Di mall Jakarta, remaja berdiri di depan rak sepatu. Ia memotret label, bertanya stok ke pramuniaga, lalu duduk membandingkan harga di tiga platform e-commerce. Sepuluh menit kemudian ia pergi tanpa membeli. Malamnya, sepatu sama ia pesan daring dengan diskon dan gratis ongkir.
Perilaku ini bukan sekadar cerdas berbelanja. Ia gejala fenomena yang dijuluki Rojali-Rohana, Rombongan Jarang Beli dan Rombongan Hanya Nanya. Di baliknya, fenomena ini menyimpan pesan serius: daya beli masyarakat tertekan, dan mencari cara bertahan.
Keramaian yang Menipu
Paradoks menarik adalah keramaian yang tidak berbanding lurus dengan nilai transaksi. Mal dan marketplace ramai, tetapi belanja per orang menurun. Data Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA, 2025) menunjukkan jumlah konsumen daring terus meningkat—95% responden berbelanja daring pada paruh pertama 2025—namun rata-rata belanja per orang per bulan turun 13%, dari Rp543.250 menjadi Rp470.516.
Konsumen tidak berhenti berbelanja. Mereka memecah pembelian besar menjadi banyak pesanan kecil untuk memanfaatkan promo dan gratis ongkir. Survei UBS (2025) mencatat nilai rata-rata per pesanan Shopee turun 19% tahunan, TikTok Shop turun 9%. Volume paket melonjak, tetapi nilai transaksi stagnan. Inilah keramaian tanpa pembelian—bentuk kehati-hatian ekstrem yang mencerminkan daya beli tertekan, bukan ekspansi konsumsi.
Fenomena ini sejalan dengan pelemahan konsumsi rumah tangga yang hanya tumbuh 4,98% pada 2025 (BPS), di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Kelas menengah menyusut dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 46,7 juta orang pada 2025 (BPS). Proporsi pekerja kelas menengah merosot tajam dari 14,5% pada 2018 menjadi hanya 7,1% pada 2025 (Bank Dunia, 2026). Mobilitas sosial macet.
Gen Z: Generasi Paling Adaptif, Paling Rentan
Jika ada kelompok yang paling merasakan tekanan ini, itu Generasi Z. Tingkat pengangguran terbuka usia 15-24 tahun mencapai 17,37% pada Mei 2026 (BPS). Sekitar 67% dari total pengangguran nasional berasal dari Gen Z (APINDO, 2026). Hampir satu dari lima anak muda Indonesia masuk kategori NEET—tidak bekerja, tidak sekolah, tidak mengikuti pelatihan (BPS, 2025). Lulusan baru membutuhkan rata-rata 20 bulan untuk mendapat pekerjaan pertama.
Namun, di tengah keterbatasan ini, Gen Z menunjukkan ketangguhan luar biasa. Mereka mendominasi sektor ekonomi kreatif, sekitar 63% dari 27,40 juta tenaga kerja ekonomi kreatif nasional (BPS, 2025). Mereka mengembangkan “tabungan lunak”, memadukan tujuan emosional dengan kebiasaan finansial berbasis teknologi. Hanya 29% orang Indonesia usia 25-34 tahun yang memiliki rumah (Elev8, 2025), bukan karena malas, tetapi karena uang muka tinggi dan upah stagnan.
Ada pergeseran makna kesuksesan. Status sosial yang dulu diukur dari barang mahal, kini diukur dari seberapa besar dana darurat yang berhasil dikumpulkan. Gen Z lebih bangga memamerkan kemampuan mendapat tiket konser murah atau saldo investasi dari hasil menyisihkan uang kopi harian. Ini bukan kemunduran, melainkan redefinisi kemakmuran.
Krisis Ekspektasi, Bukan Krisis Ekonomi
Apa yang sebenarnya terjadi? Bukan krisis ekonomi akut, melainkan krisis ekspektasi. Pendapatan mungkin bertambah, tetapi rasa aman tidak. Ekonomi tumbuh, tetapi masa depan terasa semakin mahal. Harapan jatuh lebih cepat daripada pendapatan.
Inilah yang menjelaskan mengapa harga emas melonjak hampir 70% sepanjang 2025 (Antam), bukan tanda kemakmuran, melainkan cermin kecemasan. Masyarakat mencari tempat menyimpan nilai ketika kurang yakin terhadap uang dan aset lainnya. Ini wealth preservation, bukan konsumsi mewah.
Masyarakat tidak meledak bukan karena puas. Frustrasi bersifat privat: termakan, terbelah, tersembunyi di balik keramaian transaksi kecil. Mereka mengurangi konsumsi, menunda properti, menunda menikah, mencari pekerjaan sampingan, dan mengandalkan jaringan keluarga sebagai shock absorber. Ini ketenangan yang rapuh—kemampuan menahan rasa sakit, bukan kemakmuran sejati.
Jalan Menuju Harapan
Apa yang bisa dilakukan? Pertama, pemerintah perlu mengukur kesejahteraan bukan hanya dari pertumbuhan PDB, tetapi dari konsumsi rumah tangga, rasio tabungan, kualitas pekerjaan, dan akses perumahan. Kedua, ciptakan lapangan kerja formal layak—penciptaan kerja formal hanya menyerap 1,9 juta orang per tahun, sementara kebutuhan mencapai 3,4 juta (BPS, 2025). Ketiga, perkuat ekonomi kreatif dengan perlindungan kerja dan akses pembiayaan, bukan sekadar retorika.
Bagi Gen Z, masa depan bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi menciptakan pekerjaan. Bukan hanya bertahan, tetapi membangun kembali harapan. Adaptasi tanpa rasa aman bukanlah kemajuan.
Fenomena Rojali-Rohana adalah cermin. Ia menunjukkan masyarakat yang cerdas, adaptif, dan tangguh, tetapi juga lelah. Mereka tidak sedang makmur, dan tidak pula meledak frustrasi. Mereka sedang belajar hidup dengan frustrasi.
Tugas kita bersama adalah memastikan ketangguhan ini tidak selamanya menjadi pengganti kesejahteraan. Karena bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling pandai menahan sakit, melainkan bangsa yang mampu mengubah rasa sakit menjadi harapan.
Editor: Ikrima


