back to top
Senin, Mei 11, 2026

Generasi Hijau dan Dompet yang Berbicara

Lihat Lainnya

Khilmi Zuhroni
Khilmi Zuhroni
Ketua Majelis Lingkungan Hidup PDM Kotawaringin Timur

Ada sesuatu yang bergeser secara fundamental dalam cara anak muda membeli barang. Bukan sekadar tren sesaat atau gaya hidup musiman. Fenomena ini  adalah perubahan struktural dalam sistem nilai yang menentukan pilihan konsumsi sebuah generasi. Ketika seorang konsumen muda memilih sabun mandi dengan kemasan daur ulang, atau menolak merek pakaian yang tak transparan soal rantai pasokannya. Ia sedang menjalankan sebuah tindakan politik yang membungkus dirinya dalam gestur ekonomi.

Dari kacamata sosiologi ekonomi, fenomena ini menarik justru karena ia menantang asumsi klasik tentang perilaku konsumen. Teori rasionalitas ekonomi tradisional berangkat dari premis bahwa konsumen selalu memaksimalkan utilitas dengan biaya minimum. Namun anak muda hari ini tampaknya mengoperasikan kalkulasi yang lebih kompleks. Di mana nilai ekologis dan etis masuk ke dalam persamaan sebagai variabel yang tak bisa diabaikan.

Data menegaskan ini secara konsisten. Bersumber dari laporan Radial (2024), dua pertiga konsumen muda menyatakan kemungkinan besar akan membeli dari merek yang berkomitmen pada keberlanjutan. Dan 69 persen meyakini bahwa merek bertanggung jawab atas pengurangan jejak karbon mereka.

Lebih jauh, 54 persen Gen Z dan 50 persen Milenial bersedia membayar 10 persen lebih mahal untuk produk ramah lingkungan. Ini bukan angka kecil. Dalam skala pasar global, kesediaan membayar premi ekologi dari dua generasi terbesar secara demografis ini merupakan kekuatan ekonomi yang signifikan.

Baca Juga:  PTN Kenyang, PTS Tersedak: Liberalisasi PMB yang Salah Arah

Namun yang lebih mengungkap karakter generasi ini bukan sekadar kesediaan membayar lebih, melainkan motivasi di baliknya. Survei tahun 2024 dari Universitas Bath menemukan bahwa kecemasan iklim merupakan respons emosional. Yang umum di kalangan Gen Z dan Milenial terhadap perubahan iklim, dan generasi ini lebih cenderung terlibat dalam aktivisme iklim.

Mendukung kebijakan lingkungan, serta membuat pilihan konsumsi yang berkelanjutan dibandingkan generasi sebelumnya. Artinya, pembelian produk hijau bagi mereka bukan semata kalkulasi ekonomi. Melainkan juga ekspresi identitas dan respons psikologis terhadap krisis ekologis yang mereka rasakan secara nyata.

Tiga perempat Gen Z menyatakan bahwa keberlanjutan lebih penting bagi mereka dibanding nama merek ketika berbelanja. Dan sekitar 64 persen bersedia membayar lebih untuk produk yang ramah lingkungan meskipun mereka sering kali memiliki anggaran yang terbatas.

Di sinilah letak paradoks yang menarik secara sosiologis: ini bukan generasi yang kaya. Namun ia memilih untuk “berkorban” secara finansial demi nilai yang diyakininya. Ini adalah perilaku konsumen yang lebih dekat dengan tindakan moral ketimbang tindakan ekonomi semata.

Tahun 2023, temuan dari McKinsey dan NielsenIQ juga mengonfirmasi bahwa pasar produk hijau tumbuh lebih cepat dari pasar konvensional. Produk-produk dengan klaim terkait ESG (lingkungan, sosial, dan tata kelola) menyumbang 56 persen dari seluruh pertumbuhan pasar selama lima tahun terakhir. Sekitar 18 persen lebih tinggi dari yang seharusnya berdasarkan pangsa pasar awalnya. Ini menunjukkan bahwa preferensi anak muda benar-benar menggerakkan permintaan, bukan hanya menghiasi survei.

Baca Juga:  Enam Hal yang Dapat Menghancurkan Manusia Menurut Anthony de Mello

Survei Deloitte pada 2023 yang mencakup 23 negara. Melaporkan bahwa 46 persen konsumen telah membeli setidaknya satu produk atau layanan berkelanjutan. Dalam sebulan, dengan 27 persen menyatakan bersedia membayar premi rata-rata untuk keberlanjutan. Sementara itu, konsumen juga memberi sinyal kesiapan untuk memberikan penghargaan kepada merek inovatif yang memenuhi janji keberlanjutan mereka. Dengan kesediaan membayar premi rata-rata 27 persen lebih tinggi.

Namun fenomena ini tidak hadir tanpa tegangan internal. Penelitian dari McKinsey pada awal 2024 mencatat situasi yang lebih dinamis. Di Eropa dan Amerika Serikat, lebih sedikit Gen Z dan Milenial yang menempatkan klaim keberlanjutan. Sebagai faktor pembelian penting dibanding tahun sebelumnya.

Seiring dengan tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi yang memaksa mereka melakukan kompromi. Ini adalah pengingat bahwa idealisme konsumsi hijau tidak hidup dalam ruang hampa. Akan tetapi ia berinteraksi dengan realitas daya beli dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Di sinilah analisis sosiologis menjadi penting. Kesenjangan antara intensi dan perilaku yang sering disebut “attitude-behavior gap” dalam literatur sosiologi konsumsi. Bukan bukti kemunafikan, melainkan cermin dari kontradiksi struktural yang lebih dalam. Gen Z menampilkan kecenderungan psikologi positif terhadap lingkungan, menghargai keterjangkauan, kualitas, loyalitas.

Dan ketersediaan produk hijau, namun disposisi psikologis ini sering gagal diterjemahkan ke dalam pembelian berkelanjutan yang konsisten. Sistem ekonomi yang ada belum sepenuhnya berpihak pada konsumsi berkelanjutan. Dimana produk hijau masih lebih mahal, distribusinya tidak merata, dan greenwashing perusahaan mengaburkan pilihan yang tersedia.

Baca Juga:  Tasawuf di Muhammadiyah (2): Diskursus Tasawuf dalam Muhammadiyah

Meski demikian, tren jangka panjangnya jelas. Sekitar 30 persen Gen Z secara aktif meneliti kebijakan lingkungan sebuah perusahaan sebelum membeli. Sesuatu yang hampir tidak pernah dilakukan konsumen generasi yang lebih tua. Tingkat literasi ekologis yang tinggi ini, dikombinasikan dengan akses informasi melalui media sosial. Menciptakan konsumen yang jauh lebih kritis dan selektif. Mereka bukan hanya pembeli, mereka adalah auditor informal dari etika korporasi.

Dari perspektif sosiologi ekonomi, Apa yang kita saksikan adalah lahirnya sebuah rezim konsumsi baru. Di mana pasar tidak hanya digerakkan oleh harga dan preferensi pribadi. Tetapi juga oleh nilai-nilai kolektif yang dibentuk oleh kesadaran krisis ekologis global. Generasi ini, yang tumbuh dewasa di tengah berita banjir, kebakaran hutan, dan laporan IPCC. Tidak bisa lagi memisahkan tindakan membeli dari dampak ekologisnya.

Dompet mereka, sedikit demi sedikit, sedang menjadi instrumen perubahan. Dan perusahaan yang gagal membaca sinyal ini bukan hanya akan kehilangan pelanggan. Mereka akan kehilangan relevansi di masa depan yang sedang dibentuk oleh generasi yang paling sadar lingkungan dalam sejarah konsumerisme modern.

(Nashuha)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru