Sebagian dari Anda tentu pernah melihat meme ini. Ketika Amerika ditanya, “kenapa kamu menyerang Iran?” AS menjawab, “karena mereka ingin memiliki nuklir. Terus AS ditanya lagi, “kalau begitu, kenapa kamu tidak menyerang Rusia?”, AS menjawab “apakah kamu gila? Mereka kan punya nuklir!”
Tentu itu adalah anekdot. Namun, anekdot itu sedikit banyak menggambarkan realitas di lapangan. Realitas bahwa Amerika ingin terus mendominasi kekuatan dunia dengan cara menekan negara-negara yang ingin memperkaya uranium menjadi senjata nuklir.
Pada Sabtu, (28/2/2026), konflik Iran VS AS yang telah lama memanas, meletus. AS dan Israel melancarkan serangan rudal ke Iran. Negara para mullah tersebut tidak tinggal diam. Tehran menyerang hampir seluruh pangkalan militer AS di negara-negara Teluk, meskipun mayoritas serangan tersebut dapat dihalau oleh negara-negara Arab.
Apa yang menjadi penyebab dari konflik Amerika VS Iran ini? Mari kita lihat dari anekdot di atas.
Penyebab Konflik Amerika VS Iran
Sebelum tahun 1979, Iran dipimpin oleh Shah Reza Pahlevi. Shah saat itu sangat dekat dengan AS. Kedekatan tersebut membuat rakyat marah lalu melakukan revolusi Islam yang menumbangkan Shah dan membawa Ayatullah Khomeini ke tampuk kepemimpinan tertinggi, serta mengubah Iran dari kerajaan sekular menjadi republik Islam hingga saat ini.
Sejak revolusi tahun 1979, Iran memang memiliki retorika yang sangat anti Amerika dan anti Israel. Meskipun realitanya tidak selalu demikian. Ketika terjadi Perang Irak-Iran 1980-1988, Iran selalu berusaha mendapatkan senjata dari AS. Senjata-senjata AS yang canggih akhirnya didapatkan melalui Israel. Pun setelah perang, ada beberapa upaya dari Iran untuk mendekat ke orbit Amerika.
Di sisi lain, AS pun tidak selalu benci Iran. Ada beberapa upaya untuk mendekat dan membuka hubungan diplomatik dengan Iran. Namun, proses pendekatan kedua negara tersebut selalu dihalang-halangi oleh Israel. Israel menjadi negara yang sangat dirugikan jika Iran dan Amerika bergandengan tangan, karena hal itu akan membuat daya tawar Israel di mata AS melemah.
Oleh karena itu, hingga saat ini, banyak ahli yang melihat bahwa salah satu penyebab konflik Amerika VS Iran tahun lalu dan tahun ini adalah akibat tekanan Israel. Netanyahu sengaja menyeret AS dengan propagandanya agar menyerang Iran.
Jadi kenapa Iran benci terhadap Amerika? Secara retoris, kebencian Iran terhadap Amerika sama dengan kebencian negara-negara lain terhadap AS, yaitu bahwa AS adalah kekuatan hipokrit yang menyebar teror di berbagai negara, terutama di Palestina. Invasi AS terhadap Irak, Afghanistan, hingga yang terbaru Venezuela adalah sederet rapor merah AS. Terutama tentu adalah dukungan AS terhadap Israel.
Dengan sikap AS yang demikian, negara-negara di dunia memilih sikap yang berbeda-beda. Salah satu sikap yang paling keras ditunjukkan oleh Iran. Dengan demikian, AS, belakangan, juga merespon kebencian ini dengan tak kalah keras. Maka, karena Iran benci AS, Washington tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Jika Tehran memiliki nuklir, hal itu dapat mengancam kepentingan AS di dunia Arab.
Pada tahun 2015, di era Barrack Obama, AS dan Iran serta negara-negara 5P + Jerman menandatangani perjanjian nuklir yang dikenal dengan JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action). Dalam perjanjian tersebut, Iran mengizinkan inspeksi ke program nuklir yang diklaim untuk kepentingan sipil. Lalu AS dan negara-negara 5P + Jerman berjanji akan mengangkat sanksi internasional terhadap Iran. Langkah ini merupakan kemajuan yang sangat positif dalam hubungan kedua negara.
Namun, ketika Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS di periode pertama, ia langsung membawa AS keluar dari JCPOA pada tahun 2018. Dengan demikian, negara tersebut kembali menjatuhkan berbagai sanksi internasional terhadap Iran. Sejak era Trump, hubungan kedua negara kembali memanas.
Hubungan kedua negara memuncak pasca Peristiwa 7 Oktober 2023. Ketika Israel melakukan genosida besar-besaran di Gaza, jaringan milisi Iran bergerak melawan Zionis. Di antaranya adalah Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, dan tentu Hamas di Gaza. Perang Israel melawan ketiga kelompok ini mau tidak mau menyeret dua tuan besar mereka, yaitu AS dan Iran. Puncaknya, pada Juni 2025, terjadi jual beli rudal antara Israel dengan Iran. Perang itu ditutup dengan dijatuhkannya bom AS ke fasilitas nuklir Iran.
Setelah bom jatuh, pihak-pihak yang terlibat mengumumkan gencatan senjata dan akan segera melakukan perundingan. Namun, perundingan itu tak kunjung selesai hingga hari ini.
Pada awal 2026, setelah AS melakukan aksi yang begitu brutal di Venezuela, Trump tiba-tiba ingin kembali fokus ke musuh lamanya: Iran. Momentum itu bersamaan dengan meletusnya demonstrasi besar-besaran di Iran akibat inflasi dan naiknya harga-harga pokok. Dalam demonstrasi tersebut, ratusan demonstran dan petugas keamanan meninggal dunia.
Memanfaatkan kerusuhan di Iran, Trump segera mengirim kapal induk USS Abraham Lincoln ke perairan Iran. Hal itu untuk mengancam Iran agar tidak menindak demonstran dengan brutal, serta memaksa negara tersebut untuk kembali pada perundingan nuklir. Tak lama setelah USS Abraham Lincoln tiba, Trump kembali mengirim kapal induk terbesar di dunia: USS Gerald Ford.
Hingga pada 7 Februari 2026, kedua negara melakukan negosiasi pertama melalui mediasi Oman. Perundingan tersebut terus berjalan hingga hari ini, Sabtu (28/2/2026) ketika tiba-tiba Israel dan AS menyerang Iran. Serangan tersebut terkait dengan perundingan yang tak kunjung berhasil.
Trump mengunggah video di Truth Social yang mengkonfirmasi keterlibatan AS.
“Beberapa waktu lalu, militer Amerika Serikat memulai operasi tempur besar-besaran di Iran. Tujuan kami adalah untuk membela rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman nyata dari rezim Iran,” katanya.
Ia juga meminta rakyat Iran untuk tetap berlindung dan tidak meninggalkan rumah mereka.
“Setelah kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda,” katanya. “Itu akan menjadi milik Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda untuk beberapa generasi.”
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyerukan kepada seluruh rakyat Iran “untuk melepaskan diri dari belenggu tirani dan mewujudkan Iran yang bebas dan damai”.
Sambil berterima kasih kepada Trump, ia mengulangi pesannya bahwa Iran “tidak boleh dipersenjatai dengan senjata nuklir yang akan memungkinkannya mengancam seluruh umat manusia”.
“Tindakan bersama kita akan menciptakan kondisi bagi rakyat Iran yang berani untuk mengambil nasib mereka sendiri.”
Ia juga menyarankan warga Israel untuk mengikuti arahan dari pihak berwenang. Sebelumnya, menteri pertahanan Israel mengumumkan keadaan darurat khusus dan permanen di seluruh Israel.
Maka anekdot di atas tentu benar. Amerika menyerang Iran karena Iran ingin memiliki nuklir. Pada saat yang sama, Amerika tidak berani menyerang negara yang telah memiliki nuklir.
(YY)


