back to top
Senin, Februari 23, 2026

Puasa di Bawah Bayang-Bayang Pasar Neoliberalisme

Lihat Lainnya

Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Ramadan hadir setiap tahun sebagai ibadah pembebasan. Ia membebaskan manusia dari dominasi hasrat biologis, dari ketergantungan pada konsumsi instan, dan dari ilusi bahwa kebahagiaan lahir dari pemuasan keinginan tanpa batas. Namun ironisnya, justru di bulan puasa inilah pasar bekerja paling agresif. Diskon Ramadan, paket iftar, kuliner viral, dan promosi “berkah belanja” menyerbu ruang publik. Puasa pun terancam direduksi menjadi sekadar jeda makan siang dalam sistem ekonomi yang tetap rakus.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia berakar pada logika ekonomi pasar neoliberal yang menjadikan konsumsi sebagai poros kehidupan sosial. Dalam logika ini, semua hal—termasuk ibadah—didorong untuk tunduk pada mekanisme pasar.

Neoliberalisme dan Normalisasi Hasrat

Neoliberalisme tidak hanya bekerja melalui kebijakan deregulasi dan liberalisasi pasar, tetapi melalui pembentukan subjek ekonomi: manusia yang dipersempit menjadi konsumen. Pasar tidak lagi sekadar ruang transaksi, melainkan produsen makna. Dalam kerangka ini, nilai keberhasilan hidup diukur dari daya beli dan visibilitas konsumsi.

Pemikiran Milton Friedman tentang kebebasan pasar menempatkan pilihan individu sebagai nilai tertinggi. Namun kritik ekonomi politik menunjukkan bahwa “pilihan” ini sering kali dikondisikan oleh struktur pasar, iklan, dan budaya populer. Konsumen tampak bebas, padahal bergerak dalam koridor yang sudah diarahkan.

Ramadan, dalam lanskap neoliberal, mengalami komodifikasi. Puasa tidak lagi diposisikan sebagai latihan pengendalian diri, melainkan sebagai peluang pasar musiman. Spirit ibadah dikemas, dijual, dan dioptimalkan untuk mendorong konsumsi.

Baca Juga:  Gelombang Protes dari Dunia Kampus Menguat, Akankah Terjadi 'American Spring'?

Pelaku Puasa dan Orientasi Pasar Neoliberalisme

Yang problematis bukan hanya pasar, tetapi juga cara umat menjalani puasa. Banyak pelaku puasa secara tidak sadar menginternalisasi logika pasar. Menahan lapar di siang hari dianggap “wajar” jika ditebus dengan konsumsi berlebihan di malam hari. Puasa menjadi rasionalisasi konsumsi, bukan koreksi terhadapnya.

Dalam perspektif ekonomi perilaku, ini menunjukkan kegagalan self-regulation. Namun dalam perspektif ekonomi politik Islam, ini adalah kegagalan membaca makna puasa sebagai disiplin sosial. Puasa tidak pernah dimaksudkan sebagai ibadah privat yang steril dari struktur ekonomi. Ia adalah kritik praksis terhadap dominasi nafsu—baik nafsu individu maupun nafsu sistem.

Ekonomi Islam sebagai Kritik Sistemik

Ekonomi Islam sejak awal lahir sebagai kritik terhadap ketimpangan dan akumulasi berlebihan. Al-Ghazali secara tegas mengaitkan konsumsi berlebihan dengan kerusakan jiwa dan masyarakat. Sementara Ibn Khaldun menunjukkan bahwa kemewahan yang tak terkendali justru melemahkan peradaban.

Berbeda dengan neoliberalisme yang memuliakan keinginan, ekonomi Islam memuliakan pengendalian. Konsumsi tidak ditolak, tetapi diarahkan. Pasar tidak dimusuhi, tetapi dibatasi oleh etika. Tujuan ekonomi bukan akumulasi, melainkan keberlanjutan dan keadilan distribusi.

Dalam kerangka ini, puasa Ramadan adalah instrumen korektif. Ia memutus sejenak siklus produksi–konsumsi yang tak henti, dan mengingatkan bahwa manusia lebih besar dari perannya sebagai konsumen.

Dari Konsumsi ke Redistribusi

Neoliberalisme meyakini bahwa kesejahteraan lahir dari ekspansi pasar. Ekonomi Islam justru menekankan bahwa kesejahteraan lahir dari peredaran harta. Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar ibadah karitatif, melainkan mekanisme ekonomi yang menginterupsi logika akumulasi.

Baca Juga:  Pekojan: Kampung Arab Pertama di Batavia

Ramadan memperlihatkan model ini secara konkret. Ketika konsumsi dikendalikan, surplus tercipta. Surplus inilah yang seharusnya mengalir ke ruang sosial, bukan kembali diserap pasar dalam bentuk konsumsi simbolik. Di titik ini, puasa menjadi perlawanan sunyi terhadap neoliberalisme—bukan dengan slogan, tetapi dengan praktik.

Kemakmuran yang Berbeda Arah

Ekonomi pasar neoliberal mengidentikkan kemakmuran dengan pertumbuhan dan belanja. Ekonomi Islam memaknai kemakmuran sebagai ketenangan sosial, berkurangnya kesenjangan, dan terjaminnya kebutuhan dasar. Dua arah ini tidak selalu sejalan.
Ramadan mengajarkan bahwa kemakmuran tidak harus bising. Ia tidak selalu tampak dalam grafik penjualan, tetapi dalam berkurangnya kecemasan, menguatnya solidaritas, dan meningkatnya empati sosial. Ini adalah kemakmuran yang sulit diukur oleh indikator pasar, tetapi nyata dirasakan oleh masyarakat.

Puasa Ramadan adalah kritik hidup terhadap ekonomi yang terlalu percaya pada pasar. Ia menantang asumsi bahwa manusia selalu lebih bahagia dengan lebih banyak konsumsi. Ketika puasa dijalankan dengan orientasi pasar, ia kehilangan daya subversifnya. Namun ketika puasa dimaknai sebagai disiplin etis dan sosial, ia menjadi alat koreksi yang kuat terhadap neoliberalisme.

(FI)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru