IBTimes.ID – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan sebanyak 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terjadi di sejumlah wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bencana tersebut turut memperburuk kualitas udara di berbagai daerah di Indonesia, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan.
Berdasarkan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang dilaporkan Republika pada Kamis (22/10/26), tercatat 16 wilayah mengalami kualitas udara pada kategori berbahaya, sedangkan tujuh wilayah lainnya berada dalam kategori sangat tidak sehat. Wilayah-wilayah tersebut tersebar di tujuh provinsi yang terdampak karhutla.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, menyampaikan bahwa penurunan kualitas udara terjadi di tujuh provinsi, yakni Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Riau.
“Tentunya risiko kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan ini perlu kita antisipasi. Kebakaran hutan dan lahan tentunya mengandung partikel halus yaitu PM2.5, karbon monoksida maupun nitrogen dioksida, dan senyawa organik lainnya, yang tentunya dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan,” kata dia.
Kemenkes merinci sejumlah daerah di Kalimantan Tengah yang masuk kategori kualitas udara berbahaya, meliputi Kota Palangka Raya serta Kabupaten Murung Raya, Barito Selatan, Katingan, Gunung Mas, Kapuas, dan Kotawaringin Timur.
Di Sumatra Selatan, kondisi serupa ditemukan di Kota Palembang dan Prabumulih, serta Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Sementara itu, di Provinsi Jambi, wilayah dengan kualitas udara berbahaya mencakup Kabupaten Muaro Jambi dan Tebo.
Kondisi kualitas udara berbahaya juga terpantau di Kota Banjarmasin dan Kabupaten Tabalong di Kalimantan Selatan, Kabupaten Kutai Barat di Kalimantan Timur, serta Kota Pontianak di Kalimantan Barat.
Adapun wilayah yang masuk kategori kualitas udara sangat tidak sehat meliputi Kabupaten Ogan Ilir di Sumatra Selatan, Kabupaten Tanjung Jabung Timur di Jambi, dan Kabupaten Barito Kuala di Kalimantan Selatan. Di Provinsi Riau, kategori tersebut mencakup Kabupaten Siak, Indragiri Hilir, Pelalawan, dan Bengkalis.
Then menjelaskan, paparan polusi akibat karhutla berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan. Dampak yang dapat ditimbulkan antara lain ISPA, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), iritasi pada mata dan kulit, serta gangguan kesehatan sistemik yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, termasuk kenaikan tekanan darah.
“Tentunya kelompok rentan sangat kita perhatikan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK maupun pekerja di luar ruangan,” kata dia.
Berdasarkan catatan Kemenkes, sebanyak 333.470 kasus ISPA telah dilaporkan di tujuh provinsi yang mencakup 68 kabupaten/kota terdampak karhutla selama periode 18 Agustus hingga 21 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.522 orang masih tercatat mengalami ISPA dalam data kasus harian.
“(Dari total kasus) Untuk kategori di bawah 5 tahun atau balita adalah 75.172 dan di atas umur 5 tahun adalah 258.258 kasus,” ujar Then.
Untuk mengantisipasi dampak kesehatan yang lebih luas, Kemenkes telah melakukan sejumlah langkah penanganan. Upaya tersebut meliputi pembagian masker kepada masyarakat, penyampaian edukasi, serta promosi mengenai langkah-langkah untuk mengurangi risiko krisis kesehatan akibat karhutla.
Kemenkes juga menjalankan surveilans terhadap kualitas udara di dalam ruangan serta memantau dampak pencemaran udara terhadap kesehatan masyarakat di kawasan permukiman.
Selain itu, pemantauan dilakukan terhadap sejumlah penyakit yang berpotensi muncul akibat paparan asap karhutla, seperti ISPA, pneumonia, asma, iritasi mata, dan gangguan kulit. Kemenkes turut memastikan ketersediaan obat-obatan, bahan medis habis pakai (BMHP), serta peralatan kesehatan yang dibutuhkan oleh daerah terdampak.
“Tentunya kita juga terlibat aktif dalam koordinasi lintas sektor dan sudah mengeluarkan edaran kepada daerah maupun fasilitas kesehatan untuk menyiapkan kesiagaan untuk karhutla ini, termasuk mengirim surat kepada Kementerian Kemenag maupun Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk melakukan PJJ apabila udaranya kurang baik,” kata dia.
Dalam rangka memperkuat kesiapsiagaan layanan kesehatan, Kemenkes juga terus memeriksa kesiapan pos pelayanan kesehatan di wilayah terdampak. Saat ini, sebanyak 1.691 puskesmas telah disiagakan untuk memberikan penanganan kepada masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat karhutla.
Di samping itu, Kemenkes melakukan mobilisasi bantuan logistik, mempersiapkan rumah sakit rujukan apabila dibutuhkan, serta memastikan kesiapan laboratorium kesehatan masyarakat (Labkesmas) dan Public Safety Center (PSC) 119.
“Pemerintah daerah juga sudah menyiapkan rumah oksigen ya sebanyak 491 rumah oksigen yang sudah tersedia di masing-masing wilayah dan SDM kesehatan pun kami pantau untuk kesiapan daripada penanganan dampak karhutla ini,” kata dia.
Then mengingatkan masyarakat agar membatasi kegiatan di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya. Apabila terpaksa beraktivitas di luar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi dengan mengonsumsi air putih yang cukup.
Masyarakat juga diminta memberikan perlindungan lebih kepada kelompok rentan, mengingat kelompok tersebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap. Selain itu, upaya mengurangi masuknya asap ke dalam rumah perlu dilakukan untuk meminimalkan paparan polutan.
“Kita juga harus lindungi kelompok rentan karena lebih gampang menderita penyakit dan kurangi asap yang masuk ke dalam rumah, termasuk kenali tanda gangguan kesehatan. Jadi kalau ada peningkatan gangguan kesehatan segera ke faskes terdekat untuk diobati segera oleh faskes,” pungkasnya.
(MS)


