Agama Ada dan Berkembang Karena Homo Sapiens

 Agama Ada dan Berkembang Karena Homo Sapiens

Oleh: M. Khusnul Khuluq

Adalah Yuval Noah Harari, the great historian. Begitu saya menyebutnya. Seorang sejarawan yang secara radikal membongkar skandal sapiens yang dikubur oleh sejarah selama ribuan tahun. Harari memberikan penjelasan yang sangat apik bagaimana sistem intersubjektif diciptakan dan dikembangkan di planet ini oleh homo sapiens. Dan itu memberi kendali pada homo sapien atas planet ini.

Apa yang membuat sapiens lebih unggul dari non-sapiens dan kemudian menguasa bumi? Bagaimana agama sebagai sistem intersubjektif diciptakan? Pertanyaan terkait agama dalam perspektif analisis historis yang akan kita bicarakan dalam ulasan ini.

Sapiens dan Realitas Intersubjektif

Menurut Harari, manusia yang dalam biologi disebut homo sapiens, adalah hasil mutasi genetik dan menjadi bagian dari genus homo. Artinya, ada banyak homo-homo lain yang sebetulnya pernah ada. Artinya, pernah ada banyak jenis spesies homo selain homo sapiens. Namun, kemana mereka? Punah. Mereka tidak berhasil melalui seleksi alam. Namun, mengapa sapiens berhasil melalui seleksi alam dan selanjutnya mendominasi bumi?

Hal tersebut terjadi karena ada suatu hal yang menarik dari mutasi yang terjadi pada sapiens. Sapien mengalami mutasi kognitif yang unik. Ini terjadi secara masif. Dengan mutasi ini kemudian sapiens mampu melakukan abstraksi dan menciptakan realitas fiksional. Sehingga, Sapiens mampu hidup dengan relitas ganda. Pertama, relaitas objektif seperti gunung, sungai, lembah, laut, pohon, sianga, gajah, dan lain sebagainya. Dan kedua, realitas fiksional seperti agama, negara, pemerintahan, uang, dan lain sebagianya. Inilah dunia intersubjektif.

Realitas fiksional yang dipercayai bersama mampu mengikat kerumunan sapiens dalam skala besar. Ini yang tidak dimiliki oleh non-spaien. Sehingga, Sapiens punya kemampuan bekerja sama secara kolektif. Kemampuan berorganisasi dalam skala besar ini memberikan kekuatan luar biasa untuk mengalahkan non-sapien. Artinya, kekuatan sapiens terletak pada level kolektifnya. Seratus simpanse yang dikumpulkan dalam satu gedung olah raga akan menimbulkan kegaduhan. Namun seratus sapiens mampu berkumpul dalam satu gedung olah raga dengan rapih tanpa kegaduhan.

Baca Juga  Islam di Amerika: Tantangan dan Peluang

Satu simpanse melawan satu sapien, mungkin sapien akan kalah. Sepuluh simpanse melawan sepuluh sapien, mungkin sapien akan kalah juga. Namun dalam skala yang lebih besar, seratus simpanse melawan seratus sapiens, sapiens akan menang. Hal ini bisa terjadi karena sapiens mampu menciptakan realitas fiksional-intersubjektif yang mampu mengikat mereka.

Dengan mempercayai realitas fiksional yang sama, kerumunan Homo sapiens dapat patuh pada nilai dan peraturan yang sama. Kemampuan itu dapat dipakai untuk mengorganisir kerumunan sapiens, dan selanjutknya menyusun rencana untuk mengalahkan seratus simpase. Kemampuan inilah yang tidak dimiliki non-sapiens.

Karena itu, menurutnya, wajar jika hari ini simpanse berada di kebun binatang, laboratorium, dan mengisi kurungan-kurungan. Sementara sapiens menguasai bumi. Ini adalah kemampuan luar biasa yang khas dari sapiens. Ini yang membuat sapiens lebih unggul dari non-sapiens dan selanjutnya mendominasi bumi.

Realitas Fiksional

Masih menurut Harari, Homo sapiens mampu mengorganisir kerumunanya dalam skala masif dengan sama-sama mepercayai realitas fiksional. Enam milyar sapien bisa sama-sama mempercayai adanya perserikatan bangsa-bangsa (PBB), sehingga dapat mematuhi peraturan yang diciptakan PBB. Dua setengah milyar sapien mampu hidup rukun karena mempercayai agama yang sama. 1,8 milyar sapien mampu melakukan ritual yang sama secara teratur dalam keseharian mereka karena sama-sama mempercayai agama yang sama.

Pertanyaannya, bagaimana bisa enam miliyar sapien mempercayai realitas fiksional yang sama? Hal ini diakukan dengan sebuah konsep yang oleh Harari disebut manjemen gosip. Yakni bagaimana realitas fiksional disebarkan secara terus-menerus untuk menyakinkan kumpulan sapiens. Sehingga relitas fiksional tertentu dapat dipercayai oleh sapiens dalam skala masif.

Hari-hari ini, banyak relitas fiksional yang telah diciptakan sapiens yang benar-benar telah dipercayai sebgaian besar sapiens seperti PBB, negara, pemerintahan, perusahaan raksasa multinasional, agama, atau yang beberapa dekade terahir kita ramaikan, yakni hak asasi manusia (HAM). Ini adalah realitas fiksional.

Baca Juga  Milenialis Mencari Islam

Menurutnya, jika kita bedah tubuh fisik manusia, yang kita temuakan adalah daging, tulang, organ dalam seperti jantung, ginjal, hati, cairan darah, atau yang lebih kecil lagi adalah hormon, sel, DNA, dan lain sebagainya. Kita tidak akan pernah menemukan hak asasi manusia apapun dalam manusia itu sendiri. Namun, sapiens di berbagai belahan bumi mempercayai bahwa manusia punya hak dasar yang melekat pada setiap manusia yang disebut hak asasi manusia.

Bagaimana itu bisa terjadi? Menurutnya, hal ini dilakukan dengan bercerita dengan penuh keyakinan tentang hak asasi manusia agar hak asasi manusia dipercayai oleh sapiens di berbagai belahan dunia. Inilah manajemen gosip. Yakni bagaimana realitas fiksional diciptakan dan kemudian disebarkan untuk dipercayai dalam skala masif.

Penyebaran Agama

Pertanyaan selajutnya adalah, bagaimana dengan agama? Bagaimana agama diciptakan dan dikembangkan? Bagi saya, agama diciptakan dan dikembangkan oleh sapiens juga dengan manajemen gosip. Seorang yang bertapa dan kemudian terpikir suatu konsep di pikirannya. Maka konsep itu yang selanjutnya diceritakan. Awanya dari mulut ke mulut, dari sapien satu ke sapien lain. Dan lelanjutnya menyebar dalam skala komunitas. Dalam proses penyebarannya, substansi cerita bisa saja terus berubah dari mulut ke mulut, dari sapien satu ke sapien lain, dari kelompok ke kelompok, dan dari generasi ke generasi.

Awalnya, menceritakan sebuah konsep fiksioanal baru memang sangat berat. Namun jika cerita itu sudah mulai dipercayai oleh suatu komunitas, maka semakin mudah menyebarkannya. Inilah yang kemudian dalam salah satu agama, prosesnya disebut dengan dakwah. Sapien yang menceritakannya disebut juru dakwah atau da’i. Yakni seorang yang memiliki tugas untuk menceritakan dari mulut kemulut, dari komunitas ke komunitas. Akan lebih mudah lagi jika cerita-cerita tersebut sudah dipercayai dari generasi ke generasi.

Baca Juga  Fikih Akbar: Membumikan Islam Rahmah

Dalam kurun beberapa dekade, substansi cerita mungkin sudah sama sekali berubah dari cerita awal. Sebagaimana yang saya sebutkan di awal, kemampuan khas sapiens adalah menciptakan realitas fiksional. Ketika seseorang menerima realitas fiksional, secara sengaja atau tidak, dia bisa menambahkan realitas fiksional baru sebagai bumbu supaya cerita yang diterima tampak lebih realiastis dan logis. Dan begitu seterusnya.

Seorang ayah yang mempercayai agama tertentu, besar kemugikinannya akan menurunkan agama tersebut pada anak-anakya. Termasuk memberikan bumbu-bumbu fiksional yang diciptakan sendiri olehnya sebagai tambahan cerita awal yang telah dipercayai. Begitu agama terbentuk.

Persoalan lain, realitas fiksional adalah gambaran kabur dan elastis yang bersembunyi dalam pikiran sapiens. Sebut saja konsep tentang malaikat. Sapiens bisa sama-sama mempercayai konsep fiksional tentang malaikat. Tapi, bagaimana sapiens menggambarkan secara detil tentang malaikat dalam pikiran mereka tidak akan pernah sama.

Agama secara Historis

Satu sapien mungkin menggambarkan malaikat sebagai manusia bercahaya dengan rambut bergelombang berjubah putih, berusia tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua, membawa tongkat panjang dan turun dari langit.

Sapien lain, mungkin menggambarkan malaikat seperti seseorang yang memakai jubah putih berwajah ganteng dengan sepasang sayap berwarna putih di punggungnya. Membawa tongkat sihir kecil dengan bintang kecil di ujung tongkat tersebut. Saya sendiri bahkan punya versi tersendiri tentang malikat di pikiran saya. Ini juga berlaku untuk konsep-konsep fiksional lain dalam sebuah agama. Termasuk tuhan, surga, neraka, pahala, dosa, dan konsep fiksional religius lainnya.

Artinya dalam  sebuah agama, pemahaman tentang konsep – konsep fiksional atau realitas fiksional bisa sangat variatif. Hal ini terjadi karena pikiran sapiens mempunyai kemampuan menerima dan menambahkan realiatas fiksional tersendiri.

Artinya, secara historis, Agama adalah kumpulan dan tumpukan berbagai konsep fiksional yang dicipatakan sapiens. Yang terus berkembang dan dipercayai secara kolektif dan masif selama ribuan tahun.

*) Human Right Defender, Kader Muda Muhammadiyah


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTImes.ID - Beyond the Inspiration: Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *