back to top
Rabu, November 4, 2026

Akal Imitasi dan Yajuj Majuj

Lihat Lainnya

Wahid Ilham Isnanto
Wahid Ilham Isnanto
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta

Sedari bangku Sekolah Dasar kita sudah berkenalan dengan rundown paling misterius dalam sejarah umat manusia, yaitu rundown hari kiamat. Guru agama, kita dengan suara yang kadang-kadang dibuat serius menerangkan apa saja yang akan terjadi menjelang hari akhir. Ada Dajjal turunnya Nabi Isa a.s., keluarnya Yajuj dan Majuj, matahari terbit dari barat, hingga berbagai peristiwa besar lainnya. Sebagian kita mencatatnya dengan tekun, sebagian menghafalnya demi ujian, dan sebagian lagi barangkali hanya mengingatnya sebagai cerita yang cukup menyeramkan ketika masa-masa TPQ.

Waktu itu kiamat terasa sebagai sebuah peristiwa yang sangat jauh. Ia berada di masa depan yang entah kapan datangnya. Di luar jangkauan kalender, jam dinding, dan jadwal pelajaran sekolah. Kita pun tumbuh menyelesaikan pendidikan, bekerja, berkeluarga, dan sibuk dengan urusan masing-masing. Rundown kiamat itu perlahan tersimpan di salah satu sudut ingatan berdampingan dengan hafalan rukun iman dan nama-nama malaikat.

Kisah Yajuj Majuj dalam Kitab

Namun ada satu bagian dari rundown tersebut yang menarik untuk kita bicarakan Kembali Yajuj dan Majuj. Dalam Surah Al-Kahf, Allah mengisahkan perjalanan Zulkarnain hingga ia tiba di antara dua gunung dan bertemu dengan suatu kaum yang mengadukan gangguan Yajuj dan Majuj. Mereka meminta Zulkarnain membangun sebuah penghalang agar kaum tersebut tidak lagi membuat kerusakan di muka bumi.

Zulkarnain tidak sekadar menyusun batu bata atau mendirikan pagar bambu. Ia meminta potongan-potongan besi, menyusunnya hingga menutupi celah di antara kedua gunung, kemudian memerintahkan agar api ditiupkan sampai besi itu memerah. Setelah itu, ia meminta tembaga cair untuk dituangkan di atasnya. Jadilah sebuah penghalang yang membuat Yajuj dan Majuj tidak mampu mendakinya ataupun melubanginya. (QS. Al-Kahf [18]: 93–98).

Ada sesuatu yang menarik dari kisah tersebut. Yajuj dan Majuj digambarkan sebagai kekuatan yang menimbulkan kerusakan, sementara penghalang yang dibangun Zulkarnain menjadi sarana untuk membatasi gerak mereka. Akan tetapi, penghalang itu bukanlah sesuatu yang kekal. Zulkarnain sendiri menyebutnya sebagai rahmat dari Tuhannya. Seraya mengingatkan bahwa ketika janji Allah tiba, penghalang itu akan dijadikan rata.

Kisahnya belum selesai di sana. Dalam Surah Al-Anbiya ayat 96, Allah berfirman bahwa ketika Yajuj dan Majuj dibukakan, mereka akan turun dengan cepat dari setiap tempat yang tinggi. Gambaran tentang keluarnya mereka juga dijelaskan dalam hadis-hadis sahih. Salah satunya, riwayat dalam Sahih Muslim. Menceritakan bahwa mereka akan melewati Danau Tiberias dan meminum airnya hingga orang-orang yang datang kemudian mengatakan bahwa dahulu pernah ada air di sana.

Baca Juga:  Tiga Alasan Islam Selalu Relevan dengan Berbagai Ruang dan Waktu

Bayangkan gambaran itu. Suatu rombongan datang, meminum air, lalu rombongan berikutnya melakukan hal yang sama. Sampai-sampai, mereka yang datang belakangan tidak lagi menemukan air sebagaimana yang pernah ada sebelumnya. Dalam konteks hadis tersebut, gambaran ini menunjukkan betapa besar jumlah mereka dan dahsyatnya peristiwa yang akan terjadi.

Kita tentu tidak sedang hendak mengubah kisah tersebut menjadi dongeng tentang sekelompok makhluk yang kebetulan sangat haus. Kita sedang berbicara tentang salah satu bagian dari ajaran Islam mengenai akhir zaman.

Namun justru karena kisah itu begitu kuat dalam imajinasi kita, barangkali ada baiknya kita bertanya, bagaimana jika kisah tersebut kita jadikan cermin untuk memikirkan cara manusia memperlakukan dunia yang ditinggalinya? Sebab, hari ini, kita hidup dalam zaman yang tidak kalah ganjil.

Yajuj Majuj Era Abad Ke-21

Kita menyaksikan perubahan iklim, cuaca ekstrem, bencana ekologis, konflik bersenjata, dan persaingan memperebutkan sumber daya. Di berbagai tempat, manusia berbicara tentang keberlanjutan sambil terus memperluas konsumsi. Kita mengkhawatirkan masa depan bumi, tetapi pada saat yang sama mengembangkan teknologi yang menuntut semakin banyak energi, infrastruktur, dan bahan baku.

Di tengah segala kegelisahan itu, datanglah sesuatu yang kecerdasannya membuat banyak orang terkesima dengan Artificial Intelligence, atau yang barangkali lebih menarik jika kita sebut saja sebagai Akal Imitasi.

Namanya memang belum lazim. Namun, bukankah ia cukup menggambarkan sesuatu yang sedang kita hadapi? Sebuah sistem buatan manusia yang dapat meniru dan menjalankan berbagai pekerjaan yang selama ini kita anggap membutuhkan kecerdasan manusia. Ia dapat menyusun tulisan, menerjemahkan bahasa, membuat gambar, menganalisis data, menjawab pertanyaan, bahkan membantu pekerjaan yang sebelumnya memerlukan waktu dan tenaga cukup besar.

Cukup dengan sebuah telepon pintar, komputer, atau perangkat lain yang terhubung ke layanan AI, seseorang di desa dapat mengakses kemampuan komputasi yang dahulu hanya tersedia bagi lembaga-lembaga besar. Ia tidak harus pergi ke laboratorium, mengetuk pintu universitas, atau membeli mesin seharga gedung. Beberapa sentuhan pada layar sudah cukup untuk memulai percakapan dengan sistem yang mampu menjawab pertanyaan tentang berbagai hal. Di sinilah saya mulai teringat pada kisah Zulkarnain.

Baca Juga:  Yuval Noah: Kematian Adalah Kegagalan Manusia yang Dapat Dicegah

Dahulu, dalam kisah Yajuj dan Majuj, terdapat sebuah penghalang yang membatasi gerak mereka. Kini, dalam dunia digital, kita justru berlomba-lomba menghilangkan penghalang. Pengetahuan yang dahulu sulit dijangkau menjadi mudah diakses. Pekerjaan yang dahulu memerlukan keahlian khusus dapat dibantu oleh mesin. Batas geografis, bahasa, dan akses informasi perlahan mengalami perubahan.

Tentu saja, saya tidak sedang mengatakan bahwa pagar besi Zulkarnain adalah internet, apalagi bahwa AI merupakan Yajuj dan Majuj yang dimaksudkan Al-Qur’an. Tidak ada dasar yang cukup untuk menyatakan demikian. Namun, sebagai sebuah analogi untuk mengkritisi zaman, bukankah menarik jika kita bertanya, ketika manusia berhasil meruntuhkan begitu banyak penghalang, apakah ia juga telah menyiapkan diri untuk menghadapi segala konsekuensinya? Sebab, sesuatu yang tampak tidak berwujud itu ternyata memiliki tubuh yang sangat nyata.

Kebutuhan Akal Imitasi Terhadap Sumber Daya

AI yang kita ajak berbicara melalui layar ponsel bukanlah jin yang tinggal di balik kaca. Di belakangnya ada pusat data, barisan server, perangkat keras, jaringan komunikasi, sistem pendinginan, dan pasokan listrik yang terus bekerja. Model AI harus dilatih, disimpan, dijalankan, dan dipelihara. Semua itu memerlukan sumber daya.

International Energy Agency (IEA), dalam laporan Energy and AI yang terbit pada April 2025, menjelaskan bahwa pusat data membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan bahwa perkembangan AI akan memengaruhi kebutuhan energi pada masa mendatang. Persoalannya bukan hanya listrik. Air juga menjadi bagian dari jejak lingkungan teknologi digital, baik untuk pendinginan pusat data maupun secara tidak langsung melalui pembangkitan listrik dan produksi perangkat keras.

Besarnya kebutuhan air itu berbeda-beda, bergantung pada lokasi, teknologi pendinginan, sumber listrik, serta jenis dan intensitas komputasi. Karena itu, tidak tepat jika kita menyebut setiap pertanyaan kepada AI pasti menghabiskan sejumlah liter air yang sama. Yang lebih penting untuk diperhatikan ialah bahwa pertumbuhan infrastruktur digital membawa konsekuensi lingkungan yang nyata, meskipun konsekuensi tersebut tidak selalu terlihat oleh penggunanya.

Baca Juga:  “Quo Vadis Ulil”? (5): False Alarm, Buku Ekologi yang Dijadikan Hero oleh Ulil

Kita cukup menekan tombol, lalu jawaban muncul. Kita mengetik permintaan, kemudian gambar tercipta. Kita meminta ringkasan, lalu puluhan halaman diringkas menjadi beberapa paragraf. Tidak ada suara mesin yang terdengar dari ruang tamu kita. Tidak ada air yang mengalir keluar dari telepon pintar. Tidak ada asap yang mengepul dari layar komputer.

Akan tetapi, di suatu tempat, mesin-mesin itu bekerja. Listrik mengalir. Panas harus dibuang. Perangkat keras harus diproduksi. Dan pada fasilitas tertentu, air digunakan untuk membantu menjaga suhu sistem agar tetap beroperasi. Kita menikmati kemudahan di satu tempat, sementara sebagian beban produksinya ditanggung oleh infrastruktur dan lingkungan di tempat lain.

Di sinilah analogi dengan Yajuj dan Majuj terasa mengusik. Bukan karena AI secara harfiah adalah mereka, melainkan karena kisah tentang jumlah yang besar, gerak yang meluas, dan air yang habis dapat mengingatkan kita pada sebuah pertanyaan mendasar, seberapa jauh manusia bersedia memperluas kemampuannya sebelum mulai menghitung harga yang harus dibayar?

Sekarang kita membawa teknologi ke mana-mana, membuka aksesnya setiap hari, dan bahkan mengajaknya berpikir untuk kita. Penghalangnya bukan lagi besi dan tembaga, melainkan kesadaran, pengetahuan, etika, dan keberanian manusia untuk menentukan batas.

Lalu jika suatu hari kita menyadari bahwa kemudahan yang kita nikmati ternyata membawa harga yang tidak kecil bagi lingkungan dan kehidupan manusia, ke mana kita akan pergi? Jika kemampuan berpikir kita sendiri perlahan kita serahkan kepada mesin, dengan apa kita akan menghadapi persoalan yang tidak bisa diselesaikan oleh mesin itu?

Dan jika segala sesuatu sudah terhubung, jika teknologi telah masuk ke hampir setiap ruang kehidupan, jika kita sendiri yang membuka pintunya lebar-lebar, maka pertanyaan terakhirnya sederhana saja, Di era sekarang, kita mau sembunyi di mana?

Editor: Anas Nashuha

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru