Al Jahiz: Ulama yang Berpikir Kritis dan Skeptis - IBTimes.ID
Ulama

Al Jahiz: Ulama yang Berpikir Kritis dan Skeptis

3 Mins read

Biografi Al Jahiz

Nama Al Jahiz merupakan sebutan yang diberikan untuknya. Ia terkenal dengan sebutan Al Jahiz karena ia mengalami cacat mata. Meskipun demikian, ia merupakan sosok yang pantang menyerah.

Ia terkenal dengan aktivitasnya yakni gemar membaca, meneliti, dan belajar. Al Jahiz juga merupakan seorang ilmuwan, teolog, dan sastrawan. Ia terkenal sebagai seorang yang kritis, serta penulis produktif yang banyak menghasilkan karya tulis.

Nama aslinya merupakan Abu Utsman Amr Bahr Ibn Mahbub Al Kinani Al Laitsi. Ia merupakan keturunan dari keluarga Mawali Bani Kinanah. Al Jahiz dilahirkan di Bashrah pada tahun 775 Masehi atau 159 Hijriah.

Meskipun ia hidup di lingkungan keluarga yang sederhana, Al Jahiz tidak pernah menyerah untuk mengkaji berbagai hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Beragam studi disiplin ilmu ia pelajari, berawal dari ilmu bahasa, filologi, ilmu sastra, serta ilmu berhitung (Syantanawi, 1990).

Al Jahiz Menarik Perhatian Ilmuwan Mu’tazilah

Al Jahiz merupakan seorang yang kritis dan cerdas. Oleh karena itu, ia menarik perhatian para ilmuwan di kalangan Mu’tazilah. Ia lalu direkrut untuk ikut bersama dalam lingkungan paham Mu’tazilah.

Adanya bimbingan Al Nadzam (seorang tokoh Mu’tazilah) membuat Al Jahiz berkembang dan tumbuh sebagai sosok tokoh yang cemerlang. Dalam beragam persoalan teologi, ia mampu membuktikan argumen-argumen secara logis.

Masa Kehidupan Al Jahiz yaitu berada di masa pemerintahan Bani Abbasiyah, yang mana pada masa ini sudah terjadi inkulturasi. Yakni pertemuan beragam kebudayaan bangsa. Pada saat itu, karya-karya klasik Yunani sudah mewarnai kebudayaan.

Para pemikir Islam, salah satunya Al Jahiz, pemikirannya dipengaruhi oleh pendapat-pendapat para filosof Yunani, misalnya Socrates, Plato dan Aristoteles. Pertemuannya dengan para filosof Yunani sudah menjadikan Al Jahiz menjadi seorang yang kritis ketika menghadapi beragam persoalan.

Baca Juga  Al-Kitab Sibawaih: Karya Monumental Sang Ahli Nahwu

Sebagai salah satu pengikut Mu’tazilah yang mana ciri khas pemikirannya cenderung mengutamakan rasio atau bisa disebut akal, yang terlihat kental mempengaruhi beragam aktivitasnya.

Sehingga penganut Mu’tazilah disebut sebagai kaum rasionalis Islam. Pandangan itu memiliki implikasi kepada kebebasan berpikir yang dimiliki oleh diri manusia.

Kebebasan berpikir memiliki corak pemikiran yang bersifat filosofis, yakni kritis kepada semua peristiwa atau hal apapun sampai akhirnya bisa ditemukan suatu hakekat atau kebenaran hal tersebut (Nasution, 1986).

Al Jahiz: Ulama yang Kritis dan Bebas Berpikir

Menurut Al Jahiz, kebebasan berpikir haruslah dilandaskan atas pemikiran yang bebas atau terbuka serta memiliki pola tertentu yang bisa pertanggung jawabkan.

Untuk lebih lanjutnya dinyatakan bahwa kebebasan berpikir ini berimplikasi kepada tidak adanya keterkaitan dengan beragam pemikiran yang sudah ada.

Seseorang bisa menjadi lebih obyektif dalam memandang segala sesuatu, yakni dengan cara membebaskan diri dari sebuah pandangan yang sudah ada.

Spirit kebebasan berpikir tersebut membuat Al Jahiz berubah menjadi seseorang yang kritis kepada suatu problem. Sikap kritis Al Jahiz bukan hanya ditampilkan di ranah agama atau teologi saja.

Misalnya larangan menilai buruk kepada para sahabat seperti yang dilakukan oleh kaum Sunni. Serta kritik kepada kaum Syi’ah dalam hal keabsahan ketiga khalifah, yakni Abu Bakar, Umar, dan Utsman, dan pendapat lainnya dalam beragam persoalan teologi.

Kritik Al Jahiz tersebut dituangkan didalam bukunya, yaitu Risalah fi Al Nubala (Sou’yb, 1997).

Pemikiran Al Jahiz yang Kritis dan Skeptis

Selain kritis, Al Jahiz juga skeptis kepada beragam hal. Yang dimaksud dengan sikap skeptis ini adalah apabila Al Jahiz mendapatkan atau menemukan suatu kejadian, sebelum ia membuktikannya sendiri.

Baca Juga  Muhammad Asad (1): Anugerah Eropa Kepada Islam

Ia tidak akan langsung percaya kepada suatu hal tersebut. Sikap skeptis Al Jahiz tidaklah suatu tujuan. Namun merupakan sebagai tahap awal atau suatu sarana untuk mendapatkan keyakinan yang sebenarnya.

Sikapnya yang skeptic mendorong Al Jahiz melaksanakan beragam penelitian guna membuktikan kebenaran suatu peristiwa (Arsyad, 1995).

Metode yang Diapakai untuk Penelitian

Al Jahiz menggunakan metode eksperimentasi dan metode ilmiah didalam melakukan penelitiannya. Metode eksperimen merupakan metode yang dilakukan yang mana subjek terlibat secara langsung dengan obyek yang sedang diteliti.

Sementara metode ilmiah menurut Al Jahiz merupakan metode yang dilakukan dengan cara melihat secara langsung, bukan hanya dengan mengutip atau mendengar pernyataan dari orang lain.

Corak khas pemikiran Al Jahiz yang bisa diungkapkan di artikel ini, yaitu pemikiran substansialis. Pemikiran substansialis Al Jahiz adalah pemikiran yang mendorongnya untuk bisa menilai sesuatu dengan cara memandang sesuatu itu dari segi substansi atau isi, bukan cenderung melihat pada bentuk. Hal tersebut tampak saat Al Jahiz menilai mengenai suatu hadits Nabi.

Hadis yang bisa diterima oleh Al Jahiz merupakan hadits yang shahih atau benar. Dalam menilai suatu hadits, ia lebih mengutamakan terhadap unsur rasionalitas dari matan hadits. Apakah bisa diterima oleh akal atau tidak.

Misalnya, hadis yang menyatakan kemungkinan manusia dapat melihat jin, Al Jahiz tidak menerima hadits tersebut, sebab ia menganggapnya tidak rasional (Hidayatullah, 1992).

Editor: Rozy

Yusin Maulidah
2 posts

About author
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya
Articles
Related posts
Ulama

Syekh Zakaria, Anak Yatim yang Bersemangat Mencari Ilmu

4 Mins read
Nama lengkapnya adalah Zainuddin Abu Yahya Zakaria bin Muhammad bin Ahmad bin Zakaria al-Anshari al-Khazraji as-Sunaiki al-Qahiri al-Azhari asy-Syafi’i, atau yang kerap…
Ulama

Abbas Ibn Firnas: Sang Penerbang Pertama dari Andalusia

2 Mins read
Abbas Ibn Firnas – Dunia mungkin mencatat Wright bersaudara sebagai penemu pesawat terbang. Tetapi, jauh sebelum itu, terdapat tokoh lain yang menemukan…
Ulama

At-Thabaqat al-Kubra Karya Ibnu Sa’d: Rujukan Historiografi Islam Awal

3 Mins read
Asal Muasal Kitab at-Thabaqat al-Kubra at-Thabaqat al-Kubra – Ibn Sa’d, 168-230 H/ 784-845 M, adalah salah satu pelopor penulisan biografi dalam literatur…

Tinggalkan Balasan