Pujian setinggi-tingginya hanya pantas kita panjatkan kehadirat Allah yang Maha Besar. Sebagai bentuk rasa syukur kita kepada-Nya atas berkah limpahan nikmat serta karunia-Nya yang senantiasa tercurahkan. Karena atas kehendak-Nya tersebut, Allah menghantarkan kita pada hari yang mulia nan penuh kemenangan bagi segenap kaum muslimin ini.
Keberhasilan kaum muslimin dalam perjalanannya menuju puncak spiritual Ramadan tidak lain dan tidak bukan juga merupakan salah satu nikmat yang patut untuk disyukuri. Tentu saja keberhasilan yang dimaksud ialah mengendalikan hawa nafsu lewat pendidikan yang telah kita sama-sama tempuh selama satu bulan penuh lamanya demi meraih predikat takwa di sisi Allah SWT.
Lain daripada itu, salawat serta keselamatan juga selalu kita sampaikan kepada manusia agung pilihan Allah, Nabi Muhammad SAW. Yang mana dengan segala daya dan upaya yang kita miliki berusaha untuk selalu meneladani hal-hal baik yang datang darinya. Serta menjauhi segala hal-hal yang dilarangnya.
Ma’aasyiral muslimiin rahimakumullah…
Meskipun bulan Ramadan telah berlalu meninggalkan kita, hendaknya ia meninggalkan jejak dan bekas dalam tiap-tiap sanubari kaum muslimin. Salah satu di antaranya ialah kesadaran ilahiyah bahwa Allah selalu hadir untuk kita. Kehadiran Allah yang sedekat urat nadi itu memberi pelajaran pada kita bahwa Allah tidak pernah lengah sedikitpun dalam mengawasi tiap gerak-gerik hamba-hamba-Nya.
Di saat kaum muslim berpuasa di bulan Ramadan maka di saat yang bersamaan kita sedang dilatih untuk berperilaku jujur, mengendalikan diri, dan menjaga integritas kita kepada Allah SWT. Seseorang bisa saja makan atau minum diam-diam tanpa diketahui oleh orang lain. Namun berkat kesadaran ilahiyah yang dimiliki, yang demikian itu tidak dilakukan. Ini menandakan bahwa Ramadan adalah madrasah spiritual yang mampu melatih integritas kaum muslim.
Dalam sejarah kegemilangan Islam, kesadaran ilahiyah ini telah mampu melahirkan generasi demi generasi yang mampu menorehkan tinta emas peradaban. Mulai dari perang Badar, Fathu Makkah, penaklukan Andalusia hingga proklamasi kemerdekaan Indonesia. Peristiwa-peristiwa besar tersebut terjadi pada bulan Ramadan. Dengan kata lain Ramadan bukanlah bulan pasif yang hanya diisi dengan ibadah-ibadah individualistik. Melainkan Ramadan adalah bulan yang mampu melahirkan energi sejarah dan peradaban.
Ma’aasyiral muslimin rahimakumullah…
Peradaban-peradaban yang lahir tersebut tidak lain dan tidak bukan dibangun di atas pilar-pilar yang kokoh. Pilar peradaban di dalam Islam itu sendiri adalah terintegrasinya antara iman, ilmu, dan amal. Iman sebagai fondasi spiritual manusia, ilmu sebagai penanda kemajuan intelektual dan pengetahuan, dan amal merupakan aksi nyata dalam kehidupan sosial. Jika ketiganya benar-benar bersatu dalam sebuah gerakan maka terciptalah apa yang disebut dengan masyarakat madani yang beradab.
Maka jika kita coba lihat realitas dunia yang terjadi saat ini. Konflik dan peperangan sedang terjadi di mana-mana. Negara-negara adidaya berebut pengaruh dan kuasa. Perang yang terjadi bukan hanya perang angkat senjata namun juga perang pemikiran dan hegemoni global. Teknologi militer dibuat canggih sedemikian rupa lalu berebut klaim bahwa telah mencipta teknologi termutakhir.
Lalu banyak dari kita yang menyangka bahwa yang demikian itu adalah kemajuan peradaban modern. Namun di sisi yang lain kita lupa bahwa di balik prestasi mentereng itu selalu saja menyisakan krisis moral dan kemanusiaan yang tak berkesudahan. Ini jelas sulit untuk bisa disebut sebagai peradaban yang lahir dari masyarakat beradab apalagi dari masyarakat madani.
Ma’aasyiral muslimiin rahimakumullah…
Oleh karenanya, Ramadan pada hakikatnya mengajarkan nilai yang sangat dibutuhkan oleh dunia hari-hari ini. Kesadaran ilahiyah yang muncul karena berpuasa, dalam performa maksimalnya akan menciptakan kompas moral pada diri seseorang. Hal itu bisa menyadarkan kita bahwa tidak ada kekuasaan yang absolut kecuali kekuasaan yang dimiliki Allah SWT.
Ramadan juga mengajarkan kepada kita pengendalian diri atau hawa nafsu. Setidaknya sifat-sifat egois yang ada pada diri seseorang bisa lebih terkendali. Termasuk di antaranya ego kekuasaan yang selalu memelihara nafsu untuk berkuasa sejadi-jadinya. Maka puasa hadir sebagai perisai bagi seorang muslim agar terhindar dari hawa nafsu yang bisa saja membabi buta dalam merusak pikiran dan hati manusia.
Selain itu puasa Ramadan juga melatih diri kita untuk menjadi pribadi yang mempunyai integritas tinggi. Tetap mejaga perilaku dari dosa-dosa yang bisa membatalkan puasa sekalipun tidak dilihat oleh orang lain merupakan sarana untuk menumbuhkan integritas yang kuat. Dengan demikian seorang muslim yang berhasil puasa dengan baik akan mempunyai mutu serta kualitas yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran.
Ma’aasyiral muslimiin rahimakumullah…
Barangkali nilai-nilai dari Ramadan itulah yang saat ini benar-benar dibutuhkan oleh dunia. Ramadan bukan saja menghasilkan hamba-hamba yang soleh dalam ibadah ritualnya saja. Dalam pada itu, Ramadan benar-benar mampu menghasilkan kesalehan sosial yang merekonstruksi berbagai dimensi peradaban kemanusiaan.
Maka pada momentum penuh kemenangan ini kita tanyakan pada diri kita sendiri. Apakah nilai-nilai Ramadan itu akan berhenti setelah Ramadan berakhir? Tentu saja yang menjadi harapan kita bersama adalah nilai-nilai Ramadan itu menjadi karakter permanen di sepanjang kita menjalani hidup di dunia ini. Sebab Ramadan adalah madrasah pembentukan manusia dan peradaban. Dengan demikian manusia bisa menjadi lebih jujur, masyarakat menjadi lebih beradab, dan dunia menjadi lebih damai.
Aamiin yaa rabbal ‘alamiin…
Wallahu a’lam bis shawaab.
(YY)



