back to top
Minggu, Agustus 23, 2026

Masjid Zaman Sekarang Berisik?

Lihat Lainnya

Laskar Badar Muhammad
Laskar Badar Muhammad
Kader Muhammadiyah dan pengasuh anak-anak yatim dan dhuafa. Menjabat sebagai anggota bidang tabligh IMM komisariat Hajjah Nuriyah Shabran periode 2018-2019

Tak bisa diingkari bahwa suara toa masjid saat ini telah menjadi salah satu bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada mulanya, toa masjid benar-benar difungsikan sebagaimana maksud dan tujuannya: untuk mengeraskan suara muazin yang mengumandangkan azan sebagai panggilan beribadah. Serta sesekali untuk pemberitahuan berita duka.

Namun kini, agaknya telah terjadi pergeseran fungsi yang lumayan ekstrem. Yang awalnya berfungsi sebagai sarana panggilan ibadah yang sakral dan terukur. Berubah menjadi instrumen untuk mencari, mendapatkan, dan mempertahankan eksistensi lokal. Sekilas mungkin tampak tidak ada hubungannya antara toa masjid dan upaya mempertahankan eksistensi. Namun kenyataannya, toa masjid kini berubah menyerupai corong yang merepresentasikan pengurus dan pengelolanya.

Toa Masjid sebagai Instrumen Kuasa di Ruang Publik

Mengapa pergeseran fungsi ini bisa terjadi dan bahkan menjadi sebuah “kekerasan mikro” di ruang publik? Hal itu tentu tidak lepas dari dinamika kelas masyarakat, psikologi kekuasaan lokal, dan ketakutan akan “kekalahan”. Dari sanalah secara perlahan namun pasti tercipta suatu artikulasi dalam benak mereka: “Kami ada di sini. Kami berhak bersuara, dan kalian tidak boleh mengabaikannya.”

Saat ini, penggunaan toa masjid seolah bukan lagi soal estetika suara atau teknis audio. Keberadaan toa yang mampu mendominasi ruang hingga radius jauh tersebut diposisikan sebagai bentuk kendali satu-satunya bagi masyarakat bawah. Melalui kendali tersebut, suara mereka menembus ruang-ruang privat yang semestinya steril dari intervensi luar. Warga sekitar baik non-Muslim, penderita gangguan mental, bayi, maupun sesama Muslim yang sedang lelah dijadikan sebagai pendengar pasif yang wajib memaklumi.

Baca Juga:  Maroko dan Kalender Islam Global

Mengapa dikatakan sebagai salah satu bentuk kendali? Sebab toa masjid pada dasarnya memiliki fungsi yang mirip dengan instrumen kekuasaan: memonopoli frekuensi udara di sekitarnya. Ketika toa itu digunakan, secara tidak langsung mereka memegang kontrol penuh atas instrumen tersebut. Ditengah kondisi harian yang mungkin serba terbatas secara ekonomi maupun politik.

Syiar Bukan Perlombaan Kerasnya Suara

Lalu, tumbuh asumsi semu bahwa semakin keras dan sering toa masjid berbunyi. Semakin hidup dan besar pula syiar serta eksistensi Islam di wilayah tersebut. Menurunkan volume toa tidak diartikan sebagai bentuk empati terhadap mereka yang terganggu. Melainkan simbol ketundukan pada narasi luar dan kekalahan identitas. Maka, mempertahankan toa agar terus berbunyi dianggap sebagai tindakan pertahanan eksistensial.

Memang, implikasi dari bisingnya toa masjid tidak meninggalkan bekas luka fisik. Namun sadarkah kita bahwa hal demikian dapat memicu kelelahan emosional, gangguan tidur, serta hilangnya rasa aman dan nyaman di rumah sendiri? Lebih jauh lagi. Ketika nasihat dan ceramah dipancarkan dengan kualitas suara yang pecah, asal-asalan, serta durasi dan intensitas yang tidak terukur. Pesan-pesan sakral itu terdegradasi menjadi sekadar noise yang mengikis rasa hormat pendengarnya.

Jika degradasi pesan spiritual ini terjadi terus-menerus, Islam berisiko kehilangan wibawanya. Nasihat-nasihat yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis tak lagi memiliki bobot yang bernilai bagi khalayak ramai. Ini jelas kondisi yang sama sekali tidak kita inginkan.

Baca Juga:  Dampak Buruk Jika Ormas Keagamaan Ikut Bermain Tambang

Kita perlu segera menyadari bahwa kedalaman iman tidak diukur dari seberapa keras dan seringnya suara dipancarkan. Allah sendiri menegaskan bahwa diciptakannya hidup dan mati adalah untuk menguji siapa di antara kita yang paling baik kualitas amalnya (QS. Al-Mulk [67]: 2). Kualitas tidak selalu berbanding lurus dengan kuantitas—terlebih kuantitas desibel suara yang dihasilkan.

Merawat Keheningan, Menguatkan Wibawa Islam

Marilah kita mulai belajar menikmati keheningan dan kesunyian. Hening dan sunyi bukanlah simbol ketiadaan, ketundukan, atau kekalahan. Melainkan prasyarat mutlak untuk berkontemplasi, merenung (tadabbur), introspeksi (muhasabah), dan menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs). Lupakah kita bahwa wahyu pertama turun ketika Nabi Muhammad SAW sedang menyendiri di Gua Hira sambil menikmati keheningan? Lupakah kita bahwa aksi heroik Nabi Ibrahim AS di masa mudanya adalah hasil dari perenungan mendalam terhadap fenomena alam dalam sunyi?

Ini tentu bukan upaya untuk mematikan toa masjid sama sekali hingga masjid menjadi senyap. Namun, alangkah lebih baik jika kita bijak, terukur, dan menghormati hak istirahat tetangga dalam menggunakannya. Lebih dari itu, kualitas audio yang dipancarkan benar-benar diperhatikan estetika dan keindahannya. Dengan begitu, orang yang mendengarkan akan merasa segan dan Islam tampil jauh lebih berwibawa.

Suatu peradaban yang matang dengan spiritualitas yang berdaulat tidak dibangun dari seberapa keras kita memaksakan suara ke ruang orang lain, melainkan dari kemampuan kita menghadirkan keindahan dan kedamaian di tengah keheningan bersama.

Baca Juga:  Lumpuhnya Otak di Ujung Promt: Refleksi Trikoda IMM

Editor: Anas

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru