back to top
Selasa, Mei 12, 2026

Saad Ibrahim: Kader Ulama Muhammadiyah Harus Jadi Penggerak Peradaban

Lihat Lainnya

IBTimes.IDKetua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Saad Ibrahim, menegaskan bahwa kader ulama Muhammadiyah tidak cukup hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan umat dan tantangan peradaban modern. Pesan itu disampaikan dalam acara Haflah Akhirussanah wat Takharruj santri Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut, Minggu (11/5/2026).

Dalam pidatonya, Saad menjelaskan bahwa ulama memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan sosial sekaligus penjaga nilai-nilai keislaman di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks. Ia mengutip QS. Al-Fathir ayat 27–29 sebagai landasan penting tentang hakikat ulama dalam Islam.

Menurutnya, ulama bukan hanya sosok yang memiliki pengetahuan agama, tetapi juga pribadi yang beriman, bertakwa, serta memiliki kesadaran spiritual tinggi kepada Allah SWT.

“Maknanya, Allah mengetahui tentang kehebatan manusia, tetapi tentu kehebatan manusia jauh dari kehebatan Allah sendiri,” jelasnya.

Saad mengingatkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tanpa dimensi teologis dapat melahirkan kerusakan dan tindakan destruktif bagi kehidupan manusia. Sebaliknya, ilmu yang digunakan untuk kemaslahatan akan menjadi kekuatan besar dalam membangun peradaban.

“Ketika manusia memiliki kehebatan dalam science, tetapi tidak diberi dimensi teologis, maka hal itu bisa menjadi bagian dari tindakan destruktif yang dahsyat di muka bumi. Sebaliknya, jika digunakan untuk kemaslahatan, dampaknya juga akan sangat besar,” imbuhnya.

Ulama Muhammadiyah Harus Kuasai Ilmu dan Realitas Sosial

Dalam kesempatan tersebut, Saad juga memaparkan lima karakter utama yang harus dimiliki kader ulama Muhammadiyah. Pertama, memahami fenomena alam dan perkembangan ilmu pengetahuan. Kedua, memahami realitas sosial masyarakat. Ketiga, menguasai Al-Qur’an dan Sunnah. Keempat, mampu membangun relasi sosial sambil terus mengingat Allah. Kelima, memiliki komitmen sosial untuk mengamalkan ilmu bagi kepentingan umat.

Baca Juga:  Meluruskan Bacaan Takbir Hari Raya: Bukan Walilla-Ilhamd tapi Walillahilhamd

Menurut Saad, karakter tersebut merupakan warisan tradisi keilmuan Muhammadiyah yang sejak awal dibangun KH Ahmad Dahlan. Pendiri Muhammadiyah itu disebut tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ilmu umum seperti matematika, ilmu bumi, hisab, dan falak.

“Selain mempelajari ilmu nusus seperti Al-Qur’an, hadis, dan sunnah, beliau juga mengajarkan ilmu bumi, ilmu hitung, ilmu hisab, hingga ilmu falak. Itulah salah satu implementasi keulamaan yang diwariskan KH Ahmad Dahlan kepada Muhammadiyah,” ungkapnya.

Saad menilai model keulamaan Muhammadiyah harus terus diperkuat agar mampu menjawab tantangan global, termasuk perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga problem kemanusiaan yang semakin kompleks.

Ia berharap para santri dan kader ulama Muhammadiyah memiliki cara pandang luas dalam memahami ilmu pengetahuan, sehingga tidak terjebak pada pendekatan keagamaan yang sempit. Menurutnya, ulama masa depan harus mampu menjadi jembatan antara nilai-nilai Islam, kemajuan ilmu pengetahuan, dan kebutuhan masyarakat modern.

Dengan pendekatan tersebut, kader ulama Muhammadiyah diharapkan dapat terus menjadi kekuatan moral, intelektual, dan sosial dalam membangun peradaban yang berkemajuan. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru