back to top
Rabu, Juni 24, 2026

Merekonstruksi Makna Hidup, dengan Seporsi Mie Ayam Untuk Mati

Lihat Lainnya

Syifa Nur Putri Diansyah
Syifa Nur Putri Diansyah
• Mahasiswa S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD), Universitas Negeri Malang • Anggota Div. Entrepreuneurship, HMD PAUD Universitas Negeri Malang

Novel “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” adalah sebuah masterpiece karya Brian Khrisna. Cerita demi cerita dihadirkan melalui kemasan fiksi-reflektif yang mencoba untuk menyoroti makna eksistensial dari seorang manusia. Melalui karyanya, Brian memberikan pengalaman membaca yang penuh gejolak, karena isu yang dibawanya merupakan hal yang relevan akhir-akhir ini: yakni “Kesehatan Mental”.

Di era yang dipenuhi cerita tentang kesuksesan, pencapaian besar, dan kehidupan yang tampak sempurna, kisah-kisah yang sederhana justru sering meninggalkan kesan yang lebih mendalam. Karena itulah cerita yang dekat dengan realitas sehari-hari sering terasa lebih mudah dipahami dan dirasakan oleh pembacanya.

Dari novel karya Brian, melalui tokoh Ale, pria berusia 37 tahun yang mengidap depresi akut. Kita diajak menyelami kehidupan seseorang yang merasa lelah dengan hidupnya. Berbagai pengalaman pahit, penolakan, dan luka yang terus menumpuk, membuat Ale kehilangan semangat untuk melanjutkan hidup. Dalam keadaan tersebut, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Namun sebelum itu terjadi, ia tiba-tiba ingin menikmati sesuatu yang sederhana, yaitu seporsi mie ayam. Keinginan yang tampak biasa tersebut kemudian membawa kita pada perjalanan yang penuh refleksi tentang kehidupan. Novel ini juga menunjukkan bahwa setiap orang memiliki beban yang mungkin tidak terlihat dari luar. Melalui cerita Ale, kita diajak untuk melihat bahwa makna hidup sering kali terlewat untuk ditemukan.

Meaningfulness Generasi yang Terburu-Buru

Dari novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati terasa sangat relevan bagi generasi muda saat ini yang serba dalam ketidakpastian. Menurut Kementerian Kesehatan (2026), sekitar 338 ribu anak muda menunjukkan gejala cemas (anxiety disorder). Serta, sekitar 363 ribu anak muda menunjukkan gejala depresi (depression disorder). Hal tersebut sejalan dengan indikasi bahwa 1 dari 5 hingga 8 orang di dunia berpotensi mengalami masalah kesehatan jiwa.

Baca Juga:  Negeri 5 Menara: Novel Terbaik tentang Pesantren

Generasi muda saat ini hidup dalam dunia yang serba cepat, informasi dapat diperoleh dalam kedipan mata, kebutuhan dapat terpenuhi dengan mudah, dan berbagai pencapaian orang lain terpantaudari media sosial. Tanpa disadari, kondisi tersebut membuat banyak anak muda merasa harus selalu bergerak lebih cepat agar tidak tertinggal. Akhirnya mereka memikirkan hidup yang jauh diatas standar normal, lalu efek harapan yang dibenturkan dengan kenyataan mengakibatkan beban pikiran dan kecemasan berlebih.

Bisa dibayangkan bahwa setiap hari kita melihat orang lain membagikan pencapaian, kesuksesan, dan berbagai momen terbaik dalam hidup mereka. Akibatnya, banyak dari kita mulai membandingkan diri dengan orang lain. Kadangkala kita merasa kurang berhasil, kurang produktif, atau kurang bahagia hanya karena perjalanan hidup kita tidak sama dengan perjalanan orang lain atau dengan apa yang dilihatnya di tiktok.

Dari sini tekanan dan tuntutan untuk sukses di usia muda membuat banyak generasi saat ini sulit menikmati proses. Fokus mereka sering tertuju pada hasil akhir, sementara setiap langkah yang mereka jalani terasa kurang bermakna. Padahal, proses merupakan bagian penting yang mengajarkan kesabaran, kedewasaan, dan kematangan cara berpikir. Karena itulah yang menjadikan tujuan seorang individu menjadi bernilai, tanpa hal itu tercapainya tujuan seseorang tak lebih dari sebuah robot menyelesaikan tugas – hambar.

Melalui tokoh utamanya, novel ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak dapat diukur hanya dari pencapaian yang terlihat. Setiap orang memiliki perjuangan dan prosesnya masing-masing. Hidup bukanlah tentang perlombaan untuk menjadi yang tercepat, melainkan perjalanan untuk memahami diri sendiri dan menemukan makna untuk terus hidup dan bertumbuh. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk belajar menikmati proses dan tidak terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Baca Juga:  Hegemoni Militer dan Kegagalan Revolusi Mesir

Dalam kacamata psikologi positif, fenomena ini sangat selaras dengan teori Authentic Happiness yang digagas oleh Martin Seligman. Seligman menekankan bahwa salah satu pilar kebahagiaan sejati (positive emotions) diperoleh melalui kemampuan seseorang untuk melakukan savoring, yaitu kesadaran penuh untuk menikmati dan menghargai momen masa kini, sekecil apa pun itu. Menikmati makanan favorit adalah bentuk intervensi psikologis yang mampu meredakan kecemasan akut.

Kehidupan, Kebermaknaan dan Perjuangan dalam Semangkuk Mie Ayam

Membaca novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati seolah tamparan keras bagi kita tentang hakikat sebuah kebahagiaan. melalui kisah ini, kita diajak menyadari bahwa makna hidup sejati bukan berasal dari hal yang luar biasa. Kerap kali, makna hidup itu justru hadir di sela-sela hal sederhana yang sering kita sepelekan; seperti kehangatan mengobrol bersama keluarga, mendapat senyuman dari orang terdekat, rasa dari makanan favorit, atau sekadar kesempatan untuk menghirup udara pagi dan menjalani hari dengan tenang.

Melalui perjalanan tokoh Ale, kita diingatkan sebuah realitas emosional yang getir: bahwa setiap jiwa sedang memikul perjuangannya masing-masing. Tidak semua luka terlihat, mereka yang tampak tenang belum tentu hatinya sedang baik-baik saja. Kondisi psikologis demikian digambarkan dengan sangat indah dalam QS. Al-Baqarah: 273. Ayat tersebut sejatinya membahas prioritas sedekah bagi orang-orang fakir yang terhalang usahanya karena berjuang di jalan Allah. Namun secara khusus, Al-Qur’an menyoroti karakter mulia mereka yang tampak berkecukupan di mata orang awam karena kemampuannya dalam menjaga kehormatan diri (iffah) dari mengeluh dan meminta-minta, padahal kenyataannya mereka sedang berada dalam kesulitan yang amat berat.

Baca Juga:  Prof Baroroh Baried (5): Fungsi Wanita dalam Pembinaan Rumah Tangga

Kita tidak tahu badai apa yang sedang dihadapi orang lain saat ini, maka kepedulian yang tulus dan sikap saling menghargai menjadi sangat krusial. Sebuah sapaan hangat atau senyuman tulus dari kita bisa menjadi jaring yang menyelamatkan seseorang dari tepi jurang keputusasaan. Hal ini selaras dengan pesan mendalam Rasulullah SAW: “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, bahkan meskipun kamu hanya menyambut saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (HR. Muslim).

Pada akhirnya, novel ini bukan sekadar sebuah catatan tentang kesedihan atau keputusasaan yang kelam. Buku ini adalah tentang sebuah harapan (hope). Sebuah pesan kuat bahwa selalu ada alasan untuk tetap bertahan hidup, meskipun alasan itu hanya datang dari hal yang paling sederhana. Novel ini mengetuk pintu hati kita sebagai pembaca untuk lebih menghargai kehidupan, mensyukuri setiap takdir yang ada, dan menikmati proses yang sedang berjalan. Sebab, makna hidup yang sesungguhnya sering kali justru ditemukan dalam butiran-butiran momen kecil yang selama ini luput dari perhatian kita—seperti halnya kesempatan untuk mencicipi seporsi mie ayam sebelum hari berakhir.

“You know, you know where you are with,

You know where are you with,

Floor collapsing,

Floating, bounching back,

And one day I am gonna grow wings.”

~ Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Hal. 201

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru