back to top
Senin, April 20, 2026

Agaknya, Memasak Atau Menulis Sama Saja.

Lihat Lainnya

Agaknya, para leluhur Jawa perlu menengok kembali adagium yang pernah ditinggalkan dalam kalimat; ‘Rame ing gawe, sepi ing pamrih’. Bagi seorang penulis, adagium tersebut menjadi pengingat. Untuk tetap memeras otak dalam hal menulis, sekalipun mendapat surat penolakan setelah naskah masuk ruang editorial.

Atau bisa juga dimaknai sebagai upaya memasak, yang dilakukan seorang menantu yang baru seminggu tinggal bersama mertua. Komentar seperti; “kasinen” atau kelebihan garam dalam masakan yang dihadirkannya ke meja makan bersama suami dan mertua, harus dihadapi dengan legowo.

Itulah esensi dari makna tersirat yang terkandung dalam adagium tersebut.  Tidak sekadar penerjemahan secara tekstual yang mungkin dilakukan oleh Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan imitasi. ‘Giat dalam bekerja namun tidak mendapat imbalan’ demikian terjemahan letterlijk-nya. Lantas menimbulkan tanya: bagaimana jika terjemahan tersebut ada di tangan seorang menantu yang mendapat komentar ‘keasinan’ oleh mertuanya? 

Barangkali jika penerjemahan tersebut dibaca si menantu, ia akan menulis prompt mengenai jenis garam apa yang tidak menimbulkan keasinan. Atau bertanya lebih lanjut mengenai garam apa yang lebih sesuai untuk digunakan memasak agar menyenangkan hati mertua. Apakah garam yodium atau garam grasak, sejenis garam kristal yang kasar. Dan menggunakan takaran sejumput atau dua jumput garam untuk sekali masak.

Demikianlah yang terjadi dalam keseharian. Apabila hal-hal sederhana dimaknai secara terjemahan melalui prompt AI tanpa nalar logis. Tanpa perenungan retorika ala Aristoteles. Di mana etos, pathos dan logos; menjadi satu keserasian yang dilakukan untuk menggabungkan etika, perasaan, dan nalar logis. Agar tak menimbulkan kesalahan dalam memasak alih-alih sampai keasinan. Pun dengan kesalahan dalam merajut kata saat menulis artikel ilmiah.

Baca Juga:  Rachel Corrie Mati Dilindas Buldoser IDF

Membaca artikel opini dari Prof. Deddy Mulyana (05/07/2025) di Kompas.id, mengenai kekeliruan menerjemahkan nama Judge – yang merujuk pada nama akhir dari penulis yang disitasi oleh Prof. Deddy dalam jurnal Sinta – saya mendadak ingin main hakim sendiri. Namun bukan dalam konotasi kriminal, melainkan keinginan impulsif untuk menonton kembali acara televisi yang kini sudah tidak tayang lagi. 

Saya membayangkan Desta Mahendra hadir kembali sebagai Hakim dan Indra Jegel sebagai penuntut. Keduanya mampu menampilkan estetika komedi dengan timing yang tepat saat membangun set up lalu membentuk narasi punchline hingga menghadirkan gelak tawa. 

Estetika tersebut, tidak mungkin dihadirkan AI dalam rupa terjemahan. Sebagaimana saran Prof. Deddy, diperlukan nalar logis dan panduan etis dalam menulis karya ilmiah. ‘Ternyata itu adalah terjemahan dari nama akhir penulis aslinya yaitu Hakim (seperti Christine Hakim), yang kalau diterjemahkan memang menjadi Judge,’ demikian tulis Prof. Deddy.

Sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Prof. Deddy tidak melarang penggunaan AI alih-alih sampai ditakuti secara berlebihan. ‘Dalam konteks ini,’ lanjut beliau, ‘harus ada panduan yang komprehensif mengenai batas-batas keetisan penulisan karya ilmiah dengan menggunakan sarana tersebut (baca: AI).’ 

Degradasi makna yang kerap muncul saat menulis dengan AI, tanpa panduan yang komperehensif. Dapat menghilangkan esensi suatu karya. Sebab kehadiran AI, tak lebih dari sekadar alat bantu. Bukan menjadi pembantu untuk menyisir garam apa yang digunakan oleh mertua. Pun juga bukan untuk menerjemahkan nama penulis jurnal atau nama mertua. 

Lantas, bagaimana jika nama mertua dari menantu tersebut adalah Pariyem? Di mana pari merujuk pada arti padi. Barangkali ia bakal menabur gabah – bulir padi yang sudah rontok – ketimbang menabur garam dalam masakan. 

Baca Juga:  Mudik Lebaran di Tengah Bayang-Bayang Krisis Ekonomi Nasional

Etika dan estetika, hanya ada dalam kecerdasan manusia dalam meramu kata. Bukan kecerdasan imitasi yang seringkali kering dalam memaknai prompt yang dijadikan jembatan untuk menulis. Mungkin jika seorang Dalang hendak menulis naskah pementasan wayang. Dan menjadikan AI sebagai pembantu untuk meramu kisahnya. Bukan nama Gareng yang disebut Dalang dalam pementasan. 

Melainkan nama seorang anak dari Bathara Ismaya yang gagal menelan dunia hingga terbuang di Karangkadempel. Anak tersebut memiliki tangan cekre, atau bengkok, dan mata juling dengan awalan nama Nala. Demikianlah kemungkinan yang terjadi mengingat AI berpotensi untuk menciptakan halusinasi.

Persoalan halusinasi, berkelindan dengan kecepatan dalam mengartikan bahasa, entah Inggris atau Jawa menjadi persoalan tersendiri. Di sinilah peran logos, atau logika diperlukan sebagai jembatan. Dan pemahaman mengenai batasan mana yang bisa diartikan dan mana yang tidak bisa diterjemahkan.

Keberadaan teknologi, boleh saja menyisir data dengan hanya sekali kedip mata. Namun keberadaan manusia yang tahu batasan antara logika dan etika. Lalu dipandu dengan pathos, atau perasaan, menghasilkan kearifan seorang Dalang dalam memainkan wayang depan layar.

Dipandu suara merdupara Sinden yang mengalun seiring bunyi gamelan ditabuh. Dagelan mengisi sela-sela pertunjukan untuk menghadirkan humor di tengah pagelaran wayang. Sekalipun hadirnya Dagelan di tengah pementasan untuk menyegarkan suasana. Namun kehadirannya tak serta merta mematikan jalannya alur pementasan dalam naskah yang digubah Ki Dalang.

Kearifan pementasan pewayangan, bergulir di antara adagium ‘rame ing gawe, sepi ing pamrih.’ Baik dalam hal memasak di dapur, hingga penulisan karya ilmiah. Seringkali memerlukan perasan keringat agar suatu karya yang dihasilkan tak hanya sedap dimakan mertua, melainkan juga sedap saat dibaca oleh kurator.

Baca Juga:  Redenominasi: Momentum Emas Merampingkan Rupiah

Tanpa merusak esensi dan estetika saat karya berada di tangan pembaca. Pun tidak pula membuat geram mertua saat membuang masakan yang dibumbuhi butiran gabah. Bukan butiran garam.

‘Untuk itu, pendekatan multidisiplin, penelitian etika yang berkelanjutan, rancangan regulasi yang tepat, diperlukan untuk memandu tindakan etis kita dalam dunia yang semakin kompleks,’ demikian tutup Prof. Deddy Mulyana dalam kolom bertajuk Puber AI dan Etika Digital yang diakses penulis pada tanggal 12/04/2025.

Maka begitulah seharusnya AI berkelindan dan berputar dalam keseharian. Di mana jika dalam hal masak-memasak memerlukan rujukan resep memasak, pun dengan artikel ilmiah yang memerlukan regulasi panduan yang tepat. Serta sanksi yang mengikat. Persis seperti yang dikatakan Prof. Deddy. 

Namun, kehadiran buku panduan tersebut harus diramu dengan etos, pathos dan logos. Sebagai satu kesatuan baik oleh regulasi maupun oleh pengguna agar tidak terjebak pada hal-hal yang teknis, dan tetap mengutamakan nalar logis. Pun dengan keberadaan sanksi yang kurang etis, seperti menumpahkan masakan hanya karena menantu salah baca garam menjadi gabah. Entah dalam rupa sayur masakan depan mertua. Alih-alih naskah opini sampai artikel ilmiah yang berada dalam ruang editorial.

Sebab pada akhirnya, teknologi hanyalah alat bantu untuk menyisir data. Sekalipun dalam sekejam mata, manusia yang memiliki kearifan untuk meramu rasa. Baik di ruang penulisan karya ilmiah maupun di meja makan keluarga. Etika, estetika dan nalar logis merupakan bumbu pelengkap penyedap rasa yang tidak bisa digantikan oleh algoritma sekalipun.

(Nashuha)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru