Karakter Muruah: Integritas Estetika Jiwa dalam Kaca Bening - IBTimes.ID
Akhlak

Karakter Muruah: Integritas Estetika Jiwa dalam Kaca Bening

8 Mins read

Muruah adalah Bunga Diri

Muruah – Kemulian dan kebeningan pribadi seseorang tidak hanya terletak pada laku tapa, semedi, dan khalwat-nya di hadirat Tuhan di mikrab masjid atau ruang khusus di rumah. Namun, esensi kesucian jiwa dan kebeningan kalbu adalah terlihat sejauhmana sang hamba mampu memelihara kesucian jiwa dan kebeningan kalbu ketika dia berada dalam pergumulan kehidupan yang penuh dengan problematika dan romansa yang melelahkan dan melenakan.

Apabila sang hamba mampu menjaga kesucian jiwa dan kebeningan kalbu di tengah kehidupan yang pongah dan serakah, serta mampu keluar dari “penjara-penjara” kehidupan yang memborgol batinnya, maka sang hamba tersebut disebut sukses! Seperti ungkapan menyatakan, Siapa yang pandai meniti ombak, maka selamat badan ke seberang!’

Untuk dapat menjaga kesucian jiwa dan kebeningan kalbu dalam kerongkong zaman yang serbaujuk kedigdayaan diri ini, maka benteng diri yang harus dimiliki adalah karakter muruah. Muruah adalah hiasan jiwa dan cita-cita sukma. Ia ibaratkan sebagai “bunga” diri; indah di pandang oleh mata, senang dirasa oleh jiwa, sedap menyelinap dalam sukma, wangi semerbab ke luar negeri, “duri”nya bukan untuk menyakiti tapi untuk memelihara diri: semua orang kan jatuh hati!

***

Menurut Abu Al-Hasan Ali Al-Bishri Al-Mawardi dalam kitab Adab Ad-Dunya wa Ad-Din (2003: 160), bahwa muruah adalah kecermatan seseorang dalam menjaga etiket agar tetap bergerak menuju tingkat terbaik, sehingga tidak tampak lagi sifat buruknya dan tidak ada yang layak dicela dan dikritik.

Jadi, esensi karakter muruah adalah sikap lahir-batin setiap manusia dalam menjaga integritas dirinya, dengan senantiasa penuh kecermatan dalam menjaga etiket agar tetap bergerak menuju tingkat terbaik, sehingga tidak tampak lagi sifat buruknya dan tidak ada lagi yang layak dicela dan dikritik.

Karakter muruah sangat penting dan harus dimiliki oleh semua manusia. Karena kesucian jiwa dan kebeningan kalbu serta tertatanya laku hidup akan tergantung sejauhmana karakter muruah mampu ditransformasikan pada diri sendiri dan dalam kehidupan bermasyarakat.

Maka, wajarlah Rasulullah Saw menyatakan pentingnya karakter muruah pada diri sendiri dan hidup bermasyarakat, seperti sabdanya: “Orang yang bergaul dengan manusia tanpa menzalimi mereka, berbicara tanpa berdusta, dan berjanji tanpa memungkirinya, dialah yang sempurna muruahnya, nyata integritas kepribadiannnya dan wajib dipersaudarai.”

Karakter Muruah: Integritas Estetika Jiwa dalam Kaca Bening

Adapun integritas estetika jiwa dalam kaca bening pribadi yang berkarakter muruah adalah dengan senantiasa menjaga “rambu-rambu” ketentuan doktrin dan dogma agama yang ada dalam Kitab Suci dan risalah agung para Nabi dan Rasul-Nya, antara lain adalah:

Pertama, berbuat yang paling sopan dan indah

Rasulullah Saw menyatakan, “Sesungguhnya Allah menyukai perkara-perkara yang bernilai tinggi dan mulia, sebaliknya Allah membenci perkara-perkara yang bernilai rendah dan hina.”

Rasulullah Saw bersabda pada pamannya Al-Abbas,”Keindahanmu membuatku kagum.” Ia balik bertanya, “Apakah keindahan pria ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Keindahan tutur bahasanya.”

