Akhir Hidup Abu Dzar al-Ghifari, Sahabat yang Melawan Para Penimbun Harta

 Akhir Hidup Abu Dzar al-Ghifari, Sahabat yang Melawan Para Penimbun Harta Ilustrasi: panjimas.com            

Abu Dzar al-Ghifari

Nama lahirnya Jundab bin Junadah al-Rabazi. Julukannya (orang Arab suka memberi julukan yang melekat sampai mati) adalah Abu Dzar al-Ghifari. Ia adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW. yang masih hidup hingga era ‘Utsman. Jarang yang mengetahui nasibnya di hari tua, di hari ketika ia melihat degradasi di tengah umat Islam.

Berbeda dengan Rasulullah atau ‘Umar, para menteri ‘Umayyah di belakang Khalifah ‘Utsman berambisi menghadirkan kemegahan peradaban melalui proyek pembangunan fisik. Jamak diketahui, Bani ‘Umayyah merupakan kaum pedagang yang telah melihat kemajuan peradaban dan kemegahan imperium-imperium. Bani ‘Umayyah menginginkan kehidupan semacam itu; gaya hidup mereka pun sulit dipisahkan dari kemegahan.

Semasa hidup Rasulullah SAW, orang-orang Bani ‘Umayyah banyak yang tidak masuk Islam (bahkan paling keras memusuhi Rasulullah SAW) karena mereka memang kurang terbiasa dengan ajaran Islam yang menekankan asketisme dan filantropi (distribusi kekayaan). Ketika ‘Umar berkuasa, hasrat membawa kemajuan dan kemegahan masih sulit terwujud, sebab ia teramat zuhud.

Melawan Para Penimbun Harta

Momentum tiba ketika ‘Utsman berkuasa. Di masa itulah, Abu Dzar menghabiskan masa tua. Ia bukan saja melihat pembangunan yang megah, namun imbas dari itu: lahirnya golongan kaya yang menimbun harta. Abu Dzar merasa asing dengan budaya menimbun itu. Ia tidak pernah melihat budaya menimbun harta dipraktekkan oleh Rasulullah.

Maka Abu Dzar menyeret kaki tuanya, berkeliling dan menemui siapa saja, orang-orang kaya baru, untuk diperingatkan tentang bahaya harta. Di Madinah, orasi-orasi dan nasehat Abu Dzar sangat mengganggu kalangan ‘Umayyah, yang terus menerus memperkaya diri melalu jabatan-jabatan yang diberikan oleh Khalifah ‘Utsman.

Karena tindakannya itu, Abu Dzar berseteru dengan Marwan bin Hakam, wakil ‘Utsman dalam pemerintahan, dan mengakibatkan dikirimnya Abu Dzar ke Suriah, di bawah pengawasan Mu’awiyah bin Abu Sufyan sang gubernur. Abu Dzar tidak surut. Di pasar-pasar Suriah ia mengingatkan orang miskin bahwa pada harta orang kaya terdapat hak mereka.

Baca Juga  111 Tahun Buya HAMKA : Dari Panji Masyarakat Hingga ke Hati Umat

Diuji oleh Mu’awiyah

Lagi-lagi, orasi dan nasehat Abu Dzar membuat geger orang-orang kaya. Sebab, orang-orang miskin mulai berani menuntut hak mereka. Tidak sekali dua Abu Dzar dipanggil gubernur. Pada Mu’awiyah, Abu Dzar tidak segan berkata: “Jika kemegahan ini datang dari uang umat, kamu pengkhianat; bila datang dari uangmu sendiri, kamu orang yang melampaui batas.”

Abu Dzar juga tidak segan berkata pada Mu’awiyah: “Aku tidak bisa memahami mengapa perbuatan ini bisa terjadi di tengah umat Islam. Ini tidak terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Aku menyaksikan kebenaran tengah diremangkan dan kebatilan dinyalakan. Kejujuran dan ditinggalkan dan sifat mementingkan diri sendiri dibangga-banggakan.”

Sebelum ia membalik badan dan pergi dari hadapan Mu’awiyah tanpa pamit dan ucapan salam, ia mengunci nasehatnya dengan menunjuk wajah Mu’awiyah dan mengutip kembali kalimat Rasulullah: “Seseorang belum dikatakan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu orang yang tinggal dalam keadaan kenyang sedangkan tetangganya kelaparan dan dia mengetahuinya!”

Abu Dzar adalah seorang sahabat terhormat. Komitmennya terletak pada ajaran Rasulullah, bukan penguasa di hadapannya. Ia yakin, umat Islam tidak boleh menumpuk harta melebihi kebutuhannya, sampai setiap muslim terpenuhi kebutuhan pokoknya. Keyakinan itu ia semprotkan pada para penimbun harta yang bandel.

Abu Dzar pernah dikirimi bawahan Mu’awiyah sekarung uang dinar. Ia menyeret uang itu di malam hari dan membagikannya pada warga miskin Suriah. Ketika Mu’awiyah berkilah bahwa uang itu salah sasaran dan memintanya kembali, Abu Dzar bersusah payah mengumpulkannya lagi, menyeret dan membantingnya di hadapan Mu’awiyah.

“Bila ini adalah siasatmu, semoga Allah mengampunimu. Bila ini murni kesalahpahaman, itu membuktikan kamu memilih bawahan-bawahan yang buruk,” kata Abu Dzar. Ia menolak bungkuk di hadapan kekuasaan manusia yang memegang politik sebagai panglima, bukan nilai-nilai luhur al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.

Baca Juga  Bung Tomo, Radio Pemberontakan, dan Detik-detik Revolusi 10 November

Konflik dengan ‘Usman

Setelah pertempuran Qibriz, Abu Dzar dikembalikan ke Madinah dengan sebuah surat yang menjelaskan bahwa banyak warga Suriah yang mengeluhkan tabiatnya. Abu Dzar berkata, yang mengeluh hanyalah orang kaya.

‘Utsman menjelaskan bahwa ia tidak bisa meminta orang-orang untuk hidup zuhud. Yang ‘Utsman bisa lakukan hanyalah mewajibkan mereka membayar zakat, dan orang-orang kaya itu telah membayarnya. Namun, Abu Dzar bersikukuh kewajiban seorang muslim tidak lantas luruh karena telah membayar zakat. Ada moralitas yang lebih tinggi dibandingkan syariat, yakni asketisme dan distribusi kesejahteraan.

Seorang Yahudi muallaf bernama Ka’ab bin Ahbar menimpali Abu Dzar. Yahudi muallaf itu berpendapat bahwa selesainya kewajiban berarti selesainya urusan. Abu Dzar marah karena kalimat tidak berilmu yang hanya ingin mengompori ‘Utsman itu, dan ia memukul Ka’ab hingga berdarah kepalanya.

Akhir Hidup

Insiden itu menyebabkan ‘Utsman mengambil keputusan agar Abu Dzar segera meninggalkan Madinah. Abu Dzar akan diasingkan di padang pasir. Perintah ‘Utsman, tidak boleh ada warga Madinah yang mengiringi kepergian Abu Dzar. Banyak warga Madinah yang menangis, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan, Husain, dan Ammar bin Yasir yang mengabaikan perintah. Mereka menemui Abu Dzar di gerbang Madinah.

‘Ali dan Abu Dzar berpelukan lama dalam tangis, saling menguatkan, saling berwasiat dan memuji satu sama lain. Mereka sama-sama tahu, kehidupan yang damai yang Rasulullah tunjukkan telah lama berlalu. Bahwa wajah umat Islam akan segera berganti. Bahwa di depan sana, nilai-nilai akan melangka, digantikan dengan nafsu akan emas dan kehormatan. Abu Dzar meninggal di padang sunyi bernama Rabadzah. Istri dan anaknya tidak mempunyai kain kafan untuk memakamkannya. Adalah Abdullah bin Mas’ud yang kebetulan lewat bersama rombongan umat Islam. Abdullah bin Mas’ud menangis dan mengulangi sabda Rasulullah: “Anda memang berjalan sendirian, mati sendirian, dan akan dibangkitkan lagi seorang diri!”

Baca Juga  Djazman, Tantangan Perkaderan Muhammadiyah di Kelahiran ke-107

Editor: Arif


IBTimes.ID - Dihidupi oleh jaringan penulis yang memerlukan dukungan untuk bisa menerbitkan tulisan secara berkala. Agar kami bisa terus memproduksi artikel-artikel keislaman yang mencerahkan masyarakat, silakan sisihkan sedikit donasi untuk keberlangsungan kami.

Transfer Donasi ke
BNI 0342383062 A.n Qurrota A'yun

Aprizal Sulthon Rosyid

Direktur Eksekutif the Reading Group for Social Transformation (RGST)

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *