik Indonesia lainnya. Kehadiran mereka memberikan perspektif komprehensif terkait dinamika geopolitik Timur Tengah serta implikasinya terhadap stabilitas global.

Melalui forum ini, Muhammadiyah berharap dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat mengenai kompleksitas konflik global sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pihak dalam mewujudkan dunia yang lebih damai, adil, dan berkeadaban. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru