back to top
Selasa, Juli 21, 2026

Pernikahan di Persimpangan: Antara Cinta, Ego, dan Tanggung Jawab

Lihat Lainnya

Rizky Wahyu Almajidi
Rizky Wahyu Almajidi
Mahasiswa Program Studi Manajemen,di Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta

Pernikahan sering kali diawali dengan janji indah untuk saling mencintai dan menemani hingga akhir hayat. Namun, perjalanan rumah tangga tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ketika cinta mulai diuji oleh persoalan ekonomi, komunikasi, dan ego, tidak sedikit pasangan yang akhirnya berada di persimpangan: mempertahankan rumah tangga atau mengakhirinya.

Kisah ini pernah terjadi pada sepasang suami istri di Kabupaten Merangin. Sebut saja mereka A dan N. Mereka menikah atas dasar saling mencintai setelah menjalani masa perkenalan yang cukup lama. Tahun-tahun pertama pernikahan dipenuhi kebahagiaan. Namun, keadaan mulai berubah ketika usaha yang dijalankan A mengalami kemunduran. Penghasilan keluarga menurun, sementara kebutuhan rumah tangga terus meningkat.

Ketika Cinta Diuji oleh Ego

Tekanan ekonomi perlahan memengaruhi hubungan mereka. Percakapan yang dahulu dipenuhi canda berubah menjadi perdebatan. Kesalahpahaman kecil sering berakhir dengan saling menyalahkan. A merasa tidak lagi dihargai sebagai kepala keluarga, sedangkan N merasa harus memikul beban rumah tangga seorang diri. Ego keduanya tumbuh tanpa disadari hingga membuat komunikasi semakin renggang.

Suatu hari, pertengkaran yang dipicu persoalan sederhana berujung pada ucapan talak yang hampir keluar dari lisan A. Beruntung, keluarga besar segera mengambil langkah dengan mempertemukan keduanya bersama seorang ustaz untuk bermusyawarah. Dalam pertemuan itu, mereka diingatkan bahwa pernikahan bukan hanya tentang mempertahankan rasa cinta, tetapi juga tentang menjalankan amanah Allah Swt.

Baca Juga:  Melampaui Batas-batas Konvensional: Kisah Cinta Sartre dan Beauvoir

Allah Swt. berfirman: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah).” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa tujuan pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, melainkan menghadirkan ketenangan, kasih sayang, dan saling menguatkan ketika ujian datang.

Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi No. 3895)

Hadis tersebut mengingatkan bahwa ukuran kebaikan seseorang tidak hanya terlihat dalam kehidupan sosial, tetapi juga dari cara ia memperlakukan pasangan dan keluarganya. Rumah tangga yang harmonis tidak dibangun hanya dengan rasa cinta, melainkan juga dengan kemampuan mengendalikan ego, menjaga lisan, dan saling menghormati.

Merawat Pernikahan dengan Iman dan Tanggung Jawab

Dalam pandangan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, pernikahan merupakan mitsaqan ghalizha (perjanjian yang kokoh) yang dibangun atas dasar ibadah dan tanggung jawab. Oleh karena itu, setiap persoalan rumah tangga hendaknya diselesaikan melalui musyawarah, saling memahami hak dan kewajiban, serta mengedepankan nilai-nilai ihsan sebelum mengambil keputusan yang dapat mengakhiri ikatan pernikahan.

Nasihat tersebut perlahan membuka hati A dan N. Mereka menyadari bahwa selama ini yang mereka pertahankan bukanlah komitmen pernikahan, melainkan ego masing-masing. A mulai lebih terbuka mengenai kesulitan ekonomi yang dihadapinya, sementara N belajar menyampaikan kekecewaan dengan cara yang lebih bijaksana. Keduanya sepakat memperbaiki komunikasi, memperkuat ibadah, dan saling mendukung dalam menghadapi masa-masa sulit.

Baca Juga:  Hijrah Birokrasi di Tengah Ultimatum Reformasi Jilid 2

Kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa banyak rumah tangga tidak runtuh karena hilangnya cinta, melainkan karena ego yang dibiarkan tumbuh tanpa kendali. Padahal, setiap pasangan pasti akan menghadapi ujian dengan bentuk yang berbeda. Ada yang diuji oleh ekonomi, campur tangan keluarga, perbedaan karakter, hingga kesibukan pekerjaan. Yang membedakan bukanlah berat ringannya ujian, melainkan cara pasangan menyikapinya.

Pernikahan Bukan Sekadar Tentang Cinta

Pada akhirnya, pernikahan bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan tentang siapa yang bersedia menjaga janji suci yang telah diikrarkan di hadapan Allah Swt. Cinta mungkin menjadi awal sebuah rumah tangga, tetapi iman, kesabaran, dan tanggung jawablah yang akan menjaganya tetap kokoh.

Sebagaimana firman Allah Swt.: “Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut…” (QS. An-Nisa: 19).

Ayat ini mengajarkan bahwa rumah tangga dibangun dengan saling menghormati, memahami, dan berbuat baik kepada pasangan. Ketika ego dikalahkan oleh kasih sayang dan setiap persoalan diselesaikan dengan musyawarah, pernikahan tidak lagi menjadi persimpangan menuju perpisahan, melainkan jalan bersama untuk meraih keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Editor: Anas

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru