Apakah Tuhan Menghilang Ketika Pandemi Covid-19? - IBTimes.ID
Essay

Apakah Tuhan Menghilang Ketika Pandemi Covid-19?

4 Mins read

Sebaran virus Covid-19 menyebabkan fragmentasi juga konvergensi. Tetapi, di situasi virus yang tak menentu dan terus mewabah, ada reka ulang pikiran yang menimbulkan pertanyaan ‘skeptis’. Di manakah Tuhan dalam wabah di antara kebaikan dan keburukan? Mengapa Tuhan begitu ‘tega’ melihat umat-Nya bergolak dalam wabah dan nyaris panik karena belum adanya obat? Apakah wabah ini adalah musibah atau memang azab Tuhan?

Antara Covid-19 Kehidupan dan Kematian

Horor Covid-19 yang terus mengintimidasi, menghambat pergerakan, dan meneror kemanusiaan menyebabkan kematian berkelimpahan. Bahkan, statistik kepanikan beranjak jauh ke atas. Covid-19 telah mengistirahatkan bumi sekaligus menjadi pengkhotbah kematian, (Preiger des Todes).

Tetapi, kematian adalah hidup itu sendiri, atau hidup adalah perjalanan menuju kematian-kematian, yaitu belum mati. Dan di sana, Covid-19 menjadi suryakanta untuk menyingkap disparitas sosial dan kedalaman keagamaan manusia.

Ketimpangan yang selama ini ditutupi oleh retorika, seolah disingkap dengan jelas di depan dua mata kita. Keagamaan yang getol dipropagandakan dengan bunyi ‘mendekatkan diri/mengintimkan’ ditemukan kembali setelah lama sekali hanya didengar lewat nasihat-nasihat indah yang mengharuskan tetapi tidak digenapi. Covid-19 telah menjadi pengkhotbah yang lebih ulung dari pada pengkhotbah agama.

Kita tidak pernah menyadari bahwa Covid-19 akan bersentuhan dengan ketakutan-ketakutan dan menjadi tiran kehidupan. Dan kita tidak bisa memanipulasi dunia objektif Covid-19 dengan makna-makna subjektif dan intersubjektif. Sebagaimana kata F. Budi Hardiman, mekanisme objektif Covid-19 tidak bisa dihardik dengan mantra dan doa, seperti kita juga tidak bisa berteriak atau merayu kepada mesin motor yang mogok agar bergerak. Menganggap Covid-19 bisa disembuhkan dengan doa atau mantra semata tanpa prosedur medis adalah kesesatan logis yang sangat membahayakan.

Peran Tuhan dalam Covid-19

Begitulah garis Tuhan. Namun itu bukan kemurkaan-Nya, apalagi menganggap Tuhan kejam dan tidak lagi mengasihi. Tidak mungkin ada dua Tuhan: Tuhan baik dan Tuhan jahat. Pengandaian Tuhan baik yang menciptakan kebaikan dan kebijaksanaan dan Tuhan jahat itulah yang berperan dalam menyebarkan dahsyatnya wabah virus Covid-19 ini.

Baca Juga  Pilkada di Tengah Covid-19: Ilusi dan Dosa Sosial

Yang jelas, merebaknya virus Covid-19 ada peran antara manusia dan Tuhan. Namun bukan berarti ada Tuhan baik dan buruk. Meski Tuhan tidak menyukai keburukan, namun dengan keburukan seorang hamba akan mampu meraih kebaikan. Pun dengan kebaikan, manusia bisa juga terjerumus dalam keburukan karena tidak mampu bersyukur. Inilah keterbatasan manusia.

Ontologi Penciptaan Kebaikan dan Keburukan untuk Manusia

Allah SWT telah menegaskan dalam QS. al-A’raf ayat 168 ‘…..Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).’

Ayat ini merepresentasikan bahwa kebaikan dan keburukan bagi manusia begitu diperlukan. Meski Tuhan tidak menyukai keburukan, namun dengan keburukan manusia akan meraih kebaikan. Bilamana Tuhan hanya menciptakan kebaikan saja, tentu manusia sudah tidak pantas kita sebut sebagai manusia. Karena itu, sama halnya Tuhan hanya menciptakan laki-laki saja atau perempuan saja. Maka keduanya sangat diperlukan bagi manusia.

Ketika keburukan melanda, manusia sering mengeluh. Covid-19 sudah sekian lama tak kunjung ditemukan obatnya. Kekejaman Covid-19 sudah meruntuhkan pondasi berbagai sudut kehidupan, mulai dari ekonomi, sosial, agama bahkan dapat menggoyahkan hati sanubari manusia.

Mereka kecewa karena Tuhan begitu tega melihat hamba-Nya tertimpa wabah yang begitu brutal. Dari sini manusia diuji kesabarannya. Sebagai insan yang beriman, tentu harus memahami bahwa keburukan ini tidak lain atas kehendak Allah SWT. Dan patut kita yakini ada rahmat di balik keburukan ini. Dan bagi yang beriman akan diberi petunjuk oleh Allah, Sebagaimana yang termaktub dalam QS. at-Tagabun (64) : 11. 

Covid-19 adalah Ujian dari Tuhan

Orang muslim yang menganggap semua ini sebuah bentuk rasa benci Tuhan terhadap hambanya adalah kesalahan yang fatal. Apalagi anggapan tersebut membuat manusia kebingungan mencari Tuhannya. Adanya Covid-19 menandakan Tuhan sedang bersama hamba. Sebagaimana seorang guru ketika sedang memberikan soal kepada muridnya, tentu ia sedang bersama muridnya. Setidaknya, guru sedang bersama dengan jawaban hasil pekerjaan muridnya. Begitu pun sebelum ujian, seorang guru telah memberikan pembelajaran kepada seorang murid.

Baca Juga  Setelah Dwiwindu Bom Bali (2): Radikalisme Bisa Dirasionalkan?

Seperti seorang guru tadi yang memberikan pembelajaran kepada murid sebelum menghadapi ujian, manusia juga telah diberikan pengetahuan oleh Allah sebelum menghadapi ujian. Covid-19 merupakan sebuah ujian yang diberikan oleh Tuhan. Dan Allah telah memberikan pengetahuan sebelum memberikan ujian ini. Telah dijelaskan oleh Allah dalam QS. al-Baqarah (2) : 155, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” Maka kunci dari jawaban ujian tersebut adalah dengan bersabar.

Berpikir Jernih di Tengah Pandemi

Perlu kita ketahui bahwa wabah penyakit yang serupa Covid-19 bukanlah tragedi pertama kalinya. Kekhawatiran yang berlebihan bukanlah hal yang semestinya dikobarkan. Karena hal demikian layaknya orang jatuh dan tertimpa tangga.

Dalam catatan sejarah, telah terjadi wabah yang mencapai ratusan tahun lamanya, bahkan  menelan berjuta-juta nyawa. Dari sinilah kita harus berkaca untuk senantiasa tidak putus asa dalam menghadapinya. Jangan sampai kepanikan yang berlebihan menguasai seorang diri, karena itu akan menguras akal untuk berpikir logis dalam menggapai solusi.

Memang begitu pelik kondisi yang kini tengah terjadi. Seyogyanya sebagai insan yang yakin dan percaya bahwa Tuhan hanyalah satu, Tuhan Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang tentu akan menyikapinya dengan kasih dan sayang pula. Seorang muslim sudah semestinya mampu memahami ritus agamanya sendiri jangan terperosok dalam jurang kekafiran. Pengadzaban tentu hanya diberikan kepada umat terdahulu, yakni orang-orang kafir yang menentang Allah.

Memahami Konsep Azab Tuhan

Jika kita telaah ayat al-Quran, tidak ada ayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT akan mengazab umat Nabi Muhammad SAW. Yang ada hanyalah azab yang ditujukan kepada umat terdahulu dan di hari kiamat kelak.

Baca Juga  Influencer Masuk UMM, Peluang Membumikan Menara Gading Kampus

Dapat kita lihat dalam Surah al-‘Ankabut ayat 14, padanya diterangkan perihal azab yang diberikan kepada umat Nabi Nuh dengan banjir yang besar. Kemudian dalam Surah az-Zumar ayat 71, Allah menjelaskan siksa yang dahsyat di hari kiamat kelak. Dengan begitu, Covid-19 bukanlah azab bagi orang non-muslim maupun muslim. Lagi pula suri teladan kita Nabi Muhammad hingga sekarang masih dijunjung tinggi. Selain itu, masih bertaburan orang yang beristigfar kepada Allah SWT.

Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam Surah al-Anfal ayat 33 berikut: “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.”

Jika melihat kebutuhan manusia modern ini, kebutuhannya memang sangat beragam. Kecanggihan alat yang digunakan sehari-hari terus berkembang. Ini merupakan bentuk kecerdasan manusia yang senantiasa terus di asah.

Dengan perkembangan tersebut, maka tak heran jika berbagai penyakit baru pun bermunculan, berbeda dengan orang dahulu yang untuk makan saja sangat sederhana. Semua masih tradisional, pengobatan masih bisa secara tradisional. Hal ini tentu sangat berbeda dengan kondisi sekarang. Segala peralatan sehari-hari dengan desain modern dan serba instan. Terlebih semua itu tak luput dari bahan-bahan kimia. Maka obat tradisional sudah tak sanggup lagi untuk mengobatinya.

***

Maka dengan mewabahnya Covid-19 yang tak kunjung sirna, sebagai hamba yang beriman haruslah sabar dalam menghadapinya. Bertahan dengan senantiasa mematuhi protokol kesehatan sebagai bentuk ikhtiar dzahir kita. Serahkan kepada pihak medis dalam urusan pengobatanya.

Tidak lupa harus disandingkan dengan keyakinan bahwa musibah ini atas kehendak Allah SWT. Dengan demikian akan timbul rasa yakin bahwa di balik mala petaka ini ada rahmat dari Allah SWT. Dengan bersabar dan ikhlas maka rahmat Allah akan terwujud.

Editor: Shidqi Mukhtasor
Avatar
1 posts

About author
Mahasiswa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAIN Surakarta
Articles
    Related posts
    Essay

    LiteraTour: Membentuk Kader Perdamaian dengan Metode Literation Cycle

    4 Mins read
    Al-Qur’an merupakan pedoman ajaran agama Islam. Al-Qur’an berisikan pesan, tuntunan dan jalan terbaik dari Allah SWT yang tiada hentinya dilakukan proses telaah…
    EssayWacana

    Muhammadiyah dan Politik Keumatan

    3 Mins read
    Muhammadiyah mampu bertahan melintasi ruang dan waktu “karena mengikuti kaidah Agama Islam serta sesuai dengan harapan zaman kemajuan” (SM No 2, 1915)….
    Essay

    6 Keteladanan Sebagai Mukmin yang Harus Dibangun

    4 Mins read
    Salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia yang sekaligus menjadi perhatian besar agama Islam adalah aspek keteladanan (al-Qudwah). Bahwa dalam hidupnya manusia…

    Tinggalkan Balasan