back to top
Selasa, Mei 26, 2026

Khutbah Iduladha: Menyembelih Naluri, Bukan Sekedar Domba

Lihat Lainnya

Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
الْحَمْدُ للهِ الذي صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَ بَعْدَهُ، اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ، أمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الله، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وقالَ الله تعالى: وَوَصَّى بِهَا إِبْرَهِيْمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُ يَا بُنَيَّ إِنَّ الله اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Segala puji hanyalah milik Allah SWT, Rabb semesta alam, yang melimpahkan nikmat tanpa batas kepada hamba-hamba-Nya. Setiap denyut jantung, udara yang kita hirup, keluarga yang kita peluk, hingga kesempatan bersujud pagi ini adalah karunia yang tak mungkin dihitung dengan angka dan logika manusia. Karena itu, syukur bukan sekadar ucapan di bibir, melainkan kesediaan mengabdikan hidup kepada-Nya. Salah satu bentuk syukur tertinggi adalah kesediaan berkorban: mengorbankan harta, ego, keserakahan, dan segala yang membuat manusia jauh dari Tuhannya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. (QS Al-Kautsar [108]:1-2).

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, manusia agung yang mengajarkan bahwa kemuliaan hidup bukan diukur dari banyaknya yang dimiliki, tetapi dari banyaknya yang diberikan. Kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh pewaris risalah yang menjaga cahaya Islam tetap menyala di tengah zaman yang sering kehilangan arah.

Hari ini takbir berkumandang di seluruh penjuru bumi. Dari menara masjid, rumah-rumah sederhana, jalanan kota, hingga lembah-lembah sunyi, nama Allah dibesarkan. Di saat yang sama jutaan manusia bergerak menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina memenuhi panggilan langit yang telah menggema sejak zaman Nabi Ibrahim as. Mereka datang dengan pakaian yang sama, meninggalkan simbol status dan kemewahan dunia, seolah Allah sedang mengajarkan bahwa pada akhirnya manusia hanyalah makhluk kecil yang akan kembali kepada-Nya tanpa membawa apa pun selain amal dan ketakwaan.

Sementara mereka thawaf mengelilingi Ka’bah, kita di sini bertakbir, berpuasa Arafah, dan menyembelih qurban. Walau berbeda tempat, ruh ibadahnya sama: mendekat kepada Allah SWT. Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan, melainkan madrasah ruhani untuk membersihkan hati yang mulai dipenuhi debu dunia.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Hari raya Idul Adha bukanlah sekadar tradisi menyembelih hewan. Ia adalah samudra makna yang mengajarkan manusia bagaimana mengubah darah menjadi kasih, dan daging menjadi kemanusiaan. Ia adalah panggilan langit agar setiap insan menyembelih sisi tergelap jiwanya—naluri kebinatangan yang membisikkan keserakahan, egoisme, dan hasrat memangsa.

Dalam kegelapan sejarah panjang, manusia pernah hidup gemetar di hadapan alam. Petir, wabah, meletusnya gunung, dan gelombang laut menjadikan mereka budak ketakutan. Maka lahirlah keyakinan bahwa kekuatan-kekuatan gaib harus diredakan dengan kurban darah. Bangsa Viking mempersembahkan darah kepada Odin dan Thor demi kemenangan perang. Mitologi Yunani menghaturkan sapi dan kambing di altar Zeus dan Poseidon agar panen tidak gagal. Bahkan peradaban Maya dan Aztec merobek jantung manusia sebagai mahkota persembahan agar matahari terus terbit. Altar-altar dipenuhi darah, kuil-kuil bergema dengan jeritan korban, dan tuhan-tuhan khayalan digambarkan sebagai penguasa murka yang haus persembahan.

Baca Juga:  Berikut Doa yang Dibaca Setelah Salat Hajat

Tradisi pengorbanan juga dilakukan masyarakat Jahiliha pra islam. Sebenarnya bangsa Arab pada awalnya masih berada di atas ajaran tauhid Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, hingga kemudian ‘Amr bin Luhai al-Khuza‘i pergi ke Syam dan melihat tradisi penyembahan berhala. Ia lalu membawa patung Hubal ke Makkah dan meletakkannya di Ka‘bah, sehingga tradisi syirik mulai menyebar di Jazirah Arab. Setelah itu berbagai kabilah membawa berhala masing-masing hingga jumlahnya mencapai sekitar 360 berhala di sekitar Ka‘bah.