Rasulullah Saw bersabda, “Posisi lidah orang bijak berada di bawah hatinya (akalnya). Bila ia ingin bicara, ia konsultasikan terlebih dahulu dengan hatinya (karena bawahan harus konsultasi dengan atasan). Bila bicaranya menguntungkan, ia berbicara. Sebaliknya bila mengandung bahaya, ia diam. Adapun posisi hati orang bodoh berada di bawah lidahnya. Ia berbicara mengenai semua masalah yang dikemukakan kepadanya (karena lidah sebagai atasan tidak konsultasi dengan hati atau akal yang menjadi bawahannya).”

Pada masa Rasulullah Saw dahulunya, suatu waktu, pernah seorang Arab Badui berbicara di depan Rasulullah Saw dengan bahasa yang panjang dan tidak efisien. Beliau bertanya kepadanya, “Apakah anggota tubuh yang melindungi lidah engkau?” Ia menjawab, “Dua buah bibirku dan semua gigiku.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah merahmati orang yang bicaranya dengan bahasa yang singkat, padat, dan sekadar kebutuhannya.”

***

Kedua, menahan diri dari yang subhat dan haram.

Baca Juga  Relasi Ta'aruf dan Interaksi Sosial

“Katakanlah, ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah {5}: 100)

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil.” (QS. Al-Baqarah {2}: 42)

Sabda Rasulullah Saw yang menyatakan, “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukan hatimu dan lakukanlah sesuatu yang tidak menimbulkan keraguan di dalam hatimu.”

Rasulullah Saw pun menjelaskan: “Janganlah Anda kagum kepada orang yang memperoleh banyak harta dari yang haram. Karena bila harta itu dinafkahkannya, dia tidak memperoleh pahala darinya dan sebaliknya jika disimpannya, harta itu menjadi bekalnya menuju ke api neraka.”

Kemudian, sabda Rasulullah Saw, “Penuhilah kebutuhan hidupmu dengan usaha yang terbaik.”

Ketiga, menjauhi dosa.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah {4}: 90)

Lalu sabda Rasulullah Saw menjelaskan: “Orang yang mampu mengendalikan dirinya dalam empat keadaan berhak masuk surga dan setan tidak mampu menggodanya, yaitu mengendalikan emosi ketika senang, mengendalikan emosi ketika takut, mengendalikan nafsu birahi ketika bangkit dan bergejolak, dan mengendalikan emosi marah ketika mau marah.”

***

Keempat, adil dalam memutuskan perkara.

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, kerena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah {5}: 8)

Kelima, tidak berperilaku zalim.

“Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa, selain orang yang merencanakannya sendiri.” (QS. Fathir {35}: 43)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka.(168) Kecuali jalan ke neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (169).” (QS. Al-Maidah {5}: 168-169)

Kemudian dalam hadits Rasulullah Saw menyatakan, “Wahai Ali, hindarilah doa orang yang dizalimi karena dia memohon memperoleh haknya kepada Allah, sedangkan Allah tidak akan menahan dan menghalangi seseorang untuk memperoleh haknya.”

Keenam, tidak ambisius pada sesuatu yang bukan haknya.

Rasululllah Saw berdoa dalam sabdanya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ketamakan yang membawa kehinaan diri.”

Lalu dalam sabda Rasulullah Saw, “Janganlah Anda berharap memperoleh bantuan materi dari manusia dan hindarilah sifat tamak. Karena ketamakan adalah suatu bentuk kemiskinan yang nyata. Jika Anda melaksanakan shalat, anggaplah shalat yang Anda lakukan itu shalat yang terakhir kalinya bagi Anda (anggaplah bahwa setelah shalat itu Anda wafat), dan hindarilah perbuatan-perbuatan yang salah.”

Kemudian Abdullah Ibnu Mas’ud meriwayatkan hadits Rasulullah Saw yang berbunyi: “Sesungguhnya Malaikat Jibril membisikkan ke dalam kalbuku, bahwa seorang manusia tidak akan diwafatkan sebelum dia menerima secara utuh seluruh rezekinya (yang telah ditentukan menjadi haknya). Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan carilah rezekimu yang halal dengan cara yang baik. Janganlah keterlambatan kedatangan rezeki mendorongmu mencari dengan berbuat kemaksiatan kepada Allah. Sesungguhnya yang ada di sisi Allah hanya diperoleh dengan mentaati-Nya.”

***

Ketujuh, jauh dari berperilaku sombong.

Baca Juga  Akhlak Mulia: Cermin Karakter Autentik

Rasulullah Saw bersabda kepada pamannya, Al-Abbas, “Saya melarang Anda menyekutukan Allah dan bersikap sombong. Karena Allah berlindung darinya.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a beliau berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Kesombongan adalah selendangKu, dan keagungan adalah kain (sarung)Ku, barangsiapa bersaing (turut memiliki) dalam salah satu dari kedua hal tersebut, maka benar-benar akan Aku lemparkan dia di dalam neraka.’” (HQR. Abu Dawud, begitu juga oleh Ibnu Majah dan Imam Ahmad, dengan sanad yang shahih)

Kedelapan, memihak kepada yang lemah.

“Dan sebarkanlah dirimu bersama-sama dengan orang-orang yang senantiasa berdoa kepada Tuhan di waktu pagi atau sore semata mengharapkan keridaan Tuhan, dan janganlah memalingkan kedua matamu dari mereka hanya karena memandang kekayaan duniawi (karena miskin).” (QS. Al-Kahf {18}: 28)

“Adapun terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang, dan kepada peminta-minta janganlah kamu bentak.” (QS. Al-Dhuha {93}: 9-10)

“Tahukah engkau orang yang mendustakan agama? Mereka itulah orang-orang yang menghardik anak yatim, dan tidak suka menganjurkan memberi makan pada orang miskin.” (QS. Al-Ma’un {107}: 1-3)

***

Kesembilan, memosisikan manusia secara proporsional.

“Dan sesungguhnya Kami (Tuhan) tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Al-Mahfuzh, bahwasannya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh (profesional, menguasai dan mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi).” (QS. Al-Anbiya’ {21}: 105)

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat {49}: 10)

Kesepuluh, tidak senang berbuat salah.

Hadits Rasulullah Saw menjelaskan, “Hindarilah permusuhan karena ia mematikan sifat-sifat terpuji dan menghidupkan sifat-sifat tercela.”

Makhul meriwayatkan dari Abi Umamah r.a, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Manusia ada yang bagaikan sebatang pohon yang penuh dengan duri. Jika Anda mengkritik mereka, mereka pun membalas kritikan Anda. Jika Anda lari dari mereka, mereka mengejar Anda. Jika Anda meninggalkan mereka, mereka tidak meninggalkan Anda.” Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana jalan keluarnya?” Beliau menjawa, “Biarkan mereka mencaci maki diri Anda. Cacian dan makian mereka itu menjadi pahala yang Anda butuhkan kelak pada hari kiamat.”

Kesebelas, menjaga nama baik.

Rasulullah Saw bersabda,”Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan saya bersikap ramah dan sopan kepada seluruh manusia, sebagaimana Ia memerintahkan saya melaksanakan segala kewajiban.”

Rasulullah Saw bersabda,”Inti kebajikan itu terdapat pada tiga sifat. Orang yang memiliki tiga sifat itu berarti telah memiliki iman yang sempurna. Ketiga sifat itu ialah: (1) orang yang bila menyenangi sesuatu perasaan senangnya tidak mendorongnya melakukan kesalahan; (2) dan orang yang bila ia marah, marahnya tidak mendorongnya keluar dari kebenaran; serta (3) orang yang bila mampu membalas kesalahan orang lain, ia memberi maaf.”

Keduabelas, mengaktualisasikan takwa dalam kehidupan

“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sendiri pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah {2}: 281)

Baca Juga  Pesan Agama adalah Persaudaraan, Bukan Permusuhan

***

Ketigabelas, teliti dalam menerima informasi (berita).

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatannmu itu.” (QS. Al-Hujurat {49}: 6)

Keempatbelas, jauh dari perilaku ghibah, namimah, fitnah, mengolok-olok, memaki dan mencela, serta memanggil dengan sebutan/gelar yang buruk.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka yang mengolok-olokkan dan janganlah pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan). Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat {49}: 11)

Keenambelas, menjauhi purbasangka.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagaian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat {49}: 12)

Ketujuhbelas, selalu hati-hati dan waspada

“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-Nya dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang.” (QS. Al-Maidah {5}: 92)

Kedelapanbelas, istikamah di atas “khittah” yang digariskan Allah dan RasulNya.

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberikan mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah {5}: 105)

***

Kesembilanbelas, menjaga hati.

“Katakanlah, Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui. Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran {3}: 29)

Keduapuluh, tidak terpesona dengan pujian dan sanjungan manusia.

Rasulullah Saw menjelaskan, “Hindarilah saling memuji, karena hal itu bagaikan pembunuhan. Bila seseorang terpaksa harus memuji saudaranya, hendaklah ia memukadimahi pujiannya itu dengan ucapan, menurut saya dan saya tidak berdusta dalam memuji seseorang.”

Dari keduapuluh nilai-nilai integritas estetika jiwa dalam kaca bening pribadi yang berkarakter muruah senantiasa dijadikan “rambu-rambu” yang bersumber dari ketentuan doktrin dan dogma agama yang ada dalam Kitab Suci dan risalah agung para Nabi dan Rasul-Nya, maka setiap pribadi manusia akan senantiasa akan terlihat mempesona.

Transformasi karakter muruah dalam kehidupan publi baik dalam dunia maya maupun dunia nyata sangat kurang sekali. Bukan karena pengertian dan pengetahuan agama yang minus, akan tetapi disebabkan pengetahuan yang dimiliki belum mampu naik ke level pemahaman hingga mencapai puncak kebijaksanaan (makrifat), sehingga sering angkata kata dan laku tidak berbanding lurus: terkadang kata yang mendustai laku, dan sering pula laku yang mengkhianati kata. Maka, karakter muruah merupakan solusi dalam menciptakan kehidupan pribadi dan bermasyarakat menjadi lebih indah dengan keusian jiwa dan kebeningan kalbu.

Editor: Yahya FR

Avatar
36 posts

About author
Alumnus Program Pascasarjana (PPs) IAIN Kerinci Program Studi Pendidikan Agama Islam dengan Kosentrasi Studi Pendidikan Karakter. Pendiri Lembaga Pengkajian Islam dan Kebudayaan (LAPIK Center). Aktif sebagai penulis, aktivis kemanusiaan, dan kerukunan antar umat beragama di akar rumput di bawah kaki Gunung Kerinci-Jambi. Pernah mengikuti pelatihan di Lembaga Pendidikan Wartawan Islam “Ummul Quro” Semarang.
Articles
Related posts
Akhlak

Idulfitri untuk Mengembalikan Autentisitas Diri

3 Mins read
Idulfitri: Mengembalikan Autentisitas Diri Gema takbir malam Idulfitri dari lembah, ngarai, pegunungan di daerah pedusunan, hingga rumah mewah dan gedung mencakar langit…
Akhlak

Berhati-hatilah dalam Memberi Persepsi

3 Mins read
Manusia: Makhluk yang Suka Memberi Persepsi Saat manusia berinteraksi dengan manusia yang lainnya, persepsinya akan ikut menyertai dalam interaksinya. Tentu ada banyak…
Akhlak

Ramadhan, Momentum Gembleng Kesalehan Sosial

3 Mins read
Ramadhan dan Kesalehan Sosial Bulan Ramadhan adalah momen atau kesempatan untuk menyucikan diri, hati dan pikiran. Waktu untuk muhasabah tentang apa saja…

Tinggalkan Balasan