back to top
Minggu, Oktober 11, 2026

Polemik Sastra berhadapan dengan Sakralitas Agama

Lihat Lainnya

Fina Mazida Husna
Fina Mazida Husna
Dosen, alumnus Kajian Timur Tengah UGM, dan Program Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang.

Baru-baru ini, media sosial dihebohkan dengan polemik buku Memburu Muhammad karya Feby Indirani. Buku tersebut dinilai oleh beberapa kalangan sebagai bentuk penistaan agama dan dianggap mengolok-olok agama. Penilaian tersebut tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi kemudian berujung pada pembatalan sejumlah acara diskusi tentang buku tersebut.

Ruang untuk berdialog tentang buku yang dipersoalkan itu justru benar-benar ditutup. Mengutip BBC Indonesia, buku tersebut sebenarnya bukan buku baru. Memburu Muhammad pertama kali diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada 2020 dan kembali dicetak pada 2022. Buku ini merupakan kumpulan cerpen, bagian kedua dari trilogi Islamisme Magis karya Feby Indirani. Polemiknya baru kembali mencuat dan menjadi perbincangan luas pada 2026.

Polemik tentang pro dan kontra ini tidak hanya sebatas wacana. Pembatalan diskusi di Pekan Sastra Bogor pada September 2026, misalnya, disebut panitia terjadi setelah adanya tekanan dan ancaman dari pihak yang mengaku mewakili FPI. Setelah itu, polemik semakin meluas dan Feby juga menjadi sasaran serangan serta ancaman di media sosial. Pihak Bentang Pustaka sendiri, menurut Feby sebagaimana diberitakan BBC, memutuskan untuk tidak mencetak ulang buku tersebut untuk sementara waktu. Bukan karena bukunya baru saja ditarik dari peredaran, melainkan karena stok cetakan sebelumnya memang sudah habis.

Saya sendiri sama sekali belum membaca buku tersebut. Terlepas dari polemik yang ada, ketika menyimak persoalan yang berkaitan dengan sastra yang dianggap menistakan agama, memori saya justru melangkah jauh. Saya teringat dengan buku Pledoi Sastra: Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin, yang mendokumentasikan salah satu polemik sastra paling terkenal dalam sejarah sastra Indonesia.

Nyaris sama dengan Memburu Muhammad, yang merupakan judul salah satu cerpen dalam sebuah kumpulan cerpen, Langit Makin Mendung juga hanya merupakan sebuah cerpen. Namun cerpen karya Ki Panjikusmin tersebut kemudian menghebohkan jagat wacana pada masanya. Lebih dari 30 artikel ditayangkan di buku ini dengan melibatkan 20 pengamat yang berdebat di dalamnya.

Baca Juga:  Dari Muhammadiyah untuk Kemanusiaan Rohingya

Polemik bermula ketika cerpen tersebut dimuat dalam majalah Sastra edisi Agustus 1968 yang penanggung jawabnya adalah H.B. Jassin. Cerpen tersebut kemudian memicu apa yang disebut sebagai “prahara sastra”. Majalah Sastra edisi tersebut dilarang beredar oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara karena cerpen itu dinilai melukiskan penghinaan terhadap ketuhanan dan kemuliaan Nabi Muhammad.

Namun persoalan itu tidak berhenti di sana. Larangan tersebut justru menjadi seperti bola panas. Publik terpecah ke dalam berbagai posisi. Di satu sisi, ada yang benar-benar geram terhadap cerpen tersebut karena menilai terdapat penghinaan terhadap Tuhan dan Nabi Muhammad. Di sisi lain, ada yang memandang bahwa cerpen itu merupakan kritik sosial dan politik terhadap kondisi masyarakat dan politik Indonesia pada masa itu.

Bahkan, ada pula yang mengkritik cerpen tersebut dari sisi sastra. Cerpen itu dinilai gagal sebagai karya sastra karena penggunaan simbol-simbol keagamaannya dianggap terlalu kasar. Ada yang kemudian membanding-bandingkannya dengan Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis, yang juga melakukan kritik terhadap kehidupan beragama, tetapi mampu mengemas kritik tersebut dengan bahasa sastra yang lebih kuat.

Langit Makin Mendung sendiri dibuka dengan menceritakan para pensiunan Nabi yang mulai jenuh di surga dan mengajukan petisi kepada Tuhan untuk cuti dan mengadakan “turba”, turun ke bawah untuk mengadakan riset. Para nabi, khususnya Nabi Muhammad heran mengapa umat Islam semakin sedikit yang masuk surga. Membaca petisi tersebut, Tuhan menggeleng-gelengkan kepala, heran dengan ketidakpuasan manusia.

Di surga terdapat jutaan bidadari, makanan, minuman, perhiasan, tetapi mengapa masih membuat petisi? Singkat cerita, Nabi Muhammad akhirnya turun ke bumi dengan menggunakan kendaraan Buroq bersama Malaikat Jibril. Namun, di tengah jalan, kendaraan tersebut bertabrakan dengan Sputnik Rusia yang konon memang tidak ada remnya. Walaupun terjadi tabrakan, Nabi Muhammad dan Jibril selamat dan sampai di Indonesia untuk menyaksikan kebobrokan masyarakat Jakarta.

Baca Juga:  Tak Anti Filsafat: Membaca Ulang Pemikiran Ibn Taimiyyah

Di dalam cerita itu terdapat personifikasi Tuhan, dialog antara Tuhan dan Nabi Muhammad, serta berbagai gambaran yang bagi sebagian kalangan dianggap telah melampaui batas kesakralan agama. Salah satu persoalan yang diperdebatkan adalah cara pengarang menggambarkan Tuhan. Tuhan digambarkan secara antropomorfis. Nabi Muhammad dan Jibril juga digambarkan dengan cara yang tidak biasa, termasuk ketika Jibril mengubah dirinya menjadi elang dan terbang di langit-langit Jakarta.

Pemakaian simbol-simbol agama seperti Muhammad, Jibril, Tuhan, dan gambaran tentang surga itulah yang kemudian dinilai oleh sebagian kalangan sebagai penghinaan. Bagi pembaca tertentu, persoalannya bukan lagi kritik sosial yang hendak disampaikan pengarang, tetapi cara simbol-simbol sakral itu digunakan.

Yang menarik, cerpen ini kemudian memicu reaksi keras dalam bentuk perang wacana yang berjilid-jilid. Saling balas terjadi melalui media massa. “Perang” ini melibatkan budayawan, agamawan, dan sastrawan. Ada yang mengecam, ada yang mendukung, dan ada pula yang berusaha bersikap objektif. Nama-nama seperti Hamka, Taufiq Ismail, Bahrum Rangkuti, A.A. Navis, dan sejumlah sastrawan lainnya muncul dalam perdebatan panjang tersebut. Polemiknya bahkan bergerak dari persoalan sastra ke persoalan agama, hukum, politik, dan kebebasan berekspresi.

Bagaimana dengan penulisnya? Sama dengan Feby Indirani, Ki Panjikusmin sendiri juga menyatakan bahwa cerpennya tidak dimaksudkan untuk menghina Islam. Namun, kasus Langit Makin Mendung memiliki satu perbedaan penting dengan kasus Memburu Muhammad: identitas Ki Panjikusmin merupakan nama samaran dan hanya diketahui oleh redaksi majalah Sastra. Ketika kasus masuk ke pengadilan, H.B. Jassin sebagai penanggung jawab majalahlah yang harus berhadapan dengan hukum karena ia tidak bersedia membuka identitas pengarangnya.

Baca Juga:  Awe-Inspiring Us: Ketika Cinta dan Cita Berjalan Bergandengan

H.B. Jassin dalam pembelaannya menegaskan adanya perbedaan antara dunia imajinasi seniman dan dunia kenyataan. Sastra mempunyai dunia sendiri. Ia bukan kitab agama, bukan kitab tauhid, dan bukan pula kitab sejarah. Kenyataan dalam karya sastra tidak selalu sama dengan kenyataan historis. Karena itu, menurut Jassin, tidak adil apabila karya sastra dibaca seolah-olah ia merupakan pernyataan faktual atau doktrin keagamaan.

Di sinilah letak persoalan yang menurut saya menarik. Di sinilah saya melihat persoalan dalam polemik Memburu Muhammad hari ini. Yang justru mengkhawatirkan adalah ketika sebuah karya sastra dipersoalkan sebelum dibaca secara utuh, kemudian diskusinya dibatalkan, penulisnya diserang, dan orang-orang yang hendak membicarakannya ikut mendapatkan tekanan.

Sejarah Langit Makin Mendung menunjukkan kepada kita bahwa polemik sastra dan agama bukan persoalan baru. Lebih dari setengah abad lalu, masyarakat Indonesia sudah mengalami persoalan yang kurang lebih sama: ketika imajinasi sastra berhadapan dengan simbol-simbol yang dianggap sakral. Tetapi polemik ini justru menimbulkan dialog-dialog yang segar sehingga pembaca disajikan argumen-argumen, pengertian sastra keagamaan, dan hakikat sastra itu sendiri.

Maka dari itu buku Memburu Muhammad mestinya diberi kesempatan untuk membuka ruang dialog baru, baik melalui tulisan maupun lisan. Dialog justru memberi ruang kepada pembaca untuk menilai karya sastra. Argumentasi-argumentasi segar dibutuhkan. Kalau ruang dialog ditutup, maka kita justru kehilangan sikap dewasa kita, yaitu menerima bahwa orang lain dapat memiliki pendapat yang berbeda dengan kita, bahkan ketika pendapat tersebut tidak kita sukai.

Editor: Anas Nashuha

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru