back to top
Selasa, Oktober 13, 2026

Agresi Houthi ke Saudi

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Peringatan itu datang lewat layar telepon genggam. “Wilayah ini berada di bawah ancaman udara musuh,” demikian bunyi pesan yang diterima penduduk di ibu kota Arab Saudi, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (19/9/2026). Pesan singkat itu menandai eskalasi terbaru konflik Houthi Saudi yang selama empat tahun terakhir tampak mereda. Kini Riyadh kembali berhadapan dengan rudal dan pesawat nirawak dari Yaman.

Konflik ini bermula dari perebutan kekuasaan di Yaman. Houthi merebut Sanaa pada 2014, lalu memperluas wilayahnya. Setahun kemudian Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk mendukung pemerintah Yaman. Perang bertahun tahun itu memicu krisis kemanusiaan yang parah bagi warga sipil.

Gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa Bangsa pada 2022 menghentikan sebagian besar pertempuran besar. Namun, tidak ada kesepakatan politik tentang pembagian kekuasaan dan masa depan Yaman. Houthi tetap menguasai sebagian besar wilayah utara, termasuk Sanaa. Pemerintah yang didukung Riyadh memegang wilayah lainnya.

Karena itu, ketenangan selama empat tahun lebih tepat disebut jeda ketimbang perdamaian. Situasi memburuk sejak Juli 2026. Houthi menyerang dan merebut sejumlah posisi strategis di pesisir Laut Merah, termasuk kawasan dekat Selat Bab el Mandeb. Arab Saudi meningkatkan serangan, dan dibalas dengan rudal serta pesawat nirawak.

Dalam studi hubungan internasional, pola konflik Houthi dan Saudi ini dikenal sebagai dilema keamanan. Konsep yang dipopulerkan John Herz dan Robert Jervis itu menjelaskan bagaimana langkah defensif satu pihak dibaca sebagai ancaman oleh pihak lain. Arab Saudi memandang pengaruh Iran di Yaman sebagai persoalan keamanan nasional. Houthi, sebaliknya, melihat Riyadh sebagai penopang utama pemerintahan yang mereka lawan. Setiap langkah memicu balasan, dan spiral eskalasi sulit dihentikan.

Kerangka realisme struktural ala Kenneth Waltz menambahkan lapisan lain. Hubungan dekat Houthi dengan Iran membuat konflik ini kerap dibaca sebagai perang perwakilan dalam perebutan keseimbangan kekuatan di kawasan. Pembacaan itu masuk akal, tetapi tidak cukup. Yaman dihuni banyak kelompok bersenjata dan politik, sehingga konflik ini bukan pertarungan dua pihak semata. Houthi punya agenda domestik sendiri, dan menyebutnya sekadar kepanjangan tangan Teheran akan menyederhanakan persoalan.

Baca Juga:  Apa Penyebab Konflik Amerika VS Iran?

Perubahan paling nyata terjadi di peta. Houthi telah merebut Pulau Hanish Besar dan Hanish Kecil di selatan Laut Merah. Kepulauan itu berjarak sekitar 160 kilometer dari utara Selat Bab el Mandeb, titik sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia dan pasar minyak Saudi di Asia. Houthi juga menguasai kota pelabuhan Mokha dan Pulau Mayun.

Dengan posisi itu, Houthi kini hanya sekitar 32 kilometer dari pangkalan militer Amerika Serikat di Djibouti. Negara kecil di Tanduk Afrika itu berada tepat di seberang selat. Jarak yang sedemikian dekat membuat Houthi memegang kartu tawar yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.

Bagi Arab Saudi, taruhannya sangat besar. Sebagai produsen minyak terbesar di Timur Tengah, Riyadh mengandalkan Pipa Timur ke Barat sepanjang 1.200 kilometer, Laut Merah, dan Selat Bab el Mandeb. Jalur ini kian penting sejak Iran menutup Selat Hormuz akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada Februari 2026. Produksi minyak Saudi turun dari hampir 10 juta barel per hari pada September 2025 menjadi 6 juta barel pada Agustus 2026.

Perang asimetris menjelaskan mengapa aktor non negara bisa menekan negara sekaya Saudi. Andrew Mack, dalam kajiannya tentang konflik asimetris, menyebut pihak yang lebih lemah dapat menang jika sanggup bertahan dan memaksa lawan menanggung biaya yang tak sebanding. Rudal dan pesawat nirawak relatif murah, sedangkan sistem pertahanan udara dan pengamanan jalur pelayaran sangat mahal. Houthi tidak perlu menaklukkan Riyadh. Cukup membuat jalur ekspornya terlalu berisiko.

Baca Juga:  Tim Asia Jadi Pecundang di Piala Dunia

Teori geopolitik klasik soal titik sempit laut sudah lama mengingatkan hal ini. Siapa yang mengendalikan selat, ia mengendalikan denyut perdagangan. Robert Keohane dan Joseph Nye menyebutnya sebagai interdependensi asimetris, yakni ketergantungan yang tidak seimbang menjadi sumber daya kekuasaan. Saudi bergantung pada Bab el Mandeb, dan Houthi tahu persis hal itu.

Dampaknya menjalar jauh melampaui Teluk. Negara di Asia dan Afrika sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah. Kekurangan pasokan berujung pada melonjaknya biaya bahan bakar dan tagihan energi rumah tangga. Indonesia, yang masih mengimpor minyak, tentu tidak kebal terhadap guncangan harga semacam ini.

Di tengah eskalasi, Amerika Serikat memilih jalur sendiri. Para pejabat Washington dilaporkan bertemu pemimpin Houthi di Kedutaan Besar AS di Muscat, Oman. Dari pertemuan itu, Houthi berjanji tidak menyerang kapal AS dan Israel serta menyatakan tidak berniat mengganggu pelayaran internasional. Hanya kapal yang terkait Saudi dianggap target karena Riyadh memblokade Yaman.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman meminta dukungan militer kepada Presiden Donald Trump. Jawabannya, Amerika Serikat tidak akan terlibat langsung. Washington sudah terkuras oleh konflik mahal dengan Iran. Dalam teori aliansi Glenn Snyder, situasi ini disebut ketakutan akan ditinggalkan. Sekutu yang merasa tidak dibela cenderung mencari perlindungan ke tempat lain.

Riyadh memang mulai mencarinya. Mohammed bin Salman mengunjungi Mesir. Kairo kecil kemungkinan mengirim bantuan militer, tetapi punya pengaruh besar untuk menggalang dukungan di dunia Arab. Saudi lalu meminta China agar mendorong Iran menahan Houthi. Beijing menyerukan pengendalian diri, dialog, dan pemulihan keamanan navigasi, tanpa ancaman eksplisit terhadap Teheran. Padahal China sudah lebih dari 10 tahun menjadi mitra dagang terbesar Iran dan pembeli utama minyaknya.

Baca Juga:  Risiko Dibalik Naiknya Pendapatan Ojol

Barry Buzan dan Ole Waever lewat teori kompleks keamanan regional menegaskan bahwa keamanan negara di satu kawasan saling terkait erat. Yaman, Laut Merah, dan Selat Hormuz kini menjadi satu rangkaian. Dengan menguasai posisi yang menghadap Bab el Mandeb, Houthi yang didukung Iran menciptakan titik tekanan kedua bagi energi global. Apalagi Oman kini menunda perundingan soal Hormuz dengan Iran dan negara Teluk.

Sejumlah pejabat dan analis kawasan membaca perhitungannya sederhana. Ancaman di Laut Merah ditambah terputusnya Hormuz dapat mendongkrak harga minyak dan memicu inflasi. Peluang kawasan bersandar pada Amerika Serikat pun menyempit. Negara Teluk dipaksa memilih antara menanggung beban ekonomi yang kian berat atau menjalin hubungan dengan Iran demi melindungi perdagangan dan stabilitas.

Pilihan itu membawa konsekuensi yang lebih dalam. Selama ini, kekayaan energi menjadi andalan negara Teluk. Kini kendali atas ekspor dan stabilitas ekonomi regional bergeser ke tangan Iran dan sekutunya.

Karena itu, konflik Houthi Saudi tak bisa dilihat sebagai duel dua pihak. Di dalamnya bertaut perang saudara Yaman, persaingan Arab Saudi dan Iran, perebutan wilayah dan kekuasaan, serta kepentingan strategis di Laut Merah. Selama akar politik di Yaman tak disentuh, gencatan senjata hanya akan menjadi jeda yang rapuh.

Sementara para pemain besar menghitung untung rugi, warga sipil Yaman yang sudah bertahun tahun menanggung krisis kemanusiaan kembali berada di posisi paling rentan. Peringatan udara di Riyadh hanyalah gejala. Penyakitnya adalah kebuntuan politik yang tak kunjung dipecahkan.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru