Dunia teknologi semakin maju. Manusia kini hidup bukan hanya dalam dunia nyata, melainkan juga dunia digital yang serba semu, bahkan kadang menipu. Dahulu, manusia memerlukan waktu panjang untuk berkomunikasi dengan sanak saudara di seberang pulau. Namun kini, hanya dengan satu klik, pesan dapat tersampaikan tanpa memandang jarak.
Dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat ini, tentu banyak membantu pekerjaan manusia. Mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur, manusia tak lepas dari teknologi. Namun, di balik segala kemudahan itu, muncul pula berbagai persoalan. Kemalasan dan ketergantungan terhadap teknologi perlahan-lahan membunuh produktivitas dan kreativitas manusia.
Di tempat dan lingkungan saya bertumbuh, membaca dan menulis adalah budaya yang terus dilestarikan. Maka tak heran jika rekan sejawat saya berlomba-lomba memperbanyak bacaan serta menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan seperti ini, yang nantinya dapat terbit di berbagai laman terkemuka.
Hari demi hari berlalu, kemajuan teknologi pun tak dapat dihindari karena ia merupakan keniscayaan. Seiring dengan itu, keindahan kehidupan yang penuh nuansa intelektual mulai tergeser oleh kehadiran gawai yang melenakan. Buku dibiarkan berdebu, tak lagi disentuh. Membukanya saja enggan, apalagi menyelesaikan bacaan dalam waktu sepekan.
Budaya yang Mulai Tergeser
Pergeseran budaya ini menimbulkan kegelisahan. Tanpanya, kehampaan hidup perlahan terasa. Menggulir layar berjam-jam tanpa makna, mengejar rank (peringkat) dalam Mobile Legend tanpa guna. Dari situ timbul pertanyaan: apa makna kehidupan ini?
Dahulu, para pejuang bangsa rela mengorbankan nyawa demi meraih kemerdekaan. Kini sebaliknya, para pemudanya “terbunuh” oleh kemalasan. Kehidupan dijalani tanpa arah dan makna.
Apa arti kehidupan jika kemalasan telah menguasai? Apa arti kreativitas jika semuanya dibantu teknologi (AI)? Apa arti produktivitas jika seluruh ruang telah dikuasai teknologi? Mampukah manusia menemukan makna sejati dalam hidupnya?
Realitas yang Menyekap Kreativitas
Di bangku perkuliahan, dahulu lahir banyak kisah heroik dan intelektual organik. Kini, realitasnya berubah. Mahasiswa lebih memilih bermain Mobile Legend di kelas daripada mendengarkan dosen. Kemudahan teknologi menjelma seperti bisikan yang membuat manusia terlena dan melupakan tanggung jawab serta amanah.
AI atau Artificial Intelligence kini banyak menggantikan peran mahasiswa. Tugas dapat diselesaikan dengan menyalin jawaban yang tersedia di layar. Bahkan presentasi pun sering kali bergantung pada AI.
Produktivitas dan kreativitas mahasiswa perlahan tergerus. Mereka lebih memilih cepat selesai daripada memahami makna dari materi yang dipelajari.
Tak hanya mahasiswa, sebagian dosen pun bersikap pragmatis. Ada yang kurang memperhatikan kreativitas mahasiswa dan justru mendukung penggunaan AI secara penuh. Bahkan, materi pembelajaran terkadang juga bersumber dari AI. Inilah yang menimbulkan keresahan: masih relevankah kuliah di masa sekarang?
Karya yang Tak Lagi Otentik
Membaca dan menulis adalah aktivitas positif yang melekat pada kehidupan manusia. Menyelesaikan sebuah buku menjadi kebanggaan tersendiri, terlebih jika mampu menjelaskannya kepada orang lain. Begitu pula menulis, sebuah karya otentik yang terbit dan dibaca banyak orang akan menghadirkan kepuasan tersendiri.
Membaca dan menulis adalah pekerjaan abadi. Dalam setiap aspek kehidupan, manusia dituntut untuk terus belajar, dan inti dari belajar adalah membaca dan menulis.
Melihat pentingnya hal tersebut, esai ini merupakan upaya pribadi penulis untuk membebaskan diri dari kebodohan dan ketergantungan pada AI. Tulisan ini berangkat dari kritik atas realitas yang ada, namun kritik tidak akan bermakna tanpa solusi.
Paradoks antara kemajuan yang dibawa AI dan kemerosotan intelektual yang ditimbulkannya menjadi kegelisahan tersendiri. Ada dua kutub yang seakan tak bertemu: kelompok pro-AI dan kontra-AI. Masing-masing memiliki narasi dan argumentasinya. Namun, di luar itu, penulis mengajak pada sebuah integrasi untuk memperjelas peran manusia di era kecerdasan buatan.
Karya adalah Harga Diri
Sebuah karya akan bernilai jika lahir dari otentisitas, kreativitas, dan produktivitas individu. Jika tidak, maka ia kehilangan makna sebagai karya. Lalu, bagaimana jika sebuah karya sepenuhnya dihasilkan oleh AI? Apakah masih layak disebut karya?
Dalam konteks tulisan, karya seharusnya mencerminkan pergulatan batin, kedalaman analisis, dan kejujuran intelektual penulisnya. Jika sepenuhnya dihasilkan mesin yang hanya menyusun probabilitas kata, maka ruhnya hilang. Ia mungkin rapi secara struktur, tetapi hampa dari pengalaman, kegelisahan, dan kemanusiaan. Dengan demikian, tulisan yang sepenuhnya dihasilkan AI lebih tepat disebut sebagai produk olahan data, bukan karya.
Solusi dari persoalan ini bukanlah menolak teknologi secara membabi buta, melainkan mengintegrasikannya secara etis. AI harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti akal manusia.
Dalam dunia akademik, AI dapat dimanfaatkan sebagai asisten riset: mencari referensi, merangkum data, atau memperbaiki bahasa. Namun, ide, kerangka berpikir, analisis, dan kesimpulan harus tetap berasal dari manusia. Dengan demikian, produktivitas meningkat tanpa mengorbankan kreativitas dan otentisitas.
Mengembalikan Marwah Pendidikan
Menjawab pertanyaan tentang relevansi kuliah, jawabannya masih sangat relevan, dengan catatan, ekosistem pendidikan harus berbenah. Kampus tidak boleh hanya berorientasi pada hasil akhir yang mudah dimanipulasi AI, melainkan harus menekankan proses berpikir.
Dosen dan mahasiswa perlu menghidupkan kembali dialektika di ruang kelas. Ujian lisan, debat, dan diskusi kasus harus diutamakan. Dengan demikian, akan terlihat siapa yang benar-benar memahami dan siapa yang hanya bergantung pada teknologi.
Kecerdasan buatan adalah keniscayaan zaman yang tidak perlu dimusuhi. Namun, membiarkan diri dikuasai oleh kemudahan yang ditawarkannya adalah pilihan yang keliru. Karya adalah harga diri, dan harga diri intelektual terletak pada kemandirian berpikir.
Mari menghidupkan kembali budaya literasi, membaca untuk memperluas wawasan, dan menulis untuk merawat peradaban. Jangan biarkan teknologi merampas kemerdekaan akal budi. Sebab, secanggih apa pun AI, ia tidak akan pernah memiliki nurani, kebijaksanaan, dan empati. AI bukan jalan pintas intelektual, melainkan ujian bagi ketangguhan intelektualitas manusia.
(Nashuha)


