Menjadi orang Jogja yang hidup di tengah pusaran perbedaan cara penetapan 1 Syawal itu sebenarnya asyik dan menyenangkan. Kita jadi punya kemewahan untuk merasakan suasana Lebaran yang lebih panjang. Namun, kesenangan itu bisa saja tiba-tiba lenyap, kalau Anda berada pada posisi saya: terjebak dalam pusaran “Lebaran Abu-abu”.
Secara ketetapan pemerintah, saya mustinya masih memegang teguh prinsip menahan lapar dan dahaga. Sebagai warga negara yang (berusaha) taat, saya seharusnya menjalankan puasa hari ke-30. Namun, secara “hukum menghormati keluarga istri”, saya sudah kalah bahkan sebelum duduk. Saya sudah harus berpakaian rapi, wangi, dan siap menghadapi hisab yang sebenarnya, yaitu di atas meja makan.
Istri saya, Triani, dan keluarga besarnya adalah pengikut setia ketetapan Lebaran Muhammadiyah. Maka, bagi mereka, hilal sudah dianggap wujud. Tidak peduli apakah hilal itu terlihat setipis alis atau justru masih malu-malu bersembunyi di bawah ufuk menurut pantauan teropong tim Kemenag di Jakarta. Bagi mereka, Syawal telah tiba, dan perang melawan lapar dan dahaga resmi berakhir.
Melihat situasi ini, saya jadi teringat almarhum Papa. Beliau sebenarnya adalah orang Muhammadiyah tulen. Bayangkan, zaman mahasiswa dulu beliau aktif di IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Urusan ibadah pun beliau sangat “Persyarikatan”. Bacaan doa iftitah-nya adalah Allahumma ba’id baini, sangat kontras dengan saya yang lebih sering melafalkan Kabirau karena Ustaz tempat saya belajar ngaji setiap malam dulu memang bacaannya begitu.
Namun, Papa punya sisi menarik sebagai seorang warga negara. Semasa hidupnya, beliau hampir selalu mengikuti ketetapan pemerintah dalam urusan Lebaran, walaupun secara organisasi beliau Muhammadiyah. Begitulah Papa, beliau mempraktikkan cara menjadi warga negara yang baik tanpa harus kehilangan identitas keagamaannya. Beliau seolah ingin mengatakan bahwa ketaatan pada ulil amri adalah bagian dari harmoni.
Nah, masalahnya, saya termasuk orang yang memulai puasa belakangan. Secara hitung-hitungan, saya merasa saya seharusnya tetap ikut versi pemerintah. Di sinilah dilema itu muncul, bergejolak di antara ulu hati, lambung, dan logika.
Dilema ini jujur saja bukan soal ideologi teologis yang berat-berat amat. Saya tidak sedang ingin berdebat soal ushul fiqh atau perbandingan mazhab. Ini soal unggah-ungguh. Bayangkan, Anda berdiri di ruang makan, dan di depan mata sudah tersaji Lodeh Rebung yang kuahnya abu-abu gurih menggoda. Di sampingnya, Sambel Krecek dengan potongan cabai rawit utuh tampak berkilau menantang, ditemani potongan Lontong yang kenyal dan masih hangat. Bunyi sendok gulai yang nabrak panci itu, entah kenapa, lebih meyakinkan daripada argumen manapun.
Apakah di saat seperti itu saya harus menceramahi istri saya yang sudah bangun sejak subuh untuk memasak, bahwa secara astronomis hilal belum mencapai ambang batas visibilitas, alias masih di bawah ufuk, menurut tim rukyatul hilal Kemenag?
Pertanyaan utamanya sebenarnya adalah: apakah saya cukup nekat untuk bersilang kata dengan istri di hari yang katanya fitri ini? Atau lebih tepatnya, apakah saya sanggup menolak kenikmatan duniawi yang ditawarkan istri tercinta hanya demi mempertahankan prinsip satu hari puasa terakhir?
Jawabannya ada pada ilustrasi berikut ini: “Ayo makan, Yah. Nanti keburu dingin lodehnya,” kata istri saya dengan nada yang sangat persuasif. Saya tidak menjawab apa-apa karena pada titik itu wajah saya mungkin sudah tidak lagi menunjukkan keteguhan seorang yang sedang puasa.
Di titik itu, kriteria astronomi saya runtuh seketika. Teropong Bosscha—teropong yang dipakai Tim Rukyatul Hilal—sekalipun tak akan mampu menahan godaan aroma lodeh rebung tersebut. Saya lalu mengambil jalan fikih yang paling realistis: menyenangkan hati istri dulu, nanti semisal ada kesempatan, saya akan qada puasa yang ke-30 ini, insyaAllah.
Saya pun makan dengan lahap. Satu piring, lalu nambah sedikit kreceknya, setelah itu nambah kuah lodehnya, dilanjutkan nambah lontongnya, sampai tak terasa sudah tiga piring saja. Saya sempat sok kuat sekitar lima menit, lalu bubar jalan di piring kedua. Dalam hati, saya membatin sebuah ide, kalaupun pemerintah benar hari ini masih puasa, ya tinggal saya qada saja nanti pada hari yang sudah diperbolehkan puasa qada. Adil, kan? Tuhan Maha Tahu kalau perut hambanya ini lemah terhadap kuah santan kental.
Saya kira drama selesai di meja makan. Ternyata belum. Setelah kenyang melahap lodeh, dimulailah ritual “Tour de Jogja” mengunjungi kerabat.
Jogja pada suasana seperti itu memang kelihatan janggal. Jalanan terlihat lebih sepi dari lebaran di tahun-tahun sebelumnya, tapi kalau kita lihat ke jalanan atau gang kecil, ruang tamu malah penuh. Orang keluar masuk rumah, sandal menumpuk di teras, anak-anak berlarian dan toples-toples kue kering terbuka seperti menunggu diambil isinya. Tapi di situlah musuh utama saya muncul secara diam-diam, yaitu debu.
Saya punya riwayat alergi yang cukup parah. Debu, suhu dingin, atau bau menyengat adalah pemicu utama hidung saya berubah menjadi meler, selayaknya keran bocor. Biasanya, alergi ini jarang kambuh akhir-akhir ini karena saya rajin minum kopi jahe dan minuman hangat untuk menjaga suhu tubuh. Tapi, urusan silaturahmi keluarga memang sering memunculkan hal yang tanpa disangka-sangka.
Entah itu debu dari karpet ruang tamu kerabat yang jarang dikeluarkan. Atau mungkin debu jalanan yang berterbangan karena angin kencang. Di salah satu rumah, saya duduk tepat di samping sebuah meja kayu yang agak berdebu, dan biasanya jadi tempat nongkrong kucing yang suka meler juga. Hidung saya langsung jadi luar biasa gatal. Jadilah saya bersilaturahmi dengan gaya yang memalukan, yaitu bersin setiap berapa menit sekali dengan suara yang menggelegar tertahan, diikuti meler yang tak henti-henti.
Padahal saya sudah menyiapkan dua bungkus tisu basah antiseptik. Celakanya, jumlah itu tidak cukup! Saya terpaksa menepi di sebuah minimarket untuk membeli amunisi tambahan. Bayangkan, setiap kali saya selesai bersin atau meler, saya mengelap hidung dengan tisu basah antiseptik tersebut. Rasanya perih, dingin, tapi sekaligus memalukan.
Pokoknya saya menjalani silaturahmi hari itu dengan tidak gagah. Di saat orang lain sibuk mengucap “Mohon Maaf Lahir dan Batin” dengan wajah berseri-seri, saya sibuk merapal “Hatsyiii!” sambil merogoh tisu basah di kantong baju koko yang sudah mulai lusuh. Orang-orang yang saya salami mungkin mengira saya sedang menangis terharu saat prosesi maaf-maafan. Padahal, itu murni karena alergi parah.
Dari situ saya malah sadar, bahwa hal yang paling melelahkan dari perbedaan hari Lebaran, ternyata bukan karena adanya perbedaan. Jogja, menurut saya, sudah cukup paham soal itu. Orang bisa tetap saling menghormati walaupun waktu takbiran dan puasanya berbeda.
Justru yang lebih sering bikin repot adalah hal-hal kecil yang tidak pernah dibahas dalam sidang isbat, seperti rasa pakewuh pada keluarga, makanan meja makan yang menggoda, dan tubuh sendiri yang tiba-tiba memilih memberontak saat sedang bersilaturrahmi.
Jadi, kalau ada yang bertanya saya belajar apa dari semua ini? Jawabannya mudah saja, tidak semua hal dalam hidup berkeluarga harus dimenangkan dengan argumen. Ada yang cukup dijelaskan, ada yang cukup ditahan, dan ada pula yang akhirnya kalah begitu saja oleh sepiring lodeh rebung.



