back to top
Minggu, Mei 10, 2026

Syamsul Anwar Dorong Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah Tampil Relevan dengan Zaman

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syamsul Anwar, menekankan pentingnya penguatan pendekatan tematik dalam penyusunan Tafsir At-Tanwir agar mampu menghadirkan pesan Al-Qur’an yang lebih kontekstual, mendalam, dan relevan dengan kebutuhan umat modern. Penegasan itu disampaikan dalam Halaqah Tafsir At-Tanwir XV yang berlangsung di Kantor PP Muhammadiyah, Sabtu (9/5/2026).

Dalam sambutannya, Syamsul mengingatkan bahwa penyusunan tafsir membutuhkan ketelitian akademik yang tinggi karena kesalahan kecil dapat memengaruhi kualitas keseluruhan karya.

Menurutnya, ketelitian tidak hanya berlaku pada isi penafsiran, tetapi juga pada aspek penerjemahan ayat Al-Qur’an. Tim penyusun diminta tetap mengacu pada terjemahan resmi Kementerian Agama agar tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat.

“Prinsip kita menyesuaikan terjemahan Kemenag, agar masyarakat tidak dibingungkan oleh terjemah yang berbeda. Berbeda juga boleh asalkan ada penjelasannya dari kita, ada argumennya,” ujarnya.

Syamsul juga mendorong keterlibatan para hafiz Al-Qur’an, termasuk santri Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM), dalam proses telaah naskah. Selain itu, penggunaan khat Utsmani secara konsisten dinilai penting demi menjaga keseragaman penulisan ayat dalam tafsir.

Ia bahkan membuka kemungkinan untuk menjadi pembaca akhir naskah tafsir, meski tetap meminta para editor bekerja serius dan tidak bergantung pada tahap akhir pemeriksaan.

“Saya sebagai pembaca boleh dimintakan juga untuk jadi pembaca akhir. Tapi para editor jangan karena saya pembaca akhir lalu tidak serius dalam mengedit,” katanya.

Baca Juga:  82,9% Anak Muda Dukung KHGT Muhammadiyah, Tak Mau Ribet Penentuan Lebaran

Tafsir Muhammadiyah Hadirkan Etos Kemajuan

Selain aspek teknis, Syamsul menilai Tafsir At-Tanwir perlu lebih menonjolkan pendekatan maudhui atau tematik dengan menghimpun ayat-ayat yang memiliki tema serupa agar kesatuan pesan Al-Qur’an terlihat lebih utuh.

Ia menegaskan bahwa tafsir Muhammadiyah harus mampu menghadirkan etos kemajuan yang selama ini menjadi karakter Islam Berkemajuan. Tema-tema seperti ekonomi, ilmu pengetahuan, hingga pembangunan peradaban dinilai penting untuk diperkuat dalam penafsiran.

Dalam kesempatan itu, Syamsul juga menyinggung kajian menarik terkait kata “kafur” dalam Al-Qur’an. Ia mengutip pendapat Hamka yang menyebut istilah tersebut sebagai salah satu kata Melayu yang terdapat dalam Al-Qur’an.

“Saya mencoba memeriksa, selain Hamka, juga diakui bahwa kata tersebut dari Melayu. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, apakah pada zaman Nabi ada hubungannya antara Arab dengan Melayu,” ungkapnya.

Ia menyebut penelitian mengenai “kafur dari negeri Barus” dapat menjadi petunjuk adanya hubungan historis antara Nusantara dan dunia Arab sejak masa lampau.

Menutup sambutannya, Syamsul mendorong pengembangan tema tafsir yang dekat dengan konteks Indonesia sebagai negara kepulauan, termasuk kajian tentang laut dalam perspektif Al-Qur’an.

“Karena kita kepulauan jadi kita perlu melakukan tematisasi, misalnya soal laut. Cuman jangan terlalu banyak, cukup sederhana saja,” tuturnya. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru