back to top
Rabu, Maret 25, 2026

Melihat Iran Dari Dekat: Mengapa Dunia Islam Tidak Boleh Diam?

Lihat Lainnya

Dr. Ade Jamarudin, SS, MA
Dr. Ade Jamarudin, SS, MA
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung Alumni Short Course di Qum, Iran (2022)

Masih lekat dalam ingatan saya, udara sejuk kota Qum pada musim gugur tahun 2022. Sebagai akademisi dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, melangkah di koridor-koridor perpustakaan besar dan madrasah di jantung intelektual Iran tersebut adalah sebuah perjalanan ruhani sekaligus intelektual. Saya menyaksikan para santri dan mullah muda berdiskusi sengit tentang filsafat Sadra, kedalaman tafsir, hingga isu-isu kontemporer kemanusiaan. Di sana, Islam bukan sekadar dogma, melainkan peradaban yang hidup, bernapas, dan penuh keramahan.

Namun, potret kedamaian yang saya saksikan dua tahun lalu itu kini tertutup debu mesiu dan desing jet tempur. Laporan media internasional hari-hari ini menyuguhkan narasi yang memilukan: eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah mencapai titik nadir. Langit Teheran, Isfahan, hingga situs-situs bersejarah yang dulu saya kagumi, kini terancam oleh agresi yang tak proporsional. Di tengah keriuhan geopolitik ini, sebuah pertanyaan besar menyeruak ke permukaan: Di manakah posisi dunia Islam? Mengapa kita seolah terpasung dalam diam saat salah satu pilar peradaban Islam sedang di ambang kehancuran?

Wajah yang Terdistorsi

Selama ini, narasi Barat berhasil membangun tembok prasangka yang tebal terhadap Iran. Iran seringkali dicitrakan hanya melalui lensa politik “garis keras” atau ancaman nuklir. Namun, bagi siapa pun yang pernah menapakkan kaki di sana, realitasnya jauh berbeda. Masyarakat Iran adalah masyarakat yang sangat menjunjung tinggi literasi, seni, dan kehormatan tamu (hospitality).

Baca Juga:  Baca Doa Ini Agar Terhindar menjadi Bahan Ghibah Orang Lain!

Saat mengikuti short course di Qum, saya melihat bagaimana institusi pendidikan di sana berusaha menjembatani tradisi dan modernitas. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang keilmuan Islam yang menyumbangkan emas bagi peradaban dunia. Ketika bom-bom jatuh di tanah itu, yang hancur bukan sekadar instalasi militer, melainkan pusat-pusat ilmu, museum-museum sejarah, dan masa depan jutaan warga sipil yang tak berdosa. Menghancurkan Iran sama saja dengan mengamputasi salah satu organ vital dalam tubuh besar umat Islam.

Melampaui Sekat Sektarian

Salah satu tantangan terbesar yang membuat dunia Islam ragu untuk bersuara adalah isu sektarianisme. Perbedaan Sunni dan Syiah seringkali dijadikan alat oleh kekuatan eksternal untuk memecah belah solidaritas. Namun, dalam konteks agresi militer yang dilakukan oleh aliansi AS-Israel hari ini, perdebatan teologis harus diletakkan di bawah payung besar kemanusiaan dan ukhuwah Islamiyah.

Kita harus sadar bahwa agresi ini bukan sekadar urusan satu mazhab. Ini adalah persoalan kedaulatan sebuah bangsa Muslim menghadapi hegemoni kekuasaan global yang timpang. Jika kita membiarkan Iran jatuh hari ini hanya karena perbedaan cara berwudu atau sejarah politik masa lalu, maka kita sedang melegitimasi pola penjajahan baru di dunia Islam. Logika domino ini sangat berbahaya; setelah Iran, siapa lagi yang akan menjadi target berikutnya? Keheningan kita hari ini adalah lampu hijau bagi penindasan di masa depan.

Iran dan Keadilan Global

Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran saat ini tidak bisa dilepaskan dari isu Palestina. Selama puluhan tahun, Iran secara konsisten menjadi salah satu negara yang paling vokal membela hak-hak rakyat Palestina di tengah banyak negara lain yang memilih jalur normalisasi atau diplomasi “malu-malu”.

Baca Juga:  Sejarah Panjang Konflik Iran: dari Safawiyah hingga Republik Islam

Dukungan dunia Islam terhadap Iran saat ini bukan berarti kita menyetujui seluruh kebijakan politik Teheran, melainkan sebuah bentuk perlawanan terhadap standar ganda internasional. Mengapa kepemilikan senjata di satu sisi dianggap legal, sementara di sisi lain dianggap ancaman yang menghalalkan invasi? Mengapa penindasan terhadap kedaulatan sebuah negara Muslim seolah menjadi “hal yang lumrah” dalam narasi keamanan global? Dunia Islam tidak boleh diam karena diam berarti mengamini ketidakadilan sistemik ini.

Peran Strategis Indonesia

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan pemegang mandat konstitusi untuk menghapuskan penjajahan di atas dunia, Indonesia memiliki tanggung jawab moral yang besar. Diplomasi Indonesia tidak boleh hanya berhenti pada retorika “prihatin”. Kita butuh langkah konkret dalam forum-forum internasional seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mendesak gencatan senjata dan menghentikan provokasi militer di kawasan Teluk.

Lembaga pendidikan seperti UIN dan organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah dan NU perlu menyuarakan solidaritas kemanusiaan ini. Kita harus mengedukasi umat bahwa membela Iran dari agresi asing adalah bagian dari membela marwah Islam secara keseluruhan. Kita butuh narasi tandingan yang menekankan pada perdamaian berbasis keadilan, bukan perdamaian yang dipaksakan lewat moncong senjata.

“Institusi pendidikan serta pilar kekuatan sipil Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) tidak boleh lagi berdiri di wilayah abu-abu. Inilah saatnya memobilisasi solidaritas kemanusiaan yang konkret. Kita memiliki kewajiban intelektual dan moral untuk mengedukasi umat bahwa membela Iran dari agresi asing bukanlah soal membela sekte atau faksi politik tertentu, melainkan ikhtiar menjaga marwah Islam secara utuh dari kehinaan hegemoni. Kita harus berani menyuarakan narasi tandingan: bahwa perdamaian sejati hanya lahir dari rahim keadilan yang setara bagi setiap bangsa, bukan ‘perdamaian semu’ yang dipaksakan melalui moncong senjata dan arogansi militer.”

Baca Juga:  Imam Al-Laits bin Saad, Ulama Besar Mesir Pencetus Mazhab Laitsy

Setiap kali saya melihat berita tentang serangan di Iran, saya teringat wajah para kolega dosen dan mahasiswa di Qum yang menyambut saya dengan senyum hangat dua tahun lalu. Saya membayangkan kecemasan di mata mereka saat ini. Mereka adalah saudara kita.

Dunia Islam harus bangun dari tidurnya. Solidaritas bukan sekadar kata-kata dalam resolusi yang tak bergigi, melainkan keberanian untuk berdiri tegak membela kebenaran. Jangan sampai sejarah mencatat bahwa saat satu bagian tubuh umat Islam disakiti, bagian tubuh lainnya lebih memilih untuk menutup mata dan telinga.

Doa-doa yang saya dengar di Qum pada 2022 adalah doa untuk kejayaan umat. Kini, saat mereka terhimpit badai perang, adalah kewajiban moral kita untuk memastikan bahwa mereka tidak sendirian. Karena pada akhirnya, diam dalam melihat ketidakadilan adalah sebuah bentuk kejahatan itu sendiri.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

This will close in 0 seconds