Tahu serial fiksi drakor Teach You a Lesson yang sedang viral di Netflix? Jangan tertipu dengan genre aksi jotos-jotosannya yang terlihat seru dan menghibur. Drama ini sebenarnya sedang menelanjangi borok dunia pendidikan kita yang sudah busuk sampai ke akarnya.
Lewat 10 episodenya, drakor ini sukses menampar kita dengan sebuah realitas yang membuat miris. Sistem pendidikan kita terbukti gagal total karena sekolah kehilangan fungsi utamanya sebagai tempat berlindung. Bukannya menjadi ruang yang aman untuk menimba ilmu, sekolah justru berubah menjadi sarang teror yang menakutkan bagi guru maupun muridnya.
Sekolah yang katanya tempat suci untuk mendidik anak, kini berubah jadi sarang monster. Ruang kelas bukan lagi tempat belajar, melainkan arena penindasan yang sungguh mengerikan. Anehnya, cerita fiksi dari Korea Selatan ini terasa sangat dekat dengan kenyataan pahit di Indonesia.
Tiap episodenya sukses membongkar penyakit masyarakat yang makin hari makin bikin kita mengelus dada. Ini membuktikan bahwa ruang kelas sebenarnya adalah cerminan kecil dari kehancuran masyarakat yang jauh lebih besar.
Saat kita berniat membongkar dan memperbaiki sistem sekolah, tanpa sadar kita malah membuka “kotak pandora” berisi berbagai borok sosial yang mengerikan. Mulai dari urusan keluarga yang kurang kasih sayang, hukum yang bisa dibeli, sampai ngerinya kejahatan digital anak zaman sekarang.
Di balik Aksi heroik dari Na Hwa-jin pada setiap pukulan mautnya, ada tamparan keras yang harus kita jadikan alat untuk menguliti habis kebusukan di dunia sekolah kita saat ini.
Tameng Hukum untuk Bocah Kriminal
Lapisan kebusukan pertama yang disorot tajam adalah hukum perlindungan anak yang kebablasan. Niat awalnya memang sangat mulia, yaitu untuk melindungi anak-anak di bawah umur. Namun nyatanya, aturan ini justru dipakai sebagai tameng oleh bocah-bocah bermasalah untuk bebas dari jerat hukum.
Mereka dengan sadar menyiksa teman dan gurunya karena tahu betul polisi tidak akan bisa memenjarakan mereka. Banyak remaja sosiopati yang menjadikan regulasi ini untuk memayungi tindakan kriminal mereka dari jerat hukum.
Sindiran paling sarkas untuk kita sebenarnya, terutama para orang dewasa yang membuat aturan hukum. Undang-undang kita bukannya memberikan efek jera, malah seolah memberikan kebebasan berbuat jahat.
“Ketika orang dewasa takut pada anak-anak, maka dunia akan hancur” – Choi Ga Yun
Akibatnya, anak-anak di bawah umur ini merasa punya kebebasan penuh untuk melakukan tindakan kriminal, sadis layaknya orang dewasa. Sungguh sebuah ironi yang menohok, hukum yang dibuat untuk melindungi justru sukses melahirkan kriminal kecil yang kebal hukum.
Ego Orang Tua Menginjak Wibawa Guru
Lapisan kebusukan kedua justru lahir dari ego orang tua yang merasa dirinya seperti arogan di sekolah. Masalah utamanya bukan selalu soal harta atau jabatan, tapi kebiasaan orang tua yang memanfaatkan posisi rentan seorang guru. Mereka tahu betul bahwa pihak sekolah biasanya akan merasa nggak enak, gampang mengalah, atau dituntut harus selalu “nurut” setiap kali ada komplain dari wali murid.
Berbekal dalih komplain tersebut, orang tua merasa punya hak untuk menekan wali kelas seenaknya sendiri. Ujung-ujungnya, siapa yang benar dan salah di kelas tidak lagi dilihat dari fakta kejadian yang sebenarnya. Kebenaran justru ditentukan oleh seberapa keras suara orang tua memaksa pihak sekolah untuk membenarkan kelakuan anak mereka.
Di sinilah kita harus sadar dan mulai bicara soal batasan. Banyak orang tua lupa kalau guru itu manusia biasa yang wajib dihargai, bukan asisten pribadi yang bisa didikte sesuka hati hanya karena guru takut dikomplain.
Menjalin komunikasi yang baik agar anak belajar dengan aman memang penting. Namun, memberikan kepercayaan penuh pada guru untuk mendidik dan mendisiplinkan anak adalah kunci utama suksesnya sebuah pendidikan.
Evolusi Kenakalan Zaman Now
Lapisan ketiga tidak kalah bikin merinding, yaitu berevolusinya kenakalan remaja yang makin di luar nalar. Teach You a Lesson melompat jauh meninggalkan stereotip kenakalan remaja era industrial. Lupakan soal anak sekolah yang hanya berani bolos kelas atau ketahuan merokok di kantin.
Anak zaman sekarang sudah berani jadi bandar judi online, pengedar narkoba, sampai pelaku pelecehan seksual di internet. Mereka meniru persis kejahatan kotor orang dewasa hanya dengan bermodalkan teknologi canggih di tangan.
Lebih gilanya lagi, anak-anak ini sangat pandai memakai senjata viral di media sosial untuk menghancurkan hidup orang lain. Hanya karena tak terima ditegur, seorang murid bisa dengan liciknya memutarbalikkan fakta dan berakting menjadi korban pelecehan di internet demi menjatuhkan gurunya.
Begitu cerita bohong itu viral, netizen langsung ikut menghakimi tanpa ampun hingga membuat mental sang guru hancur lebur. Padahal, kita sering lupa bahwa di balik seragamnya, guru hanyalah manusia biasa yang juga berjuang menghadapi masalah mental dan beban hidup di luar jam mengajarnya. Teror digital yang brutal ini bahkan bisa mendorong guru yang tak bersalah tersebut pada keputusasaan hingga akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri secara tragis.
“Jika dokter takut pasiennya, mereka tak akan bisa disembuhkan. Jika pengacara takut kliennya, mereka tak akan bisa dibela. Namun, jika guru takut muridnya, mana bisa mengajar dengan benar?” -Na Hwa Jin
Cermin Jujur Negara yang Rusak
Ketiga masalah besar ini menyadarkan kita bahwa ruang kelas bukan lagi tempat suci untuk membentuk karakter anak yang baik. Sekolah justru sudah berubah menjadi medan perang yang kacau, di mana aturan hukum diputarbalikkan, nilai moral bisa diperjualbelikan, dan semua orang dipaksa patuh pada ketegasan yang semu.
Serial ini menyadarkan kita bahwa masalah pendidikan tidak pernah berdiri sendiri. Saat kita mencoba memperbaiki sekolah yang hancur, kita sebenarnya sedang membuka sebuah kotak pandora. Kita dipaksa melihat borok lain seperti keluarga yang berantakan dan hukum yang bisa dibeli dengan mudah.
Melalui film ini, kita menyadari bahwa menyelamatkan sistem pendidikan tidak hanya fokus mengobati gejala di hilir seperti perilaku buruk siswa. Memperbaiki pendidikan artinya kita siap menguliti hulu yang beracun yakni kemiskinan struktural, pemujaan berlebih terhadap status sosial, dan kemunafikan kolektif orang dewasa.
Mencegah Lahirnya Monster
Teach You a Lesson adalah potret tragis dari sekolah yang tidak lagi mengonstruksi kesadaran etis, melainkan sekadar menjadi pabrik yang memproses manusia menjadi komoditas. Siswa-siswa penindas dalam drama ini adalah produk nyata dari kegagalan pendidikan humanistik. Mereka berpendidikan tinggi, menguasai instrumen modernitas, namun mengalami kekosongan jiwa eksistensial yang akut.
Apa yang terjadi di dalam drama ini adalah pantulan akurat dari runtuhnya marwah guru di berbagai belahan dunia. Termasuk fenomena harian di Indonesia di mana para pendidik dikriminalisasi oleh masyarakat yang mereka coba didik.
Kita perlu bahu membahu mengembalikan marwah pendidikan yang membahagiakan dan memanusiakan, karena semua orang berhak belajar. Jika kita terus terperangkap pada isu yang dibuka dalam serial Teach You a Lesson, maka ruang kelas akan selamanya menjadi “neraka dunia” tempat sekaratnya kemandirian moral manusia.
“Bukankah sistem pendidikan dibangun agar mereka bisa belajar dengan tenang dan aman?” – Choi Gang Seok
Pada akhirnya, penyelamatan peradaban menuntut pengembalian cita-cita pendidikan kemanusiaan yang membebaskan. Kita perlu merevitalisasi total trias pendidikan. Peran orang tua di rumah juga harus dikembalikan sebagai pendidik moral pertama, bukan sekadar mesin pencari uang. Kalau kita terus tutup mata dan diam saja, bersiaplah menyambut generasi “monster berpendidikan” yang kelak akan menghancurkan masa depan kita sendiri.
Editor: Ikrima


