back to top
Senin, April 13, 2026

Khutbah Nikah Alimatul Qibtiyah Tegaskan Pernikahan Setara, Cinta, dan Tanggung Jawab Bersama

Lihat Lainnya

IBTimes.ID — Khutbah nikah yang disampaikan Prof. Alimatul Qibtiyah dalam pernikahan putranya di Kembaran, Banyumas, menghadirkan pesan kuat tentang kesetaraan suami istri dalam Islam. Ia menegaskan bahwa pernikahan bukan relasi hierarkis yang menempatkan suami di atas istri, melainkan kemitraan setara yang dibangun atas cinta, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama di bawah ridha Allah.

Dalam khutbahnya, Alimatul menyoroti ayat Al-Qur’an yang menggambarkan suami dan istri sebagai pakaian satu sama lain. Menurutnya, makna ayat tersebut menegaskan fungsi saling menjaga, melindungi, menghormati, serta meridhai dalam kehidupan rumah tangga.

“Dalam Al-Qur’an disebutkan hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna, istri adalah pakaian bagi suami dan suami adalah pakaian bagi istri. Artinya, harus saling menghormati, melindungi, menyayangi, setia, dan saling meridhai,” ujarnya.

Ia juga mengkritisi cara pandang yang masih menafsirkan hubungan Tuhan, suami, dan istri secara vertikal. Menurutnya, pemahaman terhadap Surah An-Nisa ayat 34 sering kali dipakai untuk meletakkan laki-laki di posisi lebih tinggi, padahal banyak ayat lain justru menunjukkan relasi yang setara.

“Paling tidak ada 22 ayat dalam Al-Qur’an yang menunjukkan hubungan Tuhan, suami, dan istri itu bukan vertikal, tetapi segitiga. Allah di atas, sementara suami dan istri berada dalam posisi setara dibawahnya,” jelasnya.

Bahan Bakar Cinta dan Pilar Pernikahan Sakinah

Dalam perspektif psikologi keluarga, Alimatul memperkenalkan konsep bahan bakar cinta sebagai unsur penting dalam menjaga kehangatan rumah tangga. Ia menjelaskan bahwa sumber kebahagiaan pasangan bisa berbeda sesuai fase usia pernikahan.

Baca Juga:  Hilman Latief: Tauhid Murni Perlu Melibatkan Akal

“Bahan bakar cinta itu bisa bermacam-macam. Untuk pengantin baru mungkin momen akad menjadi sumber kebahagiaan. Tapi, bagi yang sudah puluhan tahun menikah, hal sederhana seperti memberi bunga saat ulang tahun bisa menjadi penguat cinta,” tuturnya dalam khutbah nikah tersebut.

Ia juga menekankan bahwa pekerjaan domestik tidak boleh dipandang sebagai tanggung jawab sepihak. Dalam rumah tangga, pelayanan dan kasih sayang harus tumbuh dua arah.

“Membuat teh misalnya, itu tidak membutuhkan alat reproduksi. Jadi tidak harus istri. Suami juga bisa melakukannya sebagai bentuk kasih sayang,” ujarnya.

Selain itu, ia menjelaskan segitiga cinta dalam pernikahan, yakni komitmen, kedekatan emosional, dan gairah. Komitmen disebut sebagai mitsaqan ghalizhan atau perjanjian yang kuat, sementara kedekatan emosional lahir dari rasa aman untuk saling terbuka.

Menutup khutbah, Alimatul mengajak seluruh tamu menghidupkan semangat pilar pernikahan sakinah melalui “Tepuk Sakinah”, yel-yel yang ia ciptakan dan sempat viral di media sosial. Pesan ini menjadi penegasan bahwa pernikahan harmonis harus dibangun di atas kesetaraan, cinta, dan kemitraan yang bermartabat. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru