IBTimes.ID – Meningkatnya berbagai persoalan sosial di kalangan generasi muda menjadi perhatian serius Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Mulai dari perundungan, kekerasan dalam rumah tangga, krisis kesehatan mental, hingga fenomena anak muda yang mulai kehilangan arah hidup dinilai membutuhkan kehadiran ulama perempuan yang lebih responsif dan dekat dengan realitas masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, dalam Pembukaan Konferensi dan Silaturahmi Nasional Ulama ‘Aisyiyah di SM Tower Malioboro Yogyakarta, Senin (18/05).
Menurut Salmah, tantangan kehidupan modern saat ini tidak bisa dijawab hanya dengan pendekatan normatif dan ceramah keagamaan semata. Ulama dituntut mampu menghadirkan solusi konkret yang menyentuh persoalan sosial dan kemanusiaan secara langsung.
“Ulama harus menjadi cahaya di tengah masyarakat dan memiliki moral serta akhlak yang mulia,” ujarnya.
Ia menilai, keberadaan ulama memiliki peran strategis dalam menjaga arah peradaban, terutama ketika generasi muda mulai menghadapi kebingungan identitas dan krisis nilai di tengah derasnya arus perubahan global.
“Peradaban bisa terputus jika generasi muda kehilangan arah,” katanya.
Salmah menjelaskan bahwa istilah ulama sebenarnya memiliki makna luas dan tidak terbatas hanya pada penguasaan ilmu agama tertentu. Ia mengutip pandangan almarhum Azyumardi Azra yang memaknai ulama sebagai sosok yang memiliki keluasan ilmu sekaligus tanggung jawab sosial terhadap masyarakat.
Dalam konteks itu, ia menegaskan bahwa perempuan juga memiliki ruang dan legitimasi untuk menjadi ulama selama memiliki kompetensi keilmuan dan kapasitas keagamaan yang memadai.
Ulama Perempuan dan Dakwah yang Membumi
Bagi ‘Aisyiyah, kata Salmah, keberadaan ulama perempuan penting untuk memperkuat dakwah yang lebih membumi dan responsif terhadap persoalan masyarakat modern, khususnya yang berkaitan dengan perempuan, anak, dan keluarga.
Ia menyebut istilah “Ulama ‘Aisyiyah” digunakan untuk kader perempuan yang tidak hanya memiliki kapasitas keilmuan, tetapi juga kepedulian sosial dan kemampuan membimbing masyarakat.
Salmah juga mengingatkan bahwa sejarah Islam telah mencatat banyak perempuan berilmu yang memberi kontribusi besar terhadap perkembangan dakwah dan peradaban.
Sosok seperti Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Salamah, hingga Rabiah al-Adawiyah disebut sebagai contoh ulama perempuan dalam tradisi Islam.
Sementara di Indonesia, tokoh seperti Rasuna Said, Rahmah El Yunusiyyah, dan Siti Walidah menjadi teladan dakwah berbasis pendidikan dan pelayanan sosial.
Menurut Salmah, pemikiran Islam yang dikembangkan ulama ‘Aisyiyah ke depan harus mampu menjawab berbagai persoalan kontemporer, termasuk dinamika keluarga modern, perlindungan perempuan dan anak, hingga meningkatnya kecenderungan generasi muda bersikap agnostik.
Ia menegaskan bahwa dakwah Islam harus terus hadir dengan pendekatan yang menyejukkan dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas.
“Islam harus hadir untuk memuliakan manusia,” pungkasnya. (NS)


