Beranda Feature Aku dan Muhammadiyah

Aku dan Muhammadiyah

Oleh : Nia Perdhani*

 

Bapakku adalah seorang Muhammadiyah kultural. Tapi menikah dengan Ibu, kemudian pindah ke Jakenan membuatnya harus hidup di tengah-tengah komunitas NU jekék. Istilah modernnya, NU sejak dari embrio.

Jadi sepertinya, di Jakenan ditanggalkannya jubah kemuhammadiyahan, melebur bersama kawan-kawan NU mengembangkan syiar. Bapak bergabung memimpin tahlil, mengimami sholat tarawih 20 rekaat, membaca qunut dalam sholat-sholat tertentu, bancakan, berjanjen tiap malam Jum’at dan mengikuti amaliah-amaliah NU lainnya.

Hanya saja semuanya itu tidak pernah diajarkannya padaku, pun tidak pernah diamalkan di dalam rumah kami.

Aku masih mengingat momen-momen awal ketika beliau merasa sudah saatnya memperkenalkan diri sebagai warga Muhammadiyah di Jakenan ini. Musholla kecil milik kerabat yang dipimpinnya mulai ditawari sholat tarawih 8 rekaat dengan witir terbagi 2. Tapi hanya sebentar saja kemudian jamaah minta kembali ke 20 rekaat. Beberapa waktu Bapak masih berusaha ngotot, tapi karena lama-kelamaan jamaahnya makin sedikit, akhirnya beliau ngalah balik 20 lagi, hehehe.

Aku juga masih ingat betul suatu ketika beliau mendirikan sholat Idul Fitri sehari lebih awal sesuai amanat persyarikatan, di musholla kecil dengan jamaah beberapa belas saja. Besoknya toh beliau tetap sholat Id lagi di masjid kecamatan dan membacakan khutbah di sana.

Sayangnya, tak banyak waktu yang kupunya untuk bercengkerama dengan beliau. Lulus SD aku dikirim mondok ke Solo. Lulus SMP, baru di rumah sebentar, beliau dipanggil pulang oleh Gusti Allah.

Tapi selama aku di Solo sepertinya Bapak sudah bergerak lebih jauh. Beliau menerima mandat mendirikan PCM di Jakenan. Kata Ibu, Bapak sempat bersedih hati karena ternyata meskipun sudah lama meleburkan diri di masyarakat, memperkenalkan Muhammadiyah di Jakenan, prosesnya tidak semulus beliau bayangkan.

Hingga Bapak meninggal, aku masih nggak paham sudah sampai mana perkembangan persyarikatan. Aku melanjutkan hidupku. Sekolah SMA, kuliah, lulus, menikah tanpa memikirkan persyarikatan sama sekali, duh.

Lalu takdir nampaknya membuatku terdampar lagi di desa ini, menjadi bagian masyarakatnya, dan tibalah saat itu. Ketika pimpinan PCM tidak mau membiarkanku tercerabut dari urusan kemuhammadiyahan yang diinisiasi bapakku, maka aku dan suamiku diseret-seretnya dan diikat biar nggak ucul, wkwkwk. Pak Didik ditarik ke PCM suruh ngurusi duit, dan aku “dikerjai” suruh ngurusi Lazismu.

Butuh setahun sampai hatiku tergerak untuk mengikhlaskan diri menerima amanah ini. Baru Ramadhan kali ini aku mulai bergerak. Aku sedang berusaha menumbuhkan ikatan dengan organisasi ini. Kubayangkan wajah Bapak tersenyum lega, putri semata wayangnya akhirnya mau kembali ke pangkalan melanjutkan sebagian misinya. Sementara itu sajalah dulu semoga jadi bekal yang cukup untuk mulai mencintai persyarikatan.

Zakat fitrah titipan teman-teman kemarin, digabung dengan zakat fitrah keluarga PCM Jakenan akan saya salurkan besok melalui Lazismu Jakenan. Di dalamnya kami sertakan paket sembako gula dan minyak goreng untuk dibagikan pada para mustahiq di Jakenan. Ada total 33 paket yang besok kami salurkan. Terimakasih titipannya ya.

 

*) Lazismu PCM Jakenan, Pati, Jawa Tengah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Luar Biasa! Pengabdian UMY Perkuat Desain Digital Capaian SDGs Lazismu

IBTimes.ID-Yogyakarta, (16/07 10)- Program pengabdian masyarakat dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, baru-baru ini menggandeng Lazismu (Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sadaqah Muhammadiyah) untuk memperkuat capaian...

Unik! Kebencanaan Menjadi Materi Fortasi IPM SMK Muhammadiyah Pontang

IB Times.ID - Ada yang spesial dari pelaksanaan Forum Ta'aruf dan Orientasi (Fortasi) siswa baru siswa baru SMK Muhammadiyah Pontang tahun pelajaran 2019/2020 ini,...

Berakhirnya Kompetisi: Refleksi Milad 58 IPM “Kolaborasi untuk Negeri”

Oleh: Nashir Efendi Milad ke-58 milad Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) mengusung tema “Kolaborasi untuk Negeri”. Tema ini nampaknya ingin menggeser paradigma kompetisi menjadi kolaborasi.  Bicara...

Romo Paryanto: Selain Keuangan, Muhammadiyah Perlu Audit Ideologi dan Kebijakan

Tahun 2020, Muhammadiyah akan gelar perhelatan akbar Muktamar ke-48 di Surakarta.  Akan tetapi syi’ar dan gaung Muktamar yang tinggal satu tahun lagi belum terdengar....

Andaikan IMM Agamaku

Oleh: Yusuf Rohmat Yanuri* Isu agama di Indonesia merupakan isu yang sangat sensitif. Survei menunjukkan bahwa agama di mata masyarakat Indonesia adalah sesuatu yang sangat...