back to top
Selasa, November 3, 2026

Overthinking Menurut Perspektif Heidegger dan Sartre

Lihat Lainnya

Kiran Aviza Nadiendra
Kiran Aviza Nadiendra
Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia

Hampir setiap orang pasti pernah mengalami perdebatan di pikirannya yang tidak mau berhenti, seperti mempertanyakan keputusan yang sebelumnya sudah diambil, memikirkan kata-kata yang diucapkan benar atau salah, bahkan membayangankan suatu hal buruk terjadi karena kecemasannya yang begitu tinggi. Peristiwa tersebut dalam bahasa sehari-hari disebut overthinking. Dalam literatur psikologi di Indonesia, istilah yang paling dekat dengannya adalah ruminasi, yaitu kondisi ketika seseorang terus menerus memikirkan suatu permasalahan tanpa menemukan jalan keluar sehingga dapat memicu kecemasan berlebih (Dewajani & Karneli, 2020).

Seseorang yang terus memikirkan hal yang sama berulang kali cenderung merasa lelah secara mental. Maka dari itu overthinking penting dikaji karena berkaitan dengan kesehatan mental. Pikiran yang seharusnya membantu menyelesaikan masalah justru berputar tanpa menghasilkan keputusan apapun. Jika berlangsung terus menerus, akan menyebabkan stres, insomnia, membuat emosi tidak terkontrol sehingga individu  mudah  sakit  secara  fisik (Heriyani et al, 2025).

Overthinking dalam Perspektif Psikologi

Dalam perspektif psikologi, overthinking umumnya berkaitan dengan ruminasi. Menurut Nolen-Hoeksema (2004), sebagaimana dikutip dalam Gauw & Kartasasmita (2016), ruminasi adalah cara berpikir yang berulang tentang suatu hal, berakar pada suasana hati negatif seperti kesedihan, dan tidak memotivasi seseorang menyusun rencana untuk menghilangkan pikiran tersebut. Dalam teori gaya respons (response style theory) yang mereka gunakan, ruminasi dipandang sebagai respons manusia terhadap suatu kejadian. Ruminasi memiliki tiga dimensi: brooding, yaitu tenggelam dalam pikiran negatif seperti merasa tidak mampu menyelesaikan sesuatu dengan baik; reflection, yaitu mengulang kembali kejadian di dalam pikiran; dan depressive-related, yaitu perasaan dan gejala depresif (Gauw & Kartasasmita, 2016).

Dampak ruminasi tidak sama pada semua dimensi. Pada penelitian terhadap 518 mahasiswa, dimensi brooding dan depressive-related berpengaruh negatif signifikan terhadap prestasi akademik, sedangkan reflection tidak (Gauw & Kartasasmita, 2016). Temuan ini mengindikasikan bahwa yang merugikan adalah berpikir yang terjebak pada perasaan tidak mampu dan suasana hati negatif, bukan sekadar mengulang peristiwa. Penelitian lain juga sejalan dengan hal ini, semakin tinggi overthinking, semakin tinggi kecemasan sosial pada mahasiswa (Muslimah & Sahrani, 2025) dan overthinking mengganggu tidur serta pengambilan keputusan (Heriyani et al., 2025).

Baca Juga:  Lamine Yamal, Lionel Messi, dan Pentingnya Seni Fotografi serta Dokumentasi

Salah satu penjelasan yang tersedia datang dari teori metakognitif, yang menekankan bahwa pikiran berulang dipertahankan oleh keyakinan individu tentang pikirannya sendiri (Wells, 2009). Individu cenderung meyakini bahwa memikirkan suatu hal secara terus-menerus akan membantu menemukan solusi, mempersiapkan diri menghadapi bahaya, atau memahami diri sendiri (Borkovec & Roemer, 1995; Papageorgiou & Wells, 2001). Namun, tidak semua pikiran berulang merugikan. Pikiran yang konkret dan berorientasi solusi cenderung konstruktif, sedangkan yang abstrak dan menyalahkan diri cenderung tidak konstruktif (Watkins, 2008). Dengan demikian, keyakinan bahwa berpikir berulang itu berguna menjadi bermasalah ketika membenarkan pikiran yang abstrak dan menyalahkan diri sendiri.

Overthinking dalam Perspektif Heidegger

Dalam pandangan Martin Heidegger, manusia sering kali menjalani kehidupan berdasarkan penilaian orang lain atau yang disebut Das Man, yaitu kecenderungan untuk mengikuti standar sosial mengenai hal-hal yang dianggap pantas, wajar, dan diharapkan oleh lingkungan. Ketika individu terlalu bergantung pada penilaian tersebut, ia dapat mengalami verfallen atau keterlarutan dalam kehidupan sehari-hari sehingga kehilangan kesempatan untuk memahami dirinya secara autentik. Kondisi ini dapat dikaitkan dengan overthinking, terutama ketika seseorang terus-menerus memikirkan pendapat orang lain, membandingkan dirinya dengan orang lain, dan merasa harus memenuhi berbagai harapan sosial. Akibatnya, individu menjadi sulit mengambil keputusan berdasarkan keinginan dan nilai-nilai pribadinya karena terlalu khawatir terhadap penilaian lingkungan (Heidegger, 1962).

Baca Juga:  Khutbah Idul Adha 1445H: Kurban dan Pengorbanan

Selain itu, Heidegger membedakan Furcht (ketakutan) yang memiliki objek tertentu dengan Angst (kecemasan eksistensial) yang tidak memiliki objek spesifik, tetapi berkaitan dengan keberadaan manusia, ketidakpastian hidup, dan kesadaran akan kematian. Dalam konteks overthinking, kecemasan terhadap ketidakpastian hidup dapat muncul dalam bentuk kekhawatiran yang lebih konkret, seperti takut gagal, takut mengecewakan orang tua, atau takut tidak memenuhi harapan orang lain. Secara konseptual, hal ini dapat ditafsirkan sebagai upaya individu mengubah kecemasan yang tidak jelas menjadi ketakutan terhadap sesuatu yang lebih spesifik agar terasa lebih mudah dipahami dan dikendalikan. Namun, hubungan tersebut merupakan interpretasi penulis berdasarkan pemikiran Heidegger, bukan pernyataan langsung dari sang filsuf. Dengan demikian, pemikiran Heidegger membantu menjelaskan bahwa overthinking dapat dipahami bukan hanya sebagai kekhawatiran terhadap masa depan, tetapi juga sebagai refleksi dari tekanan sosial dan kesulitan manusia dalam menghadapi ketidakpastian keberadaannya (Heidegger, 1962).

Overthinking dalam Perspektif Sartre

Dalam perspektif eksistensialisme Jean-Paul Sartre, manusia merupakan individu yang memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan dan membentuk dirinya melalui tindakan yang dilakukan. Sartre (1946/2007) menjelaskan gagasan bahwa eksistensi mendahului esensi (existence precedes essence), yang berarti manusia tidak dilahirkan dengan hakikat atau identitas yang sepenuhnya telah ditentukan, melainkan membentuk dirinya melalui pilihan dan tindakannya. Kebebasan tersebut membuat manusia memiliki tanggung jawab atas keputusan yang diambil. Namun, kebebasan juga dapat menimbulkan kecemasan karena individu harus menghadapi ketidakpastian dan menyadari bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi.

Baca Juga:  Fenomena Over Branding Institusi Pendidikan, Muhammadiyah Perlu Hati-hati!

Sartre menjelaskan kecemasan eksistensial (Anguish) sebagai kesadaran individu terhadap kebebasan dan tanggung jawab nya dalam menentukan pilihan (Sartre, 1943/2003). Kecemasan ini dapat dikaitkan dengan overthinking ketika seseorang merasa takut mengambil keputusan karena khawatir akan melakukan kesalahan, mengecewakan orang lain, atau menghadapi konsekuensi yang tidak sesuai dengan harapannya.

Selain kecemasan eksistensial, pemikiran Sartre mengenai bad faith atau penipuan terhadap diri sendiri juga dapat digunakan untuk memahami overthinking. Dalam Being and Nothingness, Sartre (1943/2003) membahas bad faith sebagai upaya individu untuk menghindari atau menyangkal kebebasan dan tanggung jawabnya. Dalam kaitannya dengan overthinking, seseorang dapat terus mencari kepastian, menunggu keputusan yang dianggap sempurna, atau menjadikan penilaian orang lain sebagai dasar utama dalam menentukan tindakan. Hal tersebut dapat menjadi bentuk penghindaran tanggung jawab apabila dilakukan untuk menghindari kenyataan bahwa setiap pilihan mengandung risiko dan tidak ada jaminan bahwa keputusan yang diambil akan selalu benar.

Dengan demikian, perspektif Sartre membantu memahami bahwa overthinking dapat berkaitan dengan kesulitan individu dalam menghadapi kebebasan, ketidakpastian, dan tanggung jawab. Meskipun demikian, tidak semua overthinking merupakan bentuk bad faith. Pemikiran Sartre dapat menjadi landasan untuk memahami pentingnya menerima ketidakpastian, mengambil keputusan secara sadar, dan bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.

Overthinking tidak hanya kebiasaan berpikir yang buruk, tetapi juga gejala dari cara manusia berada di dunia. Secara psikologis, overthinking berkaitan dengan ruminasi yang bertahan karena keyakinan bahwa berpikir berulang itu berguna, padahal yang merugikan adalah pikiran abstrak yang menyalahkan diri sendiri. Kedua perspektif saling melengkapi, psikologi menjelaskan mekanismenya, filsafat menjelaskan akarnya

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru