Akidah dan Tauhid Sebagai Prinsip Ketuhanan dalam Islam - IBTimes.ID
Akidah

Akidah dan Tauhid Sebagai Prinsip Ketuhanan dalam Islam

4 Mins read

Akidah dan tauhid dapat menentukan hubungan antara hamba dan Tuhannya. Kebahagiaan hidup di dunia ini dapat terwujud jika dilandasi pengetahuan tentang Allah. Kebutuhan hamba kepada Allah harus melebihi segala kebutuhannya kepada yang lain. Akidah tauhid juga membuat orientasi hidup muslim jelas, terarah, dan mantap. Sehingga, tidak akan bimbang dan ragu-ragu.

Akidah yang benar merupakan kunci kemenangan dan keberuntungan dalam hidup di dunia dan akhirat. Dengan akidah yang benar dan kuat, mukmin hanya takut kepada Allah. Selain-Nya, semua itu kecil dan hina (yang Maha Besar dan Kuasa hanyalah Allah). Dengan demikian, berakidah tauhid adalah mengikatkan iman dalam hati, pikiran, lisan, dan perbuatan hanya kepada Allah perlu dibuktikan dengan amal saleh dengan dilandasi oleh ilmu yang memadai.

Kedudukan Akidah dalam Islam

Dalam ajaran Islam, akidah memiliki kedudukan yang sangat penting. Ibarat suatu bangunan, akidah adalah pondasinya. Sedangkan ajaran Islam yang lain, seperti ibadah dan akhlak adalah sesuatu yang dibangun di atasnya.

Rumah yang dibangun tanpa fondasi adalah suatu bangunan yang sangat rapuh. Tidak usah ada gempa bumi atau badai, bahkan untuk sekadar menahan atau menanggung beban atap saja, bangunan tersebut akan runtuh dan hancur berantakan.

Dalam istilah umum, akidah memiliki makna keyakinan yang kuat dan kokoh. Maka, akidah yang benar merupakan landasan bagi tegaknya agama dan diterimanya suatu amal.

Akidah secara bahasa berasal dari kata ‘aqd yang berarti mempererat, mengokohkan, dan mengikat dengan kuat. Secara istilah, akidah adalah keyakinan yang kuat, yang tidak dimasuki oleh keraguan.

Dengan demikian, akidah Islam berarti keimanan yang kuat kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan kewajiban berupa tauhid dan taat kepada-Nya. Demikian juga beriman kepada malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada qada dan qadar, serta mengimani semua tentang prinsip-prinsip agama (ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, berita yang disebutkan dalam Al-Qur’an maupun sunah, baik ‘ilmiyyah (sebagai pengetahuan yang harus diyakini) maupun ‘amaliyyah (pengetahuan yang harus diamalkan).

Baca Juga  Istiqomah: Konsisten dalam Kebaikan

Dasar-dasar Akidah Islam

1. Al-Qur’an

Dasar akidah yang paling utama adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah firman Allah Swt. yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. melalui malaikat Jibril yang berisi pedoman hidup bagi manusia agar selamat dunia akhirat.

Melalui Al-Qur’an inilah Allah Swt. menuangkan firman-firman-Nya berkenaan dengan konsep akidah yang benar dan harus diyakini serta dijalani secara mutlak oleh semua umat Islam. Untuk memahami Al-Qur’an secara lebih rinci, umat muslim diperintahkan untuk mengikuti ajaran-ajaran Rasulullah saw., karena semua perilaku Rasulullah adalah contoh nyata yang dapat dijadikan pedoman hidup bagi setiap muslim.

2. Hadis

Hadis disebut juga sunnah, merupakan perkataan, perbuatan, ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad saw. yang dijadikan landasan syariat Islam. Hadis dijadikan dasar hukum akidah yang kedua setelah Al-Qur’an.

Tauhid Sebagai Prinsip Ketuhanan dalam Islam

Tauhid adalah keyakinan bahwa Tuhan penguasa alam semesta hanyalah satu, tidak beranak, tidak beristri, dan tidak bersaudara. Satu, dan hanya Allah Swt. Para ulama mengkaji pembagian tauhid berdasarkan Al-Qur’an didasari dari salah satu ayat, yang mana ayat tersebut mewakili makna dari tauhid. Ayat yang dimaksud adalah QS. Maryam ayat 65, yang berbunyi :

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً

“Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam: 65)

Berdasarkan ayat di atas, para ulama menjabarkan makna dari tauhid menjadi tiga bagian. Ketiga bagian tersebut adalah sebagai berikut:

Dalam firman-Nya (رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) “Rabb (yang menguasai) langit dan bumi“ merupakan penetapan tauhid rububiyah.

Dalam firman-Nya (فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ) “maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya” merupakan penetapan tauhid uluhiyah.

Dan dalam firman-Nya (هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً) “Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia?” merupakan penetapan tauhid asma’ wa shifat.

Tiga Macam Tauhid

Sehingga, dapat diketahui bahwa pembagian tauhid dibagi menjadi tiga. Yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Berikut adalah penjelasannya.

Baca Juga  Masuk Surga dan Neraka karena Seekor Lalat

1. Tauhid Rububiyah

Tauhid rububiyah adalah tauhid yang mengingatkan kita harus percaya bahwa penciptaan, pengurusan, dan pemerintahan alam semesta dan segala isinya hanyalah Allah dan tidak ada yang lain. Hal ini sejalan dengan QS. Al A’raf ayat 54 yang berbunyi.

أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah.” (QS. Al-A’raf: 54).

Menegaskan bahwa tidak ada selain Allah adalah penyebab terbentuknya alam semesta beserta isinya. Dan tidak ada selain Allah pula yang memerintah alam semesta.

2. Tauhid Uluhiyah

Tauhid uluhiyah memiliki makna sebagai tauhid Ibadah. Yaitu tidak ada makhluk selain Allah yang berhak diibadahi dan tidak ada makhluk selain Allah yang berhak untuk disembah. Hal ini sejalan dengan QS. Luqman ayat  30:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ

”Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya yang mereka seru selain Allah adalah batil.” (QS. Luqman: 30)

Yang mana memiliki makna bahwa haram hukumnya menyembah selain Allah, karena hal tersebut merupakan perkara yang bathil dan tidak boleh dilakukan.

3. Tauhid Asma’ wa Shifat

Tauhid asma’ wa shifat adalah memercayai Allah atas nama-nama yang telah ditetapkan oleh-Nya sendiri. Dan tidak mengingkari nama-nama tersebut. Percaya bahwa nama-nama tersebut benar tanpa mengilustrasikan (takyif), menyerupakan dengan sesuatu (tamtsil), menyimpangkan makna (tahrif), atau bahkan menolak nama atau sifat tersebut. Contoh adalah Al-Bashiir yaitu Allah Maha Melihat, maka begitulah adanya. Hal ini sejalan dengan makna dari QS. Asy-Syuura ayat 11 yang berbunyi:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuura: 11)

Baca Juga  Mengenal Makhluk Gaib Ciptaan Allah

Allah Selalu Mengawasi Kita

Makna dari tauhid asma’ wa shifat adalah memercayai Allah atas segala nama dan sifat yang Allah miliki. Tentunya, dalam mempelajari pengertian akidah, tauhid, serta pembagiannya dalam Islam, dapat menjadikan kita lebih paham atas ajaran Allah dan lebih pula menambah keimanan karena dalam mengamalkan ajaran tiga bagian tauhid, kita akan mengetahui bahwasanya Allah selalu mengawasi atas segala perbuatan kita.

Juga membenarkan ajaran-ajaran Islam yang disampaikan karena segala sesuatunya menjadi saling berhubungan. Sehingga, kita sebagai umat muslim harus berhati-hati dalam bertindak, karena Allah juga menjanjikan siksa yang pedih bagi mereka yang melalaikan aturan-Nya.

Editor: Lely N

Dita Salsabila
1 posts

About author
Mahasiswi ITB Ahmad Dahlan
Articles
Related posts
Akidah

Mengapa 'Iman' Menyatu dengan 'Amal Shaleh'?

1 Mins read
Di 57 tempat dalam al-Qur’an, iman digandengkan hal lain dan 45 di antaranya dengan amal shaleh. Penggandengan ini menunjukkan bahwa iman dan…
Akidah

Model Beragama Islam: Tujuh Hukum Keimanan Fungsional

2 Mins read
IBTimes.ID – Iman dan amal saleh merupakan model beragama Islam. Iman tidak boleh berdiri sendiri. Ia harus diikuti oleh amal saleh. Dalam…
AkidahPerspektif

Turki Hari Ini: Ateisme Bangkit, Agama Dipolitisasi

3 Mins read
Jika ditanya tentang Turki, pasti sebagian besar orang di Indonesia akan mengenal sosok penting di negeri tersebut, yaitu Receb Tayyip Erdogan atau…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa