back to top
Minggu, Maret 15, 2026

Idul Fitri dan Jalan Menuju Perdamaian Dunia : Dari Diri Untuk Semesta

Lihat Lainnya

Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Assalamu’alaikum, wr wb.

اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

اَللّٰهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ، لِيُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَيُرَبِّيَ بِهِ أُمَّةً تَحْمِلُ رِسَالَةَ الْخَيْرِ لِلْعَالَمِينَ.

نَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ اسْتِغْفَارَ الْمُقِرِّينَ بِتَقْصِيرِهِمْ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمُرَبِّي الْأَعْظَمُ لِلْإِنْسَانِيَّةِ، وَالْقَائِدُ الَّذِي بَنَى جِيلًا غَيَّرَ وَجْهَ التَّارِيخِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى هِيَ الزَّادُ فِي السَّفَرِ، وَالنُّورُ فِي الطَّرِيقِ، وَالْبَصِيرَةُ فِي صُنْعِ الْمُسْتَقْبَلِ.

Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, walillāhil-ḥamd.

Saudaraku, kaum Muslimin rahimakumullah.

Pagi ini adalah pagi yang penuh cahaya. Setelah sebulan lamanya kita menempuh perjalanan spiritual dalam madrasah Ramadhan, kita tiba pada sebuah hari yang sangat agung: Idul Fitri, hari kembali kepada kesucian. Hati yang selama Ramadhan digembleng dengan puasa, doa, dan tilawah Al-Qur’an kini diharapkan menjadi hati yang lebih lembut, lebih jernih, dan lebih damai.

Namun Idul Fitri tidak hanya berbicara tentang kegembiraan pribadi. Ia membawa pesan yang jauh lebih besar: pesan tentang perdamaian. Ketika kita saling memaafkan, ketika tangan-tangan bersalaman, ketika air mata haru mengalir dalam pelukan keluarga, sesungguhnya kita sedang membangun fondasi dari sesuatu yang sangat besar: peradaban damai.

Perdamaian dunia tidak lahir dari meja-meja konferensi internasional semata, tetapi dari hati manusia yang bersih, dari keluarga yang saling mencintai, dari masyarakat yang saling menghormati.

Hari ini kita diingatkan bahwa perdamaian dunia tidak dimulai dari istana kekuasaan, tetapi dimulai dari jiwa manusia yang kembali kepada fitrah.

Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, walillāhil-ḥamd.

Saudaraku, kaum Muslimin rahimakumullah.

Allah berfirman:

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan Allah menyeru manusia ke Darussalam (negeri perdamaian) dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”(QS. Yunus: 25)

Ayat ini menunjukkan bahwa inti ajaran Islam adalah salam, perdamaian. Bahkan surga disebut oleh Al-Qur’an sebagai Dār as-Salām, negeri kedamaian. Ini berarti tujuan akhir perjalanan spiritual manusia bukanlah konflik, dominasi, atau permusuhan, melainkan kedamaian yang hakiki.

Dalam konteks kehidupan dunia, ayat ini mengajarkan bahwa setiap mukmin seharusnya menjadi agen perdamaian. Ia membawa ketenangan dalam keluarga, menebarkan harmoni dalam masyarakat, dan membangun hubungan yang adil dengan bangsa-bangsa lain.

Dunia modern yang penuh konflik, perang, dan polarisasi sangat membutuhkan nilai ini. Islam mengajarkan bahwa jalan menuju perdamaian global dimulai dari komitmen moral setiap individu untuk hidup dalam keadilan dan kasih sayang.

Allah SWT juga berfirman:

Baca Juga:  Baca Doa Ini Agar Kamu Lolos Seleksi LPDP 2025

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam perdamaian secara menyeluruh.” (QS. Al-Baqarah: 208)

Ayat ini menggunakan kata السِّلْمِ yang berarti perdamaian atau kedamaian. Menariknya, Al-Qur’an memerintahkan orang beriman untuk memasuki perdamaian secara keseluruhan (كافة). Ini menunjukkan bahwa perdamaian bukan sekadar slogan, melainkan prinsip hidup yang harus meresap dalam seluruh aspek kehidupan: spiritual, sosial, politik, dan budaya.

Seorang mukmin tidak boleh memelihara kebencian, permusuhan, atau kekerasan dalam relasi sosialnya. Dalam konteks kekinian, ayat ini relevan dengan tantangan dunia yang sering terjebak dalam konflik identitas, polarisasi politik, dan permusuhan antar kelompok. Islam menawarkan paradigma bahwa masyarakat yang damai hanya bisa lahir dari individu-individu yang memiliki komitmen total terhadap nilai-nilai perdamaian.

Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, walillāhil-ḥamd.

Saudaraku, kaum Muslimin rahimakumullah.

Allah juga berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.” (QS. Al-Hujurat: 10)


Ayat ini menegaskan bahwa hubungan antara orang beriman dibangun di atas fondasi persaudaraan spiritual. Persaudaraan ini tidak didasarkan pada suku, ras, atau bangsa, tetapi pada iman dan nilai kemanusiaan. Karena itu ketika terjadi konflik, Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk menjadi mediator perdamaian.

Ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan perdamaian secara teoritis, tetapi juga menuntut umatnya aktif dalam rekonsiliasi sosial. Dalam konteks masyarakat modern yang sering terpecah oleh konflik politik atau perbedaan identitas, ayat ini mengingatkan bahwa tugas seorang mukmin adalah menjadi jembatan yang menyatukan, bukan tembok yang memisahkan.

Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, walillāhil-ḥamd.

Saudaraku, kaum Muslimin rahimakumullah.

Rasulullah saw bersabda:

أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

Salam bukan sekadar ucapan formal dalam tradisi Islam. Salam adalah doa, harapan, dan komitmen moral. Ketika seorang muslim mengucapkan “Assalamu’alaikum”, ia sebenarnya sedang berjanji bahwa orang lain aman dari lisan dan tangannya. Nabi memerintahkan umatnya untuk menyebarkan salam karena perdamaian harus dimulai dari interaksi sehari-hari.

Dalam dunia modern yang sering dipenuhi ujaran kebencian dan permusuhan di ruang publik maupun media sosial, hadis ini menjadi pengingat bahwa seorang mukmin harus menjadi sumber ketenangan bagi orang lain. Perdamaian global pada akhirnya dibangun dari budaya komunikasi yang penuh hormat dan kasih sayang.

Rasulullah SAW juga bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang membuat manusia lain selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberikan definisi yang sangat kuat tentang identitas seorang muslim. Keislaman seseorang tidak hanya diukur dari ibadah ritualnya, tetapi juga dari dampak sosialnya. Jika kehadirannya membawa rasa aman bagi orang lain. Baik secara fisik maupun verbal, maka itulah tanda keislaman yang sejati.

Dalam konteks kekinian, hadis ini sangat relevan dengan fenomena kekerasan verbal, fitnah, dan ujaran kebencian yang sering terjadi di ruang digital. Nabi mengajarkan bahwa seorang mukmin harus menjaga lisannya dan tangannya agar tidak menjadi sumber konflik. Dengan demikian, perdamaian dunia dimulai dari etika personal dalam berbicara, bertindak, dan berinteraksi dengan orang lain.

Baca Juga:  Din Syamsuddin: Muhammadiyah Mampu Menjadi Penggerak Kebangkitan Islam

Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, walillāhil-ḥamd.

Saudaraku, kaum Muslimin rahimakumullah.

Perdamaian dunia tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh seperti pohon yang akarnya ditanam dalam hati manusia.

Langkah pertama menuju perdamaian adalah berdamai dengan diri sendiri. Banyak konflik sosial berakar dari hati yang dipenuhi amarah, iri hati, dan kebencian. Ramadhan mengajarkan kita untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakit tersebut. Ketika hati manusia menjadi jernih, maka ia akan lebih mudah memaafkan dan lebih mudah mencintai.

Langkah kedua adalah membangun perdamaian dalam keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi peradaban damai. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga penuh kasih sayang akan belajar menghargai orang lain. Sebaliknya, keluarga yang penuh konflik sering melahirkan generasi yang membawa luka batin ke dalam masyarakat.

Karena itu Idul Fitri menjadi momen yang sangat penting untuk memperbaiki hubungan keluarga: meminta maaf kepada orang tua, memaafkan saudara, dan mempererat ikatan kasih sayang.

Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, walillāhil-ḥamd.

Saudaraku, kaum Muslimin rahimakumullah.

Langkah berikutnya adalah membangun harmoni dalam masyarakat. Perbedaan adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan manusia. Namun Islam mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus melahirkan permusuhan.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan saling membenci.

Masyarakat yang damai adalah masyarakat yang mampu mengelola perbedaan dengan dialog, keadilan, dan saling menghormati.

Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, walillāhil-ḥamd.

Saudaraku, kaum Muslimin rahimakumullah.

Dunia hari ini masih dipenuhi konflik dan peperangan. Banyak bangsa hidup dalam ketakutan dan penderitaan. Dalam situasi seperti ini, umat Islam harus tampil sebagai pembawa pesan rahmat.

Islam tidak pernah mengajarkan kebencian terhadap kemanusiaan. Justru Nabi Muhammad diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Karena itu semangat Idul Fitri harus mendorong kita untuk memperluas empati—bukan hanya kepada sesama muslim, tetapi kepada seluruh manusia.

Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, walillāhil-ḥamd.

Saudaraku, kaum Muslimin rahimakumullah.

Idul Fitri adalah momentum untuk menyalakan kembali cahaya perdamaian dalam diri kita.

Jika setiap manusia mampu membersihkan hatinya,
jika setiap keluarga mampu menumbuhkan kasih sayang,
jika setiap masyarakat mampu merawat persaudaraan,

maka dunia yang damai bukanlah utopia.

Ia akan tumbuh perlahan seperti fajar yang mengusir gelapnya malam.

Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, walillāhil-ḥamd.

Saudaraku, kaum Muslimin rahimakumullah.

Marilah kita menutup khutbah pagi yang penuh cahaya ini dengan menundukkan hati, merendahkan jiwa, dan menengadahkan doa kepada Ilahi Rabbi. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang benar-benar menang di hari yang fitri ini, menang atas ego yang memecah belah, menang atas amarah yang melukai sesama, dan merdeka dari segala kebencian yang merusak kedamaian.

Semoga dari hati-hati yang telah disucikan oleh Ramadhan lahir pribadi-pribadi yang menebarkan kasih, memulai perdamaian dari diri sendiri, mengalirkannya ke dalam keluarga, masyarakat, hingga ke seluruh semesta. Sebab dari jiwa yang damai akan tumbuh dunia yang damai, dan dari hati yang kembali kepada fitrah akan lahir peradaban yang penuh rahmat bagi seluruh alam.

Baca Juga:  Gen Z Lebih Toleran Ketimbang Milenial dan Baby Boomers

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّهِمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا نُورًا، وَفِي أَبْصَارِنَا نُورًا، وَفِي أَسْمَاعِنَا نُورًا، وَعَنْ أَيْمَانِنَا نُورًا، وَعَنْ شَمَائِلِنَا نُورًا

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ فَوْقَنَا نُورًا، وَتَحْتَنَا نُورًا، وَأَمَامَنَا نُورًا، وَخَلْفَنَا نُورًا، وَاجْعَلْ لَنَا نُورًا عَظِيمًا

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اَللّٰهُمَّ هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْهُمْ ذُرِّيَّةً صَالِحَةً طَيِّبَةً مُبَارَكَةً

اَللّٰهُمَّ زِدْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَارْزُقْنَا فَهْمًا فِي الدِّينِ، وَأَصْلِحْ قُلُوبَنَا وَأَعْمَالَنَا

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا وَأَوْلَادِنَا، وَاجْعَلْهَا عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحِ الْعَالَمَ كُلَّهُ، وَانْشُرِ السَّلَامَ وَالرَّحْمَةَ بَيْنَ الْعِبَادِ

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أُسَرَنَا وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا صَالِحَةً مُبَارَكَةً

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا ذُرِّيَّةً صَالِحَةً تُقِيمُ دِينَكَ وَتَحْمِلُ رِسَالَتَكَ

اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

اللَّهُمَّ يَا إِلٰهَ السَّلَامِ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، وَإِلَيْكَ يَعُودُ السَّلَامُ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ مِغْلَاقًا لِلشَّرِّ، وَاجْعَلْنَا جُنُودًا لِلسَّلَامِ فِي هٰذَا الْعَالَمِ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَاجْعَلْ هٰذَا الْعِيدَ بَدَايَةَ سَلَامٍ جَدِيدٍ فِي قُلُوبِنَا وَفِي الْعَالَمِ أَجْمَعِينَ

Ya Allah,
Engkau adalah sumber segala kedamaian.
Dari-Mu lahir ketenangan,
kepada-Mu kembali segala harapan.

Di pagi Idul Fitri ini,
lembutkanlah hati kami yang keras,
jernihkanlah pikiran kami yang keruh,
dan damaikanlah jiwa kami yang gelisah.

Jadikanlah kami manusia yang menebarkan salam,
yang menenangkan hati yang terluka,
yang merajut kembali persaudaraan yang retak.

Tumbuhkanlah perdamaian dari rumah kami,
dari keluarga kami,
dari masyarakat kami,
hingga meluas ke seluruh dunia.

Ya Allah,
jadikan Idul Fitri ini bukan hanya hari kemenangan,
tetapi juga awal dari dunia yang lebih damai,
lebih adil,
dan lebih penuh kasih sayang.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ
وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ
وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru