Di sela-sela kekosongan kegiatan dalam menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan, rasanya kurang jika hari-hari di bulan suci ini dipenuhi oleh rasa malas dan hanya sekadar tidur-tiduran. KegiatanScroll TikTok dan main game mulai menjamur di setiap tubuh Gen Z. Namun, bagi seorang kader Muhammadiyah, kegiatan di atas adalah buang-buang waktu yang tiada manfaatnya. Anak muda yang berpikiran maju haruslah dipenuhi ide dan gagasan untuk menunjang masa depan, baik itu bagi persyarikatan, agama, maupun bangsa. Begitulah cara pemuda berkehidupan, ia tidak sekadar hidup, tetapi menghidupkan.
Dari sanalah ide muncul, seperti terus berkelindan di isi kepala. Mulailah jemari ini mengetikkan sesuatu yang sudah terkontrol rapi dalam sistem otak. Maka dari salah satu kanal di YouTube, tampil gagasan epik dari Prof. Bambang Sugiharto yang dikenal sebagai bapak Postmodern Indonesia, bertajuk “Menjadi Indonesia, Postmodernisme, dan Masa Depan Indonesia.” Dalam pemaparannya, beliau mengajak kita melihat Indonesia bukan hanya sebagai wilayah geografis semata, tetapi sebagai proyek peradaban yang terus bergerak.
Dalam era modern ini, dengan kecanggihan AI yang luar biasa, ditambah lagi dengan kecerdasan manusia yang terus meningkat, manusia sering terjebak dalam kajian objektif yang hanya terfokus pada fakta dan data. Padahal manusia tidak cukup hidup dengan fakta dan data saja. Manusia membutuhkan makna. Tanpa makna, fakta hanyalah angka, tanpa makna, data hanyalah deretan simbol tanpa jiwa. Maka modernitas sejatinya bukan sekadar kemajuan teknologi, melainkan kemampuan manusia memberi arti atas hidupnya.
Setiap Individu Punya Identitas Sendiri
Menjadi Indonesia berarti memahami bahwa identitas bukan sesuatu yang tunggal. Setiap individu memiliki latar belakang budaya, bahasa, keyakinan, dan pengalaman hidup yang berbeda. Modernitas tidak menghapus perbedaan itu, justru mempertemukannya. Dalam masyarakat modern, identitas bukan lagi sesuatu yang diwariskan secara kaku, tetapi sesuatu yang terus dibangun melalui dialog, pengalaman, dan refleksi diri.
Indonesia adalah contoh nyata bagaimana identitas kolektif terbentuk dari keragaman. Kita tidak pernah menjadi bangsa yang seragam, dan justru di situlah kekuatan kita. Ketika seseorang memahami identitas pribadinya, ia akan lebih mudah memahami identitas orang lain. Dari situ lahir toleransi, empati, dan kemampuan bekerja sama. Jadi, modernitas bukan berarti menjadi sama, melainkan belajar hidup harmonis di tengah perbedaan.
Identitas juga berkaitan dengan kesadaran diri. Anak muda yang mengenal dirinya akan tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus diperjuangkan, dan ke mana arah hidupnya. Tanpa kesadaran identitas, seseorang mudah terbawa arus tren, mudah ikut-ikutan, dan kehilangan arah. Maka menjadi modern berarti menjadi sadar diri, tahu siapa kita, dari mana kita berasal, dan untuk apa kita hidup.
Terlepas dari Kolonialisme adalah Menuju ke Modernitas
Sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengalaman panjang kolonialisme. Penjajahan bukan hanya merampas sumber daya alam, tetapi juga memengaruhi cara berpikir masyarakat. Kolonialisme menanamkan mentalitas ketergantungan, rasa rendah diri, dan keyakinan bahwa kemajuan hanya milik bangsa lain. Oleh karena itu, kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajah secara fisik, melainkan juga bebas secara mental.
Menuju modernitas berarti melepaskan diri dari cara berpikir kolonial. Artinya, kita tidak lagi melihat diri sebagai bangsa yang tertinggal, melainkan sebagai bangsa yang punya potensi besar. Modernitas menuntut keberanian untuk percaya pada kemampuan sendiri. Kita boleh belajar dari luar, tetapi bukan berarti harus meniru tanpa kritik. Bangsa yang modern adalah bangsa yang mampu menyaring pengaruh luar dan mengolahnya menjadi kekuatan sendiri.
Dalam konteks ini, menjadi Indonesia berarti berani berdiri di atas kaki sendiri. Kita tidak menolak globalisasi, tetapi kita juga tidak larut di dalamnya. Kita mengambil manfaatnya, sambil tetap menjaga jati diri. Inilah bentuk kemerdekaan sejati, merdeka berpikir, merdeka berkarya, dan merdeka menentukan arah masa depan.
Mengenyam Pendidikan Penuh dengan Nuansa Akal (Rasio)
Pendidikan adalah kunci utama menuju modernitas. Tanpa pendidikan, modernitas hanya menjadi slogan kosong. Pendidikan melatih manusia menggunakan akal, bukan sekadar menghafal informasi. Dalam dunia yang penuh informasi seperti sekarang, kemampuan berpikir jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui banyak hal.
Pendidikan yang bernuansa akal mengajarkan cara bertanya, bukan hanya cara menjawab. Ia melatih logika, analisis, dan kreativitas. Orang terdidik tidak mudah percaya hoaks, tidak mudah terprovokasi, dan tidak mudah terseret arus opini. Ia mampu memilah mana yang benar dan mana yang keliru. Dengan kata lain, pendidikan melahirkan manusia merdeka secara intelektual.
Lebih dari itu, pendidikan juga menumbuhkan tanggung jawab sosial. Ilmu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk memberi manfaat bagi orang lain. Dalam perspektif ini, menjadi modern berarti menggunakan pengetahuan untuk membangun masyarakat, bukan sekadar mengejar kepentingan pribadi. Pendidikan yang sejati selalu melahirkan kepedulian.
Modernitas Melahirkan Teknologi, Teknologi Mengubah Wajah Pemikiran
Modernitas hampir selalu berjalan seiring dengan teknologi. Dari mesin cetak hingga kecerdasan buatan, teknologi telah mengubah cara manusia hidup, bekerja, dan berpikir. Di Indonesia, perubahan ini terasa sangat cepat. Generasi muda tumbuh di tengah dunia digital yang serba instan. Informasi bisa diakses dalam hitungan detik, komunikasi bisa dilakukan tanpa batas jarak.
Namun teknologi bukan hanya alat. Ia juga membentuk pola pikir. Cara kita membaca berita, berinteraksi, bahkan memahami kebenaran kini dipengaruhi oleh algoritma. Karena itu, tantangan modernitas bukan hanya menciptakan teknologi, tetapi juga mengendalikan dampaknya. Jika tidak disertai kebijaksanaan, teknologi bisa membuat manusia kehilangan kedalaman berpikir dan hanya mengejar kecepatan.
Di sinilah pentingnya keseimbangan. Modernitas yang sehat adalah modernitas yang tetap menjaga nilai kemanusiaan. Teknologi boleh maju, tetapi hati nurani harus tetap memimpin. Kita boleh hidup di dunia digital, tetapi kita tidak boleh kehilangan kepekaan sosial. Modernitas sejati bukan soal seberapa canggih alat kita, melainkan seberapa bijak kita menggunakannya.
Akhir kata
Menjadi Indonesia adalah menjadi modernitas, bukan modernitas yang meniru budaya barat secara mentah, melainkan modernitas yang berakar pada nilai, budaya, dan kesadaran diri. Modernitas bukan sekadar kemajuan teknologi, tetapi perjalanan menuju kedewasaan berpikir. Ia menuntut identitas yang kuat, pendidikan yang mencerahkan, serta keberanian meninggalkan mentalitas lama.
Pada akhirnya, menjadi modern berarti menjadi manusia seutuhnya. Rasional sekaligus bermakna, maju sekaligus berakar, terbuka sekaligus berprinsip. Dan di tangan generasi muda, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat kita berlari, tetapi oleh seberapa dalam kita memahami arah perjalanan.