Masyarakat Jahiliyyah kemudian melakukan penyembelihan hewan sebagai ritual persembahan kepada berhala, jin, dan sesembahan mereka, terutama saat musim haji, nazar, permohonan keselamatan, kemenangan perang, atau kebanggaan kabilah. Darah hewan kadang dipercikkan atau diusap pada berhala dan sekitar Ka‘bah sebagai simbol pendekatan spiritual, sementara dagingnya sebagian dimakan bersama atau dijadikan jamuan sosial. Islam lalu merevolusi tradisi ini dengan memurnikan kurban hanya untuk Allah, menghapus unsur syirik dan pengagungan darah, serta mengubah makna pengorbanan menjadi sarana ketakwaan dan kepedulian sosial.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Namun Islam datang—bukan sebagai sekadar agama baru, melainkan sebagai revolusi spiritual yang membongkar fondasi kuno tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala bukanlah Tuhan yang lapar darah, bukan Zat yang membutuhkan daging persembahan. Dialah Yang Mahakaya lagi Mahasuci dari segala kebutuhan. Maka firman-Nya menjadi cahaya yang membedakan:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang sampai kepada-Nya. Demikianlah Dia menundukkannya untuk kalian agar kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya kepada kalian. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Surat al Hajj: 37)

Inilah titik balik peradaban: darah yang dulu dipercikkan ke altar dewa-dewa mitologi, kini menjadi kebaikan yang mengalir ke perut fakir miskin, anak yatim, dan tetangga yang kelaparan. Allah tidak butuh daging, tetapi Dia melihat ketulusan hati. Jika dewa-dewa kuno haus darah, maka Allah hanya menerima takwa, yaitu kondisi jiwa yang telah bersih dari kebinatangan menuju cahaya kemanusiaan.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Sekarang kita bertanya: apa hakikat manusia? Jika hanya dinilai dari fisik, manusia kalah dari gajah dalam kekuatan, kalah dari citah dalam kecepatan, kalah dari elang dalam ketajaman mata, kalah dari anjing dalam penciuman. Maka kemuliaan manusia tidak terletak pada taring atau cakar. Sebab hukum rimba berkata: “Yang terkuatlah yang berkuasa.” Namun Islam membalik logika itu dengan firman Allah:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (al Hujurat: 13)

Maka tolok ukurnya bukanlah kemampuan memangsa, melainkan kemampuan menundukkan nafsu kebinatangan dalam diri. Manusia menjadi agung bukan karena berhasil mengalahkan orang lain, tetapi karena berhasil mengalahkan ego dan keserakahannya sendiri.

Karena itulah, penyembelihan hewan kurban sesungguhnya adalah simbol, teater suci yang mengajarkan bahwa yang wajib kita sembelih pertama kali adalah:

 Keserakahan (الطمع) yang tak pernah puas,
 Egoisme (الأنانية) yang menolak berbagi,
 Kerakusan (الشراهة) yang menghalalkan segala cara,
 Kesombongan (الكبر) yang merasa paling benar,
 Kebencian (الحقد) yang membakar hati,
 Hasrat memangsa (عدوانية السبع) sesama manusia.

Sebab ketika manusia dikuasai naluri kebinatangan, ia bisa lebih buas dari serigala. Binatang hanya membunuh ketika lapar; manusia kadang membunuh demi pangkat, kekuasaan, atau sekadar ambisi. Binatang hanya berebut mangsa untuk perutnya; manusia berebut harta untuk pamer. Islam datang untuk memutus rantai kegelapan ini dengan mengajarkan bahwa inti terdalam dari setiap ibadah adalah rahmat.
Maka rahmat adalah denyut nadi Islam. Bukan sekadar ritual, bukan formalitas, melainkan humanitas universal, cinta kasih yang melampaui suku, agama, dan warna kulit.

Baca Juga:  Doa agar Tidak Dimabuk Cinta Pasangan Tidak Halal

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Idul Adha adalah madrasah yang mengajarkan kita keluar dari hukum rimba menuju peradaban kasih. Jika binatang melindungi gerombolannya sendiri, Islam mengajarkan persaudaraan universal. Jika binatang membiarkan yang lemah tersingkir, Islam memerintahkan kita memeluk mereka. Sabda Nabi saw:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam rasa cinta, kasih sayang, dan saling menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)

Bukankah tubuh ini (umat manusia) kini sedang merintih? Di sekitar kita, di negeri ini, dan di seluruh penjuru bumi, ada anak-anak yang menahan lapar, ibu-ibu yang menangis diam-diam, orang tua renta yang berjalan jauh demi sepotong roti. Jika hukum rimba yang berlaku, mereka akan dibiarkan mati. Tetapi Islam justru menjadikan mereka sebagai alasan kita berkurban.

Kurban bukanlah ibadah tahunan tanpa sambungan. Ia adalah pendidikan sosial yang mengajarkan bahwa takwa harus mengalir menjadi kepedulian. Sebab Allah tidak melihat apakah daging kurbannya gemuk atau kurus, melainkan apakah hati kita telah bersih dari naluri mematikan.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Maka, marilah kita renungkan: setelah pisau sembelihan diangkat, setelah darah mengalir ke tanah, apakah kita berhenti sebagai manusia? Tidak. Idul Adha mengajarkan bahwa penyembelihan sejati berlanjut sepanjang hayat. Setiap hari kita harus menyembelih ego kita yang sombong, menyembelih kedengkian yang menggerogoti, menyembelih hasrat untuk menindas yang lemah.

Inilah makna tersembunyi Idul Adha: ia adalah manifestasi jihad batin, perjuangan keluar dari kebinatangan menuju insan kamil, manusia universal yang memancarkan rahmat ke semesta. Jika kita hanya menyembelih kambing tetapi hati kita tetap buas, maka kita belum merasakan hakikat kurban. Jika kita hanya membagikan daging tetapi jiwa kita masih dipenuhi kebencian, maka kita sekadar menjalankan ritual tanpa ruh.

Karena itu, wahai saudaraku, jadikan Idul Adha ini sebagai titik tolak, sebuah sumpah suci untuk tidak menjadi serigala bagi sesama, melainkan menjadi penyejuk bagi mereka yang kepanasan, menjadi makanan bagi mereka yang kelaparan, menjadi cahaya bagi mereka yang tersesat.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Ketahuilah bahwa setelah Idul Adha berlalu, jangan biarkan semangat kurban mati di tempat pemotongan. Jadikanlah seluruh hidupmu sebagai kurban, persembahan suci bagi kebaikan sesama. Jika engkau memiliki harta, jadilah ia air bagi dahaga fakir. Jika engkau memiliki ilmu, jadilah ia lentera bagi kegelapan kebodohan. Jika engkau memiliki kekuasaan, jadilah ia perisai bagi yang lemah. Jika engkau memiliki kekuatan, gunakanlah untuk menolong, bukan untuk menindas.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Maka hakikat manusia bukan terletak pada apa yang ia miliki, melainkan pada seberapa besar manfaat yang ia alirkan ke dunia. Sebab manusia yang dipenuhi sifat-sifat ilahiah akan memancarkan rahmat, keadilan, dan kelembutan. Sebaliknya, manusia yang dikuasai hawa nafsu akan menjadikan hidup sebagai rimba perebutan mangsa.

Idul Adha adalah perjalanan spiritual yang agung: dari ego menuju empati, dari kerakusan menuju pengorbanan, dari kebinatangan menuju humanitas universal. Ia adalah madrasah yang mengajarkan bahwa puncak ibadah adalah ketika seorang hamba tidak lagi menjadi tawanan nafsunya, melainkan menjadi khalifah yang menebarkan kasih sayang di muka bumi.

Baca Juga:  Buletin Jumat: Praktik Toleransi ala Rasulullah

Semoga Allah menjadikan kita manusia-manusia yang tidak hanya rajin bertakbir, tetapi juga menghadirkan makna takbir dalam setiap hela napas: mengagungkan Allah dengan mengagungkan kemanusiaan.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Akhirnya, marilah kita akhiri ibadah shalat Idul Adha pada hari ini dengan dengan bermunajat, menundukkan wajah dan hati kita seraya berdoa:

أَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ, وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَبَارِكْ وَسَلِّمَ اَجْمَعِيْنَ

“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kehormatan, keberkahan dan kesejahteraan kepada junjungan kita Nabi Muhammad beserta keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan kepada para pengikutnya semua.”

وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, حَمْدًايُّوَافِيْ نِعَامَهُ وَيُكَافِيْ مَزِيْدَةْ

“Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam, dengan pujian yang sesuai dengan nikmat-nikmat-Nya dan memadahi dengan penambahan-Nya.”

يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَضِيْمِ سُلْطَانِكَ

“Wahai Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji, sebagaimana pujian itu patut terhadap kemulian-Mu dan keagungan-Mu.”

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selamakami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا

Ya Allah, jadikanlah mereka (para jamaah haji) haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, perdagangan yang tidak akan mengalami kerugian

الَّلهَمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ، رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزِّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru