Din Syamsuddin merupakan salah seorang intelektual Muslim Indonesia yang memiliki perhatian besar terhadap isu-isu keumatan dalam lingkup nasional maupun global. Lahir di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, pada 31 Agustus 1958, ia dikenal sebagai cendekiawan, akademisi, dan pemimpin organisasi Islam yang aktif membangun dialog peradaban serta memperjuangkan persatuan umat Islam. Selama menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005–2015, Din Syamsuddin tidak hanya fokus pada agenda dakwah dan tajdid, tetapi juga mendorong penguatan pemikiran Islam yang berorientasi global. Hal ini tergambar dalam buku “Din Syamsuddin dari Sumbawa untuk Dunia” karya Fadmi Sustiwi. Salah satu gagasan yang memperoleh perhatian khusus darinya adalah upaya mewujudkan kalender Islam global sebagai instrumen pemersatu umat Islam dunia.
Untuk itu perkembangan pemikiran kalender Islam global di lingkungan Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari peran penting Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin. Pada masa kepemimpinannya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, perhatian terhadap ilmu falak, hisab, rukyat, dan pengembangan kalender Islam memperoleh ruang yang sangat besar. Din Syamsuddin tidak hanya memandang persoalan kalender sebagai masalah teknis astronomi, tetapi juga sebagai persoalan strategis yang berkaitan dengan persatuan umat Islam di tingkat global. Oleh karena itu, berbagai langkah konkret dilakukan untuk memperkuat kajian falak di Muhammadiyah sekaligus mendorong lahirnya gagasan kalender Islam yang berlaku secara universal.
Salah satu tonggak penting dalam pengembangan ilmu falak di Muhammadiyah adalah berdirinya Pusat Studi Falak Muhammadiyah (PSFM). Pusat studi ini digagas penulis bersama Zahrul Anam dan Arif Nur Kholis. PSFM diresmikan Din Syamsuddin pada tanggal 8 Rabiulakhir 1428 H bertepatan dengan 25 April 2007 saat Sidang Tanwir Muhammadiyah di Inna Garuda Hotel Yogyakarta dengan tema “Peneguhan dan Pencerahan Gerakan untuk Kemajuan Bangsa. Peresmian tersebut menjadi simbol komitmen Muhammadiyah dalam memperkuat kajian astronomi Islam sebagai landasan ilmiah dalam penentuan kalender hijriah.
Pada saat peresmian tersebut, Din Syamsuddin menuliskan sebuah pesan di kanvas yang kemudian menjadi inspirasi bagi pengembangan studi falak Muhammadiyah. Pesan tersebut berbunyi, “Semoga dengan adanya Pusat Studi Falak ini, penetapan kalender hijriah Muhammadiyah semakin akurat dan menjadi kiblat umat Islam”. Kalimat itu menunjukkan harapan besar agar Muhammadiyah mampu menghadirkan sistem penanggalan Islam yang tidak hanya akurat secara ilmiah, tetapi juga dapat menjadi rujukan bagi umat Islam secara lebih luas.
Kegiatan PSFM bertempat di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada era Khoiruddin Bashori sebagai rektor. Berbagai pelatihan falak telah dilaksanakan dan salah satu kegiatan yang bersejarah adalah “Professor Goes to SMA” untuk memperkenalkan ilmu falak di lingkungan SMA Muhammadiyah, khususnya memperkenalkan konsep hisab wujudul hilal bagi generasi muda. Kehadiran PSFM juga menjadi inspirasi lahirnya berbagai observatorium di lingkungan Muhammadiyah.
Awal Mula Gagasan Kalender Islam Global di Muhammadiyah
Perhatian Din Syamsuddin terhadap kalender Islam global sebenarnya telah muncul sebelum peresmian PSFM. Gagasan tersebut mulai mengemuka dalam rapat antara Majelis Tarjih dan Tajdid dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang diselenggarakan di Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jalan Cik Ditiro, Yogyakarta, pada 2 Zulhijah 1427 H atau 23 Desember 2006. Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah tokoh penting Muhammadiyah, antara lain Din Syamsuddin, A. Rosyad Saleh, Dahlan Rais, Mukhlas Abror, Kamal Muchtar, Ismail Thaib, dan Syamsul Anwar. Agenda utama rapat adalah membahas penetapan Iduladha 1427 H yang pada saat itu menjadi perbincangan luas di tengah masyarakat.
Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Din Syamsuddin. Dalam pengantarnya, ia menjelaskan bahwa dirinya menerima banyak pesan singkat dari masyarakat yang mempertanyakan keputusan Muhammadiyah terkait penetapan Iduladha. Berbagai pertanyaan itu menunjukkan bahwa persoalan penanggalan Islam tidak lagi dipandang sebagai masalah internal organisasi, melainkan telah menjadi perhatian publik yang lebih luas.
Dalam konteks tersebut, Din Syamsuddin menyampaikan pandangannya bahwa Muhammadiyah perlu memberikan perhatian serius terhadap keputusan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengenai konsep matlak global. Menurutnya, gagasan tersebut penting sebagai bagian dari upaya mewujudkan ukhuwah Islamiyah dan menyatukan hari-hari besar Islam di seluruh dunia.
Setelah menyampaikan pengantar, Din Syamsuddin mempersilakan para peserta rapat untuk memberikan pandangan dan masukan. Dalam diskusi tersebut muncul berbagai perspektif yang menunjukkan dinamika pemikiran di kalangan Muhammadiyah mengenai persoalan matlak, rukyat, dan kalender Islam.
Ulama senior Ismail Thaib dari Majelis Tarjih dan Tajdid menyampaikan pandangan bahwa selama ini Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama masih terjebak dalam konsep wilayah hukum (wilayatul hukmi) dalam penentuan awal bulan kamariah. Menurutnya, pendekatan tersebut menyebabkan perbedaan penanggalan terus berulang. Ia juga mengkritisi penggunaan hadis Kuraib yang selama ini sering dijadikan dasar bagi konsep ikhtilaf matali’. Menurut Ismail Thaib, hadis tersebut memiliki kelemahan apabila dijadikan landasan untuk mempertahankan fragmentasi penanggalan Islam di berbagai wilayah dunia.
Sementara itu, Kamal Muchtar memiliki pandangan yang berbeda. Ia berpendapat bahwa wukuf di Arafah merupakan sebuah peristiwa, bukan penanda tanggal. Oleh karena itu, pelaksanaan puasa Arafah tidak harus mengikuti peristiwa wukuf yang berlangsung di Mekah, melainkan didasarkan pada tanggal 9 Zulhijah yang berlaku di masing-masing wilayah. Pandangan ini diperkuat oleh Syamsul Anwar yang menjelaskan bahwa selama ini Muhammadiyah memahami puasa Arafah sebagai ibadah yang dilaksanakan setiap tanggal 9 Zulhijah, bukan karena mengikuti peristiwa wukuf di Arafah.
Setelah memperoleh berbagai masukan tersebut, Din Syamsuddin menegaskan bahwa persoalan Iduladha berkaitan dengan dua dimensi sekaligus, yaitu dimensi ruang yang diwujudkan dalam peristiwa wukuf dan dimensi waktu yang diwujudkan dalam sistem penanggalan. Oleh sebab itu, diperlukan kajian yang lebih mendalam mengenai konsep wilayatul hukmi dan matlak global, baik dari perspektif syariah maupun sains modern.
Mendorong Kajian Internasional tentang Kalender Islam Global
Dalam rapat tersebut, Din Syamsuddin meminta Majelis Tarjih dan Tajdid untuk melakukan kajian yang lebih serius mengenai matlak dan kalender Islam global. Ia juga mengusulkan agar Muhammadiyah memprakarsai pertemuan internasional yang menghadirkan para pakar kalender Islam dari berbagai negara. Menurutnya, dialog internasional sangat penting untuk membangun kesepahaman umat Islam mengenai sistem kalender yang dapat diterima secara luas.
Gagasan tersebut memperoleh respons positif dari Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan kemudian ditindaklanjuti oleh Divisi Hisab dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Berbagai persiapan dilakukan hingga akhirnya terselenggara Simposium Internasional Upaya Penyatuan Kalender Islam Internasional pada 22–24 Syakban 1428 H atau 4–6 September 2007 di Hotel Sahid Jakarta.
Simposium tersebut menghadirkan sejumlah pakar kalender Islam Internasional terkemuka dunia. Di antaranya adalah Mohammad Ilyas dari Malaysia yang dikenal sebagai pelopor Kalender Islam Internasional, Jamaluddin Abdur Raziq dari Maroko yang menggagas konsep “satu hari satu tanggal”, Mohammed Syawkat Audah dari Uni Emirat Arab yang dikenal melalui Islamic Crescent Observation Project (ICOP), Mohammad Ahmad Sulaiman dari Mesir, serta Moedji Raharto dari Indonesia yang merupakan astronom terkemuka dan namanya diabadikan sebagai asteroid 1277 Raharto.
Pertemuan internasional tersebut dihadiri oleh perwakilan berbagai organisasi Islam di Indonesia, akademisi, astronom, ulama, dan perwakilan Kementerian Agama Republik Indonesia. Seminar dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa persoalan kalender Islam telah berkembang menjadi isu strategis yang menyangkut masa depan persatuan umat Islam.
Lebih dari itu, simposisum tersebut merupakan pertemuan internasional pertama di Indonesia yang secara khusus mengkaji aspek filosofis kalender Islam. Tidak hanya membahas persoalan teknis hisab dan rukyat, simposium ini juga membicarakan dimensi teologis, historis, astronomis, dan peradaban yang berkaitan dengan pembangunan kalender Islam global.
Din Syamsuddin dan Wacana Matla’ al-‘Alam
Pasca penyelenggaraan simposium internasional tersebut, Din Syamsuddin semakin aktif mengembangkan wacana penyatuan kalender Islam dunia. Ia memperkenalkan gagasan Matla’ al-‘Alam atau matlak global sebagai salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mewujudkan kalender Islam global.
Menurut Din Syamsuddin, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memungkinkan umat Islam membangun sistem kalender yang berlaku secara universal. Oleh karena itu, perbedaan penanggalan yang selama ini terjadi tidak semestinya dipertahankan sebagai sesuatu yang permanen. Sebaliknya, umat Islam perlu berupaya mencari titik temu dua pendekatan yang berkembang, yaitu antara “seeing is believing” dan “knowing is believing” agar dapat memperkuat persatuan dan solidaritas global.
Dalam berbagai kesempatan, Din Syamsuddin menghadiri sidang isbat yang diselenggarakan pemerintah serta menjadi narasumber dalam berbagai program televisi yang membahas hisab, rukyat, dan kalender hijriah. Din Syamsuddin bersama Kyai Hasyim Muzadi pernah berikhtiar mempertemukan ulama Muhammadiyah dan NU untuk mencari titik temu hisab dan rukyat. Baginya penyatuan kalender Islam sebagai bagian dari agenda besar peradaban Islam kontemporer. Ia menyadari hal ini bukanlah hal yang mudah tetapi perlu terus diupayakan.
Bagi Din Syamsuddin, kalender Islam bukan sekadar instrumen penanggalan, melainkan simbol persatuan umat. Kesamaan awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha akan memperkuat kesadaran kolektif umat Islam sebagai satu komunitas global yang melampaui batas negara, mazhab, dan kawasan geografis.
Catatan Akhir
Berdasarkan uraian di atas, Din Syamsuddin dapat dipandang sebagai salah satu tokoh kunci yang meletakkan fondasi pemikiran kalender Islam global di lingkungan Muhammadiyah. Melalui dukungannya terhadap pengembangan ilmu falak, pendirian Pusat Studi Falak Muhammadiyah, gagasannya terhadap Simposium Internasional Upaya Penyatuan Kalender Islam Internasional, serta promosi konsep Matla’ al-‘Alam, ia telah membuka jalan bagi lahirnya diskursus yang lebih luas mengenai penyatuan kalender hijriah. Pemikiran tersebut kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan intelektual Muhammadiyah menuju lahirnya Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang hingga kini terus dikembangkan sebagai ikhtiar mewujudkan persatuan umat Islam di tingkat dunia.
Wa Allahu A’lam bi as-Sawab


