back to top
Jumat, April 3, 2026

Di Mata Anak Muda, Muhammadiyah Bukan Sekadar Organisasi

Lihat Lainnya

Arif Jamali Muis
Arif Jamali Muis
Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY

Di tengah dunia yang bergerak cepat, ketika perhatian anak muda mudah berpindah dan kepercayaan terhadap institusi semakin menipis, Muhammadiyah justru masih berdiri dengan daya tarik yang tidak kecil. Ini bukan sesuatu yang biasa. Banyak organisasi besar kehilangan relevansinya di mata generasi baru. Tetapi Muhammadiyah tampaknya tetap punya daya pikat.

Laporan survei yang diterbitkan Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahamd Dahlan (UAD) berjudul Muhammadiyah di Mata Anak Muda memberi gambaran yang menarik sekaligus menggugah. Sebanyak 91 persen responden menyatakan bangga terhadap Muhammadiyah. Lebih dari itu, 82,8 persen menjadikannya rujukan terpercaya untuk isu-isu terkini, 89,3 persen menilai Muhammadiyah sebagai pemersatu bangsa, 87,3 persen melihatnya sebagai panutan dalam isu politik nasional, dan 82,6 persen menilai pejabat publik dari Muhammadiyah memiliki kinerja yang baik. Angka-angka ini menunjukkan satu hal penting: Muhammadiyah tidak hanya dikenal, tetapi juga dipercaya. Namun yang lebih menarik bukan sekadar besarnya angka-angka itu, melainkan alasan di baliknya.

Anak muda hari ini ternyata tidak (terutama) mengenang Muhammadiyah dari simbol-simbol keagamaan yang sering diperdebatkan. Mereka tidak mengingat Muhammadiyah dari urusan ritual yang kerap menjadi identitas publiknya. Yang paling menonjol justru hal-hal yang konkret: 44,1 persen responden mengingat Muhammadiyah sebagai lembaga yang memiliki sekolah dan kampus berkualitas, dan 42,3 persen sebagai organisasi Islam modern dan rasional. Sementara itu, hal-hal yang sering dilekatkan secara populer seperti “puasa/lebaran duluan” hanya disebut oleh 17,1 persen responden, dan “tarawih 11 rakaat” hanya 3,5 persen.

Baca Juga:  Jangan Setengah-Setengah Melihat Muhammadiyah

Di sini kita melihat sebuah pergeseran yang penting. Muhammadiyah tidak lagi (terutama) dibaca sebagai simbol, melainkan sebagai manfaat. Ia tidak diingat karena labelnya, tetapi karena kontribusinya. Dalam dunia yang sering gaduh oleh perdebatan identitas, anak muda justru memberi penghargaan pada kerja nyata yang menyentuh kehidupan. Barangkali di situlah letak kekuatan Muhammadiyah hari ini.

Muhammadiyah dipercaya bukan karena suaranya paling keras, tetapi karena kehadirannya paling terasa. Hal ini tercermin dalam penilaian terhadap amal usaha Muhammadiyah. Sebanyak 88,1 persen responden menilai sekolah dan kampus Muhammadiyah worth it, sementara di sektor kesehatan, 86,1 persen menilai kualitas layanan kesehatan Muhammadiyah sangat baik, dan 80,5 persen menilai layanannya terjangkau. Ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah hadir bukan sebagai wacana, tetapi sebagai pengalaman hidup yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Laporan yang sama juga menunjukkan adanya polarisasi ketika Muhammadiyah bersentuhan dengan isu konsesi tambang, dengan tingkat penolakan mencapai 46 persen. Angka ini penting dibaca dengan jernih. Anak muda tidak menolak Muhammadiyah, tetapi mereka mulai kritis ketika organisasi ini memasuki wilayah yang berpotensi bersinggungan dengan persoalan ekologis dan kepentingan ekonomi. Ini adalah pesan yang halus, tetapi tegas.

Anak muda mengagumi Muhammadiyah sebagai gerakan pelayanan, pendidikan, dan kemanusiaan. Mereka melihat Muhammadiyah sebagai organisasi yang fleksibel—bahkan 89,4 persen responden menilai Muhammadiyah mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, dan 87,8 persen menilai Muhammadiyah ramah terhadap seni, musik, dan media populer. Namun di saat yang sama, mereka juga ingin Muhammadiyah tetap konsisten dengan nilai-nilai moral yang selama ini menjadi kekuatannya. Dengan kata lain, kebanggaan itu bukan cek kosong.

Baca Juga:  Mengapa Jumlah Kyai di Muhammadiyah Semakin Menurun?

Hal serupa terlihat pada sektor pendidikan. Meski dinilai berkualitas dan layak, muncul catatan bahwa di wilayah perkotaan, sekitar 31 persen responden tidak sepakat bahwa biaya sekolah Muhammadiyah tergolong murah. Ini menjadi pengingat bahwa kekuatan Muhammadiyah sejak awal bukan hanya pada mutu, tetapi juga pada keberpihakan. Ia besar karena mampu menghadirkan layanan modern yang tetap dekat dengan masyarakat luas. Jika kualitas meningkat tetapi akses semakin terasa berat, maka yang terancam bukan hanya persepsi, tetapi juga identitas.

Pada titik ini, kita (Muhammadiyah) perlu membaca laporan ini bukan sebagai pujian, tetapi sebagai cermin. Cermin yang menunjukkan bahwa ia masih dicintai, tetapi juga sedang diawasi. Bahwa ia masih dipercaya, tetapi juga sedang diuji. Sebab di mata anak muda, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi. Ia adalah harapan tentang bagaimana agama seharusnya hadir di ruang publik: rasional, membumi, tidak kaku, dan memberi manfaat. Ia adalah contoh bahwa nilai dapat menjelma menjadi pelayanan, bahwa iman dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata.

Dan justru karena itulah, Muhammadiyah tidak boleh lengah. Sebuah organisasi bisa bertahan karena sejarah. Tetapi ia hanya akan dicintai lintas generasi jika terus relevan dan tetap setia pada amanahnya. Anak muda hari ini tampaknya tidak meminta Muhammadiyah menjadi sempurna. Mereka hanya berharap satu hal yang sederhana, tetapi mendasar: tetaplah menjadi Muhammadiyah yang mereka percaya.

Baca Juga:  Mungkinkah Distribusi Zakat untuk Program Makan Bergizi Gratis?

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

This will close in 0 seconds