IBTimes.ID – Kunjungan Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, ke Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta pada Kamis (4/6/2026) bukan sekadar agenda kedinasan. Di balik kunjungan tersebut tersimpan kekaguman panjang terhadap salah satu lembaga pendidikan kader tertua milik Muhammadiyah yang didirikan langsung oleh KH Ahmad Dahlan.
Kehadiran Nasaruddin Umar di kampus utama Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, Jalan S. Parman, Kota Yogyakarta, menjadi momentum istimewa bagi para santri dan keluarga besar madrasah. Sebab, Menteri Agama secara khusus menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi Mu’allimin dalam melahirkan tokoh-tokoh bangsa yang berkiprah di berbagai bidang kehidupan.
Dalam dialog bersama para santri, Nasaruddin Umar menekankan pentingnya belajar dari perjalanan hidup para pemimpin dan tokoh besar. Menurutnya, kesuksesan tidak pernah lahir secara instan, melainkan dibangun melalui kedisiplinan, ketekunan, dan penghargaan terhadap waktu.
“Belajarlah dari tokoh-tokoh besar. Tidak ada tokoh besar yang lahir tanpa perjuangan. Tidak ada ruginya menjadi orang yang disiplin dan menghargai waktu,” ujar Menag.
Pernyataan tersebut seolah menjadi refleksi terhadap tradisi pendidikan yang telah lama tumbuh di Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Selama lebih dari satu abad, madrasah ini dikenal sebagai pusat kaderisasi yang tidak hanya menekankan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan kepemimpinan.
Kaderisasi dan Akhlak sebagai Fondasi Pendidikan
Di hadapan para santri, Nasaruddin Umar juga mengingatkan bahwa kualitas seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan kebersihan hati dan akhlak mulia.
“Setinggi apa pun pendidikan seseorang, jika tidak memiliki akhlakul karimah, maka ilmunya tidak akan membawa manfaat,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak para santri untuk terus menjaga nilai-nilai keislaman seperti keikhlasan, kesabaran, tawadhu’, dan istiqamah dalam menjalani proses pendidikan maupun kehidupan sehari-hari.
Apresiasi Menag terhadap Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta juga tampak ketika ia menyinggung banyaknya tokoh bangsa yang lahir dari rahim madrasah tersebut. Menurutnya, para santri saat ini memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan tradisi keunggulan yang telah diwariskan para pendahulu.
Dalam kesempatan itu, Nasaruddin Umar juga berbuka puasa sunah Kamis bersama jajaran pimpinan madrasah. Sebelum meninggalkan lokasi, ia menuliskan pesan reflektif di notes wall yang diperuntukkan bagi para siswa.
“Orang yang sibuk mencari kesalahan orang lain, pertanda masih harus belajar. Orang yang sudah berani menyalahkan dirinya, pertanda sudah mulai belajar. Orang yang tidak lagi menyalahkan dirinya dan orang lain, pertanda sudah selesai belajar, karena sudah arif. Orang arid tidak pernah mencari kambing hitam, tetapi menyelesaikan persoalan tanpa menepuk dada.”
Bagi keluarga besar Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, kunjungan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas kontribusi panjang lembaga ini dalam mencetak kader umat dan bangsa. Apresiasi dari Menteri Agama sekaligus menjadi dorongan untuk terus memperkuat kualitas pendidikan, kaderisasi, dan pengabdian bagi kemajuan Indonesia. (NS)


