back to top
Selasa, Mei 12, 2026

Anak Muda Lintas Iman di Banyuwangi Olah Buah Naga Jadi Gerakan Ekonomi Hijau

Lihat Lainnya

IBTimes.IDUpaya menghadapi krisis iklim dan menjaga keberlanjutan lingkungan terus didorong dari tingkat akar rumput hingga lintas iman. Salah satunya dilakukan SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi melalui kegiatan Kick Off Inkubasi Ecosociopreneur Selai Buah Naga yang digelar di Dusun Sumberjambe, Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi, Minggu (10/5/2026).

Program ini menjadi ruang kolaborasi bagi anak muda lintas agama, perempuan, dan masyarakat lokal untuk mengembangkan usaha berbasis pangan lokal yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Peserta kegiatan berasal dari berbagai organisasi dan komunitas seperti Nasyiatul Aisyiyah, APUNA Banyuwangi, Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia, hingga komunitas AMONG (Anak Muda Eco Bhinneka Blambangan).

Focal Point SMILE Eco Bhinneka Banyuwangi, Zahrotul Janah, menjelaskan bahwa Desa Temurejo memiliki potensi besar melalui komoditas buah naga yang selama ini menjadi sumber ekonomi masyarakat. Melalui program inkubasi tersebut, peserta didampingi mulai dari proses produksi, standar keamanan pangan, pengemasan, hingga pemasaran digital agar produk lokal memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

“Desa Temurejo sangat lekat dengan pertanian buah naga sebagai komoditas utama. Hari ini kita belajar bersama bagaimana buah naga dapat diolah menjadi produk lain seperti selai dan makanan olahan lain sehingga memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” ujarnya.

Menurut Zahrotul, gerakan menjaga pangan lokal dan membangun usaha ramah lingkungan merupakan langkah sederhana namun penting dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Baca Juga:  Muhammadiyah Dorong Pesantren Lakukan Efisiensi dan Transisi Energi

“Mengatasi krisis iklim tidak selalu dimulai dari hal besar; menjaga pangan lokal, mencintai bumi, dan membangun usaha yang berkelanjutan adalah bentuk perlawanan nyata yang bisa dimulai dari langkah kecil bersama,” tambahnya.

Dorong Anak Muda Lintas Iman Peduli Lingkungan

Ketua Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur, Desi Ratnasari, mengapresiasi kolaborasi lintas iman yang dibangun dalam kegiatan tersebut. Ia menilai konsep ecosociopreneur bukan hanya berbicara tentang keuntungan ekonomi, tetapi juga tentang tanggung jawab menjaga lingkungan dan memperkuat potensi lokal.

“Ada potensi lokal yang harus dijaga dan dikembangkan secara kreatif dan kolaboratif sehingga dapat melahirkan pengusaha perempuan yang mandiri, inovatif, dan peduli lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Program Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, menyoroti dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan masyarakat, termasuk menurunnya hasil panen akibat cuaca tidak menentu.

Ia menilai pengolahan buah naga menjadi produk pangan berkelanjutan dapat menjadi bentuk edukasi sekaligus gerakan nyata mencintai bumi.

“Tidak semata tentang jual beli, tetapi membangun rasa cinta terhadap bumi dan menghadirkan produk olahan yang tidak memperparah krisis iklim,” katanya.

Dalam sesi praktik, peserta mendapat pelatihan membuat selai buah naga berbasis zero waste. Seluruh bagian tanaman dimanfaatkan, mulai dari buah, kulit, hingga batangnya sehingga meminimalkan limbah produksi. Peserta juga didorong menggunakan kemasan ramah lingkungan seperti botol kaca dan konsep membawa wadah sendiri untuk mengurangi sampah plastik.

Baca Juga:  Dukung Aksi Iklim, Wakaf Hutan Jadi Program Prioritas Kemenag

Melalui program ini, Eco Bhinneka Muhammadiyah berharap lahir generasi pengusaha muda berbasis pangan lokal yang mampu memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan solidaritas lintas iman. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru