Setiap kali membuka media sosial, berita buruk seolah selalu menemukan cara untuk memenuhi isi kepala kita. Bencana, konflik, persoalan ekonomi dan politik, ketidakadilan, hingga berbagai permasalahan sosial hadir silih berganti. Di negara demokrasi, perbedaan pendapat memang wajar, dan media sosial menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan dukungan maupun penolakan.
Namun, di tengah derasnya arus informasi, kita juga dihadapkan pada berbagai opini, pembelaan, dan perdebatan yang terkadang dapat membuat kita larut dalam kemarahan, kecemasan, atau kelelahan secara emosional. Ketika kabar buruk terus bermunculan tanpa jeda, muncul pertanyaan: apakah kita harus terus mengikuti setiap berita buruk di sekitar kita, atau justru perlu mengambil jarak untuk menjaga diri?
Pertanyaan tersebut semakin menarik ketika seorang figur publik membagikan pandangannya mengenai mindfulness dalam menghadapi berita negatif. Ia menyampaikan pentingnya memberikan ruang bagi diri sendiri dan mengambil jarak dari informasi yang dapat membebani kondisi emosional. Pandangan tersebut kemudian mendapat kritik karena adanya anggapan bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menjauh dari berita buruk.
Bagi sebagian orang, berita tersebut bukan sekadar informasi yang dilihat di media sosial ataupun televisi, melainkan kehidupan yang mereka alami secara langsung. Figur tersebut kemudian menegaskan bahwa ia tidak bermaksud mengajak orang berhenti peduli, dan mengakui bahwa kemampuan menjauh dari berita adalah keistimewaan yang tidak dimiliki semua orang.
Polemik tersebut menghadirkan sebuah dilema: bagaimana seseorang dapat menjaga dirinya tanpa menutup mata terhadap realitas yang ada? Untuk menjawabnya, tulisan ini meminjam dua lensa filsafat, yaitu Stoikisme dan Eksistensialisme. Mindfulness di sini dipahami sebagai kesadaran penuh pada saat ini secara sengaja dan tanpa menghakimi. Mindfulness sendiri bukan konsep Stoik maupun Eksistensialis, tetapi keduanya menyediakan alat untuk menilai kapan mengambil jarak dari berita menjadi sikap yang sehat, dan kapan berubah menjadi pelarian.
Stoikisme: Kita Tidak Bisa Mengendalikan Dunia, tetapi Bisa Mengendalikan Respons
Dalam Stoikisme, Epictetus membedakan hal-hal yang berada dalam kendali manusia dengan hal-hal yang berada di luar kendalinya. Opini, keinginan, pilihan, dan tindakan merupakan bagian yang dapat diusahakan dan dikendalikan, sedangkan berbagai keadaan eksternal tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Jika diterapkan pada berita negatif, kita tidak dapat mengendalikan seluruh peristiwa yang terjadi di dunia. Kita tidak dapat menentukan kebijakan pemerintah, menghentikan suatu konflik atau mencegah terjadinya bencana. Namun, kita masih memiliki kendali terhadap bagaimana kita memperoleh informasi, bagaimana kita meresponsnya, dan tindakan apa yang dapat kita lakukan.
Karena itu, mengambil jeda dari berita buruk tidak selalu berarti tidak peduli. Seseorang dapat membatasi waktu menggunakan media sosial, memilih sumber informasi yang kredibel, kemudian mengalihkan perhatiannya pada tindakan yang memang dapat dilakukan.
Namun, Stoikisme juga tidak berarti bahwa sesuatu yang berada di luar kendali harus diabaikan. Justru, ketika menyadari bahwa kita tidak dapat mengendalikan hasil akhir suatu persoalan, perhatian dapat diarahkan pada tindakan yang masih berada dalam jangkauan kita. Kita mungkin tidak dapat mengubah sebuah kebijakan seorang diri, tetapi kita dapat membantu melaporkan unggahan yang memprovokasi, menyampaikan pendapat, berdiskusi, atau bahkan berani menegur jika ada yang menyebarkan konten kebencian.
Dengan demikian, Stoikisme membedakan antara peduli dan mengendalikan: kita boleh peduli pada hal yang tidak bisa kita kendalikan, lalu mengarahkan tenaga pada bagian yang masih dapat kita lakukan.
Eksistensialisme: Kebebasan dan Tanggung Jawab
Jika Stoikisme membantu kita memahami batas kendali yang kita miliki, Eksistensialisme memberikan pertanyaan lain: setelah menyadari bahwa dunia tidak sepenuhnya dapat kita kendalikan, apa yang akan kita pilih untuk lakukan? Bagi Jean-Paul Sartre, manusia memiliki kebebasan untuk memilih sekaligus bertanggung jawab terhadap pilihannya. Dari sini, mengambil jeda dari berita dapat menjadi pilihan yang sah, terutama bila dilakukan agar seseorang mampu kembali dan bertindak secara bertanggung jawab.
Dalam konteks berita negatif, seseorang tidak memilih dunia yang sedang mengalami bencana, konflik, ketidakadilan, atau perdebatan politik. Ia juga tidak dapat menentukan seluruh keadaan sosial yang muncul di sekitarnya. Namun, ia tetap memiliki pilihan: apakah akan terus tenggelam dalam informasi, mengambil jeda, mencari informasi yang lebih kredibel, menyampaikan kritik, atau melakukan tindakan yang menurutnya bermakna.
Di sinilah Eksistensialisme dapat memperluas pemahaman tentang mindfulness. Menjaga diri bukan berarti melarikan diri dari kenyataan. Sebaliknya, mengambil jarak dapat menjadi pilihan yang tepat apabila dilakukan agar seseorang mampu kembali menentukan sikap dan bertindak secara bertanggung jawab.
Namun, pilihan untuk tidak peduli juga tetap merupakan pilihan. Karena itu, kebebasan tidak hanya berarti “bebas melakukan apa saja”, tetapi juga membawa tanggung jawab atas pilihan yang kita ambil.
Peduli Tanpa Kehilangan Diri Sendiri
Stoikisme dan Eksistensialisme memberikan dua sudut pandang yang berbeda tetapi saling melengkapi. Stoikisme mengingatkan bahwa kita tidak dapat mengendalikan seluruh dunia, tetapi dapat mengendalikan respons dan tindakan kita. Sementara itu, Eksistensialisme mengingatkan bahwa kita tetap memiliki kebebasan untuk memilih bagaimana akan bertahan dan bersikap di tengah keadaan yang tidak selalu dapat kita kendalikan. Keduanya menunjukkan bahwa menghadapi berita negatif tidak harus berakhir pada dua pilihan: mengetahui semuanya sampai kelelahan atau menghindari semuanya sampai menjadi tidak peduli.
Kita dapat mengetahui bahwa dunia sedang menghadapi berbagai persoalan tanpa merasa bahwa kita harus menyelesaikan semuanya. Kita dapat merasa marah atau sedih tanpa membiarkan emosi tersebut menghilangkan kemampuan untuk berpikir dan bertindak. Kita juga dapat mengambil jeda tanpa menjadikan jeda tersebut sebagai alasan untuk berhenti peduli.
Pada akhirnya, peduli bukan berarti harus terus-menerus tenggelam dalam buruknya dunia. Peduli berarti mampu melihat realitas, memahami batas diri, menyadari kebebasan untuk memilih, lalu menentukan tindakan yang dapat kita pertanggungjawabkan. Mungkin kita memang tidak dapat mengendalikan dunia. Tetapi kita masih dapat menentukan bagaimana kita hadir di dalamnya.
Editor: Anas Nashuha


