back to top
Rabu, April 22, 2026

Jebakan Perbandingan yang Tidak Setara antara Pelajar dan Pekerja

Lihat Lainnya

Afghan Fadzillah
Afghan Fadzillah
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Belakangan ini, saat saya sedang asyik berselancar di media sosial. Pandangan saya tertuju pada sebuah konten dari seorang anak muda yang usianya mungkin baru menginjak awal dua puluhan. Dalam unggahan tersebut, ia membagikan perjalanan hidupnya yang cukup inspiratif. Mulai dari titik awal setelah lulus SMA hingga akhirnya berhasil mengamankan posisi sebagai pekerja tetap dengan gaji yang sangat layak.

Ia memperlihatkan cuplikan kegiatannya yang menyenangkan, seperti berkeliling kota, menikmati kuliner enak. Hingga membeli barang-barang yang ia inginkan dengan hasil keringatnya sendiri.

Namun, perhatian saya justru teralihkan ketika membaca kolom komentar. Di mana ada seorang akun pemuda lain, seorang mahasiswa yang mengungkapkan rasa irinya. Komentar itu berbunyi tentang betapa enaknya sudah bekerja karena bisa ke sana kemari dan membeli apa saja dengan uang sendiri. Sementara ia merasa tertinggal karena statusnya masih mahasiswa.

Melihat fenomena tersebut, saya merasa ada sebuah kejanggalan besar dalam cara kita memandang kesuksesan di media sosial. Komentar pemuda tadi mencerminkan sebuah kesalahan logika dalam membandingkan diri dengan sesuatu yang sebenarnya tidak selaras atau tidak setara.

Memang benar bahwa membandingkan diri dengan orang lain adalah hal yang manusiawi dan bisa berdampak positif. Jika tujuannya adalah untuk memacu semangat serta mengembangkan potensi diri.

Namun, perbandingan itu hanya akan menjadi sehat apabila objek yang dibandingkan memiliki indikator yang serupa atau setidaknya berada di jalur yang sama. Masalah muncul ketika kita mulai membandingkan dua kondisi yang sejak awal memang sudah berbeda sifat dan tujuannya.

Baca Juga:  Memahami Asal Usul Sholat dalam Islam

Dalam kasus pemuda yang berkomentar tadi, ia adalah seorang mahasiswa yang fokus utamanya adalah menuntut ilmu. Sangatlah wajar jika ia belum memiliki penghasilan pribadi karena waktunya dialokasikan untuk investasi pengetahuan.

Di sisi lain, teman-teman sebayanya yang ia iri itu memilih atau mungkin terpaksa langsung bekerja setelah lulus SMA. Sehingga wajar pula jika mereka sudah memiliki pendapatan sendiri. Perbandingan antara pelajar dan pekerja ini menurut saya sangat tidak selaras dan tidak adil bagi diri sendiri.

Seorang mahasiswa yang membandingkan dompetnya dengan seorang pekerja sebenarnya sedang menyiksa mentalnya sendiri dengan standar yang salah. Jika memang ingin membandingkan diri untuk tujuan evaluasi. Seharusnya ia membandingkan dirinya dengan sesama mahasiswa yang berada di lingkungan atau jurusan yang sama.

Bayangkan jika seorang mahasiswa melihat temannya di kampus memiliki wawasan yang lebih luas atau pengetahuan yang lebih dalam daripada dirinya. Rasa iri yang muncul di sana justru akan sangat positif. Hal itu akan memicu keinginan untuk meng-upgrade diri, rajin membaca, dan lebih serius dalam belajar.

Begitu pula sebaliknya bagi para pekerja; mereka tidak perlu merasa rendah diri dengan membandingkan posisi mereka yang staf biasa dengan seorang manajer atau pemimpin perusahaan. Karena jelas tanggung jawab dan pengalamannya berbeda jauh.

Perbandingan yang sehat bagi pekerja adalah dengan rekan kerja setara yang mungkin lebih unggul dalam sisi disiplin atau memiliki pekerjaan sampingan yang produktif.

Saya khawatir jika tren membandingkan diri yang tidak sepadan ini terus dibiarkan, dampaknya akan merusak motivasi para pelajar kita. Banyak mahasiswa mungkin akan merasa bahwa kuliah itu membuang waktu karena melihat teman-temannya sudah bisa foya-foya dengan uang sendiri.

Baca Juga:  Spiritualitas Kemanusiaan Seyyed Hossein Nasr

Akibatnya, mereka akan menjalani masa kuliah hanya sebatas formalitas atau asal-asalan saja. Fokus mereka bukan lagi pada kualitas pembelajaran, melainkan hanya sekadar menggugur kewajiban: masuk kelas agar tidak absen. Mengerjakan tugas tanpa pendalaman Dan sekadar mengikuti ujian agar lulus.

Pikiran mereka sudah terlanjur teracuni oleh ambisi untuk segera memiliki uang pribadi agar bisa bergaya hidup mewah seperti yang mereka lihat di layar ponsel.

Kondisi psikologis seperti ini harus segera dibenahi karena akan berdampak sistemik pada kualitas lulusan sarjana kita di masa depan. Jika mahasiswa kehilangan gairah untuk mengasah potensi dan kompetensi mereka hanya karena iri pada pendapatan pekerja. Kita akan mendapati generasi lulusan yang kualitasnya kurang mumpuni.

Dalam jangka panjang, hal ini tentu akan menurunkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di negeri ini secara keseluruhan. Padahal, cita-cita untuk menjadikan negara ini maju sangat bergantung pada SDM yang berkualitas, memiliki integritas, dan memiliki kecerdasan yang mendalam.

Semua itu tidak bisa dicapai dengan pola pikir yang selalu ingin mencari jalan pintas atau merasa gagal. Hanya karena melihat kesuksesan orang lain di jalur yang berbeda. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mulai mengubah pola pikir dalam membandingkan diri.

Khusus bagi para pelajar dan mahasiswa, sadarilah bahwa kalian berada di fase menuntut ilmu. Sedangkan mereka yang bekerja sedang berada di fase mencari nafkah. Keduanya memiliki tujuan hidup yang berbeda pada titik waktu yang sama, sehingga tidak masuk akal jika diperbandingkan secara mentah-mentah.

Baca Juga:  Mengapa Masih Ada Praktik Beragama yang Intoleran?

Mahasiswa harus memiliki keteguhan hati untuk tetap fokus memperdalam pengetahuan dan meluaskan wawasan sebagai bekal jangka panjang. Sementara itu, bagi mereka yang sudah bekerja, teruslah berjuang dengan semangat karena setiap tetes keringat adalah bentuk tanggung jawab bagi keluarga.

Kita perlu memahami bahwa setiap orang memiliki “musim” panennya masing-masing. Media sosial seringkali hanya menampilkan hasil akhir tanpa menunjukkan proses berdarah-darah di belakangnya.

Jika kita terus-menerus melihat ke samping tanpa memperhatikan jalan di depan kaki sendiri. Kita hanya akan terjatuh dalam lubang rasa tidak syukur yang tidak berujung. Menjadi cerdas bukan hanya soal mendapatkan nilai bagus di kelas.

Tetapi juga tentang cerdas dalam mengelola emosi dan persepsi terhadap kesuksesan orang lain. Dengan fokus pada pengembangan diri yang sesuai dengan porsinya. Saya yakin setiap individu akan mencapai masa kejayaannya tanpa harus merasa kecil di hadapan pencapaian orang lain yang jalurnya memang tidak pernah sama sejak awal.

Mari kita berhenti membandingkan “bab pertama” dalam hidup kita dengan “bab kesepuluh” dalam hidup orang lain. Terutama jika buku yang kita tulis saja judulnya sudah berbeda. Fokus pada kualitas, fokus pada proses, dan biarkan hasil mengikuti pada waktu yang tepat.

(Nashuha)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru