back to top
Minggu, Juni 14, 2026

Komodifikasi Kritik: Tertawa di Tengah Seriusnya Masalah.

Lihat Lainnya

Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Ada sebuah ironi besar dalam kebudayaan digital hari ini: sesuatu yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak untuk berpikir, justru membuat kita sibuk tertawa. Kritik yang lahir dari kegelisahan sosial berubah menjadi meme. Kecemasan publik dipadatkan menjadi lagu jenaka. Kemarahan moral dikemas menjadi video parodi berdurasi satu menit.

Bahkan tragedi yang semestinya mengundang perenungan kadang hanya bertahan beberapa jam sebelum tenggelam di lautan scrolling, kalah cepat oleh drama Korea, sinetron konglomerat, atau konten “receh” yang lebih mudah dikunyah daripada realitas yang pahit.

Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena: komodifikasi kritik menjadi hiburan. Kritik tidak lagi selalu menjadi palu yang mengetuk pintu kesadaran, tetapi berubah menjadi panggung pertunjukan yang menghasilkan tawa.

Sang pengkritik ingin membangunkan masyarakat, tetapi masyarakat justru menjadikan suara alarm itu sebagai nada dering lucu. Yang dikritik ingin dipertanggungjawabkan, tetapi malah mendapatkan keuntungan popularitas. Ironisnya, terkadang orang yang menjadi objek kritik justru menikmati viralitasnya sambil berkata dalam hati: “Terima kasih sudah membantu menaikkan algoritma saya.”

Dari Satire Menuju Distraksi

Fenomena ini bukan sekadar persoalan masyarakat kehilangan rasa humor. Humor dalam sejarah manusia justru sering menjadi senjata kritik yang sangat tajam. Para filsuf, seniman, dan budayawan menggunakan satire untuk membongkar kemunafikan kekuasaan.

Tawa bisa menjadi bentuk perlawanan. Namun masalahnya adalah ketika tawa tidak lagi membuka kesadaran, melainkan menjadi obat bius sosial. Filsuf Jerman, Jürgen Habermas, melalui konsep public sphere, menjelaskan bahwa demokrasi membutuhkan ruang publik tempat gagasan diuji melalui dialog rasional.

Baca Juga:  Reuni 212, Ruang Publik, dan Politik Birokrasi

Kritik idealnya menjadi energi perbaikan. Namun ruang digital sering mengubah arena diskusi menjadi arena kompetisi perhatian. Yang menang bukan selalu argumen terbaik, tetapi yang paling menghibur, paling kontroversial, dan paling mudah dibagikan.

Di sinilah algoritma memainkan peran besar. Dunia digital memiliki logika ekonomi perhatian (attention economy). Kemarahan, kelucuan, dan keanehan sering lebih laku daripada kedalaman. Sebuah kajian dari psikologi komunikasi menunjukkan bahwa manusia lebih mudah merespons informasi yang membangkitkan emosi kuat dibandingkan informasi yang membutuhkan perenungan panjang.

Spektakel Digital dan Krisis Kesadaran Publik

Akibatnya, kritik yang serius harus bersaing dengan video kucing, jogetan viral, dan drama kehidupan selebritas. Masalahnya bukan pada meme atau parodi itu sendiri. Bahkan parodi bisa menjadi bentuk kecerdasan politik.

Dalam sejarah Indonesia, humor telah lama menjadi cara rakyat menghadapi tekanan. Ada budaya guyon maton: tertawa tetapi tetap menyimpan pesan. Namun hari ini muncul gejala baru: humor yang kehilangan arah moral. Kritik yang seharusnya mengubah keadaan justru berhenti sebagai tontonan.

Di sinilah muncul fenomena yang oleh sebagian pemikir sosial disebut sebagai bentuk spectacle society atau masyarakat tontonan, sebagaimana dikritik oleh Guy Debord. Dalam masyarakat tontonan, realitas tidak lagi cukup dialami; ia harus dipertunjukkan. Bahkan penderitaan harus memiliki format yang menarik agar mendapatkan perhatian.

Sebuah bencana membutuhkan judul dramatis, sebuah kritik membutuhkan meme, dan sebuah keresahan membutuhkan musik latar agar dianggap layak dikonsumsi.

Baca Juga:  Tirakat Kebangsaan di Tengah Kebisingan Ruang Publik

Paradoks Kritik di Era Budaya Viral

Akibatnya, lahirlah paradoks sosial: semakin banyak kritik beredar, belum tentu semakin banyak perubahan terjadi. Kita menjadi masyarakat yang sangat aktif berkomentar tetapi sering pasif bertindak.

Kita ramai membicarakan kebocoran kapal, tetapi lupa memperbaiki lubangnya. Kita sibuk membuat meme tentang rumah yang terbakar, lalu merasa sudah berkontribusi karena telah membuat lelucon tentang api. Bisa juga tulisan ini, berhenti pada sekedar tulisan. Dalam perspektif logika, fenomena ini juga memiliki kemiripan dengan beberapa bentuk logical fallacy. Salah satunya adalah appeal to ridicule (menolak argumen dengan cara menjadikannya bahan tertawaan).

Ketika sebuah kritik dijawab bukan dengan argumentasi, melainkan dengan ejekan dan candaan, substansi persoalan sengaja dipindahkan dari ruang rasional menuju ruang hiburan. Orang tidak perlu membantah kritik; cukup membuat kritik itu terlihat lucu.

Namun kita juga perlu berhati-hati. Tidak semua humor adalah kegagalan berpikir. Kadang humor justru merupakan mekanisme bertahan masyarakat yang lelah. Ketika rakyat menghadapi persoalan yang terlalu berat, tawa menjadi cara sederhana untuk tetap waras. Ada unsur psikologis bernama coping mechanism: manusia menggunakan humor untuk menghadapi tekanan yang sulit dikendalikan.

Masalah muncul ketika humor menjadi tempat pelarian permanen. Kita tertawa bukan karena sudah menyelesaikan masalah, tetapi karena sudah terlalu lelah memikirkan masalah. Kita bercanda bukan karena keadaan baik-baik saja, tetapi karena merasa tidak memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan. Ironi memang, ketika derita datang menghadang bahkan ketawa-pun disoal.

Baca Juga:  Hifdz al-'Aql: Menangkal Brain Rot di Era Digital

Tawa akhirnya berubah dari ekspresi kebebasan menjadi tanda kelelahan sosial.

Mungkin inilah wajah baru masyarakat digital: sebuah zaman ketika kritik bisa viral tanpa pernah benar-benar didengar. Sebuah era ketika suara kebenaran harus memakai kostum badut agar mau ditonton. Sang penyampai pesan akhirnya harus berdandan menjadi pelawak agar masyarakat mau membuka telinga.

Tetapi bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak pernah tertawa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membedakan kapan harus tertawa dan kapan harus berhenti tertawa. Sebab ada saatnya lelucon menyelamatkan manusia dari keputusasaan, tetapi ada pula saatnya lelucon justru menyelamatkan kesalahan dari pertanggungjawaban.

Jangan sampai kita menjadi masyarakat yang terlalu pandai membuat meme tentang kehancuran, tetapi lupa membangun kembali peradaban. Jangan sampai kritik hanya menjadi konten, keresahan hanya menjadi hiburan, dan kebenaran hanya menjadi bahan candaan.

Sebab ketika semua hal sudah menjadi lucu, ada satu pertanyaan yang paling serius untuk direnungkan: apakah kita tertawa karena keadaan memang lucu, atau karena kita sudah kehilangan kemampuan untuk menangis?

Editor: Nashuha

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru